TUJUH
Yang Tak Terduga
Satria
Hari
ini aku dimintai tolong oleh Rissa. Ia memintaku untuk datang ke rumahnya, dan
ia memintaku untuk membantuku membujuk papanya. Padahal aku tak mengenal
papanya. Aku hanya tau papanya dari cerita Rissa saja. Aku takut papa Rissa
akan menyangka aku ingin ikut campur dengan masalah keluarganya.
Aku dan
Rissa sedang menunggu om Mario di
ruang tamu. Aku berharap aku tak akan salah bicara. Dan
akhirnya om Mario datang. Kami duduk
bertiga di ruang tamu. Sebenarnya aku takut. Aku takut akan salah bicara. Aku
takut aku malah membuat masalah lebih rumit. Tapi demi Rissa aku akan berani.
Aku
mencoba berbincang sejenak. Basa basi terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba
pembicaraan kami terhenti, ketika om Mario
melihat tanda yang ada di keningku.
“Satria, itu keningnya kenapa?”
“Oh ini tanda dari lahir om. Ada apa om?”
“Om jadi ingat sesuatu.”
“Apa om?”
“Tanda yang ada di kening kamu sama seperti tanda yang ada
di punggung mamanya Rissa.”
“Yang bener om? Hanya kebetulan mungkin om.”
“Tapi om gak yakin kalau itu cuma kebetulan.”
“Maksud om?”
“Nama panjang kamu siapa?”
“Satria
Surya Pratama
om.”