LIMA
Move on
" Don't cry
because it's over. Smile because it happened.”
Dr. Seuss
‘Bangkit!!
Aku harus bangkit!!’
Tiga laki-laki yang selalu
menyemangatiku saat ini. Aku sangat beruntung bisa mengenal mereka. Tanpa
mereka mungkin aku tak akan sekuat ini. Tanpa mereka mungkin aku akan putus
asa. Dan karena mereka aku mau untuk
bangkit dan meneruskan hidupku. Tiga laki-laki itu yang membuat semangatku
bangkit.
Mereka benar, jika aku terus
terpuruk, aku takkan bisa meneruskan hidupku yang telah lama aku rangkai. Dan mungkin canvas
hidupku hanya akan terisi sampai disini jika mereka tak menyemangatiku.
Tapi aku tak tau apa pengertian
cinta. Tapi aku pernah merasakannya. Bahkan sekarang pun aku merasakannya.
Banyak orang yang mengartikan cinta. Tapi untukku cinta itu bukan untuk
didefinisikan. Tapi untuk dirasakan.
Bahkan bagiku, kita tidak akan
benar-benar merasa hidup jika kita belum merasakan cinta. Karena kita lahir
karena cinta dan untuk cinta. Aku tidak akan ada di dunia ini bila orang tuaku
tak saling cinta. Tapi hanya ada satu cinta sejati yang akan kita temui
nantinya. Dan semoga saja cinta
sejatiku itu adalah Demas.
Tapi tunggu dulu. Saat ini aku
sedang merasakan yang berbeda. Sepertinya aku cinta dua hati. Ah tapi aku tak
boleh begitu. Aku harus setia kepada Demas. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa
membohongi perasaanku.
Aku merasa nyaman jika berada
bersama Demas. Tapi aku pun merasa nyaman saat berada bersama Satria. Apa
mungkin aku mencintai Satria? Tapi aku tak boleh seperti itu. Tapi aku
MENYAYANGINYA!!!
Semoga saja sayang itu tidak akan
menjadi cinta. Karena cintaku hanya untuk Demas. Bukan untuk Satria. Demas tak
boleh tau tentang ini. Aku takut menyakiti hatinya. Aku tak ingin membuatnya
terluka. Dan aku tak ingin dia pergi
dariku. Jadi biarkan hanya aku yang mengetahui ini.
…..
Olahraga mungkin
akan membuat otakku kembali fresh.
Aku lari mengelilingi komplek perumahanku. Pagi ini ramai. Pantas saja karena
hari ini hari minggu. Banyak sekali orang disini. Dari bayi sampai nenek-nenek
ada disini. Mereka olahraga sepertiku. Tapi ada yang memberi makan hewan di
taman.
Aku melihat
sesosok wajah yang sudah sering ku lihat. Bahkan aku sayang. Tapi aku masih
ragu itu benar dia atau bukan. Aku memperhatikan wajahnya. Dan sepertinya ia tersadar sedari tadi aku
memandangnya.
“ Rissa!!” Orang itu memanggilku.
Ternyata ia memang benar mengenaliku. Dan
dugaanku benar. Itu sahabatku.
“ Hey Abrilla!! Kemana aja kamu? Meuni sombong ini yang dari Surabaya.”
“ Hahaha. Baru pulang atuh aku mah.”
“ Lama pisan atuh. Pokoknya mah oleh-oleh mah harus
ada!”
“ Tenang-tenang ada kok. Khusus
buat sahabatku tersayang.”
“ Hehehe.”
“ Oiya Ris ,
turut berduka cita ya. Maaf aku gak bisa dateng waktu itu.”
“ Iya makasih ya La. Iya gak
apa-apa kok.”
“ Tapi kamu gak apa-apa kan Ris?
Kamu baik-baik aja kan? Dan gak bunuh
diri kan?”
“ Enak aja lu!! Emangnya gue bodo
apa. Tenang ada tiga laki-laki yang nyemangatin gue.”
“ Wah bagus deh. Siapa itu?”
“ Papa, Demas, samaaaaa.” Kataku
menggoda.
“ Siapa satu laginya?”
“ Satriaaa!!”
Entah
mengapa sejak aku mengatakan kata Satria, Abrilla menjadi diam. Wajahnya
berubah tak seperti saat pertama kita bertemu. Ia menundukan wajahnya. Dan tetap terdiam. Sebenarnya ada apa. Mengapa Abrilla
seperti itu.
“ Hey kok malah diem ?!”
“ Eh engga kok gak apa-apa. Ris
aku duluan ya, harus jemput Nessa di sekolahnya.”
“ Oh iya deh. Hati-hati ya.” Aku
melambaikan tanganku. Abrilla membalasnya.
Aku
masih bingung dengan tingkah Abrilla tadi. Mengapa tiba-tiba saja ia seperti
itu. Dan seperti menyembunyikan
sesuatu. Ah tapi aku harus positive
thinking mungkin saja Illa sedang ada masalah. Tapi biasanya ia cerita
padaku. Semoga saja tak ada apa-apa.
Aku
lelah. Dan perutku sudah menyuruhku
untuk segera mengisinya.
Baiklah aku
pulang. Keburuntungan sedang berpihak padaku sepertinya. Karena saat aku sampai
di rumah, meja makan telah penuh oleh berbagai menu masakan. Sudah lama aku tak
makan di rumah setelah kepergian mama.
Tapi siapa yang telah menyiapkan semua ini?
Perutku sudah
tak sabar untuk diisi, maka langsung saja aku duduk di salah satu dari empat
kursi tersebut. Aku makan dengan lahapnya. ‘enak
sekali makanan ini’ batinku kagum. Tapi tetap tak ada yang bisa mengalahkan
dahsyatnya masakan mama.
Piringku sudah
bersih kembali. Seperti semula. Aku makan begitu lahapnya. Rejeki nomplok. Sepertinya. Kenyang. Senang rasanya saat lapar
sudah ada makanan yang tersedia. Tapi ada satu yang telah aku lupakan. Siapa
yang memasak semua masakan lezat itu?
Setauku papa tak
bisa memasak makanan selezat itu. Papa hanya bisa memasak yang mudah saja. Ah
sudah lah yang penting berutku kenyang. Perut kenyang, hati pun bahagia. Lah
apa kali ye?
“ Huuaaahhh.”
Aku mengantuk. Baru saja selesai makan, tak mungkin aku langsung merebahkan
tubuhku. Karena mama selalu melarangku jika aku tertidur setelah aku makan.
Karena itu akan menyebabkan diabetes katanya.
Dan aku percaya apa yang orang tua
beri tahu itu ada manfaatnya. Jadi aku akan tetap mengingat nasihat itu sampai
kapanpun.
Agar kantukku
hilang, aku memilih untuk bermain piano. Sepertinya jari-jariku ini butuh
latihan. Kuletakan jemariku di atas tones
pianoku. Ku tarik nafasku dalam. Dan
perlahan aku keluarkan. Satu persatu jemariku bermain dengan lincahnya. Kesana
kemari. Membuat irama yang indah. Ku nikmati alunan demi alunan irama itu.
Indah.
Aku selalu
bahagia jika jemariku sedang memainkan nada yang indah. Karena aku selalu bisa
mengingat mama. Karena mama yang mengajariku bermain piano. Dan bagaimana caranya agar jemariku lincah di atas tones piano.
Aku
masih ingat sewaktu aku SD, aku bertengkar dengan sahabatku. Pertengakaran itu
terjadi karena kesalah pahaman sahabatku terhadapku. Ia mengira aku yang
mengambil uang sakunya. Tapi itu sama sekali tidak benar. Aku tidak pernah
melakukan hal buruk seperti itu. Aku takut.
Aku
menceritakan semuanya kepada mama. Dan
mamalah yang membuat aku bisa bersabar dan tabah dalam menghadapi masalah
tersebut. Dan begitupun seterusnya.
Aku selalu menceritakan apa yang sedang terjadi padaku, dan mamalah yang
membantuku menemukan jalan keluarnya.
Air
mataku berlinang. Pikiranku melayang. Aku teringat mama. Dan
aku sangat merindukan mama. Aku rinda pelukan hangatnya. Aku rindu canda
tawanya. Aku rinda senyumnya. Dan aku
rindu petuah-petuah yang selalu mama berikan untukku.
Tanpa
kusadari, jemariku sedang memainkan sebuah lagu yang sangat mama sukai. Bunda. Lagu itu yang sangat mama sukai. Mama sering memintaku
untuk menyanyikan lagu itu. Dan aku
selalu menangis saat aku sedang menyanyikan lagu itu untuk mama.
Air
mataku terus berlinang. Dan aku
biarkan itu terjadi. Karena aku memang sangat merindukan mama. Air mata ini
yang menjadi saksi bahwa aku sangat merindukan mama.
‘Ingat Rissa
kamu harus move on. Ingat Rissa !!’
Aku teringat itu. Dengan segera ku singkirkan air mataku yang berada di pipi
merahku. Aku harus bangkit. Aku tak boleh cengeng.
Sepertinya
saat ini sudah bisa untuk aku terlelap di perbaringan. Segera aku berlari
menuju kamarku. Ku rebahkan tubuhku. Dan
aku terpejam.
Ku
panjatkan do’a disetiap tidurku. Dan
itu yang selalu mama ajarkan padaku. Katanya agar aku terlindung dari segala
bahaya. Dan agar aku mimpi indah. Dan aku percaya.
Anganku
mulai melayang. Sepertinya sedang mencari bibit untuk aku bermimpi. Mimpi
apakah aku pada tidur kali ini? Semoga saja itu mimpi indah.
….
Aku
terbangun dari tidurku yang lelap. Aku sedang mengingat mimpi aku tadi. Dan ternyata aku bermimpi tentang indahnya surga.
Meskipun itu hanya mimpi tapi aku sangat mengaguminya. Surga adalah tempat yang
sangat ingin dicapai oleh para muslimin. Karena keindahan surga beribu kali
lipat dari keindahan taman di dunia.
Semoga
aku dan keluarga akan ditempatkan pada surga. Amin.
Pikiranku
sedang mengingat sesuatu. Tapi apa itu? Aku lupa. Lupa apa yang sebenarnya
harus aku lakukan. Dan apa yang aku
tunggu. Pikiranku berputar.
Aku
ingat!! Ternyata hari ini Demas sudah janji kepadaku akan memberiku surprise.
Kemana dia? Sudah siang tapi ia belum datang juga. Sambil menunggu aku putuskan
untuk mandi dan bersiap-siap. Jika seandainya Demas datang aku sudah siap.
Hand phoneku berbunyi. Untungnya aku
sudah mandi. One message from My
everything :*. Tak sabar ku buka. Apa itu?
Selamat siang
cantikku. Udah siap untuk menyambut surprisenya ? Aku udah nunggu nih di ruang
tamu. Turun ya. Yang cantik loh jangan lupa. Hahaha.
From: my
everything : *
Demas
“I want to be the one you look for in a crowd. I want to be the one you
call when you're sad and I wanna be the one who you love.”
Unknown
Sepasang burung ingin selalu
bersama. Dan tak ingin terpisah.
Mereka akan selalu bersama bagaimanpun caranya. Dan
sekeras apapun rintangan yang mereka hadapi mereka akan selalu bisa melewati.
Begitupun
aku. Aku selalu ingin bersama pasanganku. Yang tentunya wanita yang sangat aku
cintai. Aku akan selalu bersamanya. Seberapa berat pun cobaan yang aku hadapi.
Aku akan terus berusah agar bisa selalu bersamanya.
Cintaku
sedang terkena badai. Tapi aku yakin, badai pasti berlalu. Dan saat ini aku sedang mencoba untuk kembali
membangun setelah badai itu datang. Aku sedang membangun kembali kepercayaan
Rissa terhadapku. Agar ia bisa kembali menerimaku sebagai kekasihnya.
Tentunya
aku tak ingin badai itu terulang kembali. Jadi sebisa mungkin aku
membangun bangunan yang kokoh, agar jika
suatu saat nanti badai akan datang kembali, dia tidak akan bisa menghancurkan
bangunan kokohku itu.
Begitulah
ibaratnya cintaku untuk Rissa. Aku sedang mencoba memberikan kebahagiaan
untuknya, agar kepercayaan itu hadir kembali untukku. Dan
tentunya aku tidak akan menyia-nyiakan the
second chance. Karena aku tau kesempatan kedua itu hanya muncul kepada
orang yang beruntung. Kepada orang yang ingin merubah hidupnya. From bad to good. Dan
tidak akan ada kesempatan ketiga.
Aku
menunggu sang putri tercinta. Di ruang
tamunya yang bersih, indah. Seperti pemiliknya. Menurutku Rissa
adalah istri impian. Karena ia memiliki banyak keistimewaan. Sangat beruntung
lelaki yang akan menjadi pasangannya kelak.
Rissa
cantik. Sewaktu ia bayi saja sudah terlihat bahwa ia anak yang cantik. Tapi ada
satu photo yang aku tak mengerti. Bahkan aneh menurutku. Photo keluarga Rissa.
Ayahnya menggendong bayi perempuan. Dan
ibunya menggendong bayi laki-laki.
Rissa
datang dengan wajah yang berseri. Cantik. Seperti biasanya. Memang ia selalu
terlihat cantik. Bagaimanapun ekspresi wajahnya. Ku teguhkan hatiku untuk
menanyakan hal yang aku tak mengerti.
“ Ris, boleh nanya gak?”
“ Boleh, apa?”
“ Kamu anak tunggal kan?”
“ Emang kenapa Mas?”
“ Bayi laki-laki yang papa kamu gendong itu siapa?”
“ Oh itu. Kata mama sih itu kembaran aku. Dulu mama anaknya
kembar. Aku dan bayi laki-laki itu. Tapi keluarga aku juga gak tahu dia
sekarang ada dimana. Soalnya dia diambil pembantuku waktu itu.”
“ Oh jadi kamu punya kembaran. Waahh pasti mama kamu sedih
banget saat itu.”
“ Iya pastinya mama sedih. Udah ah jangan bahas itu.”
Aku
baru tahu Rissa punya kembaran. Sepertinya kembaran Rissa tampan. Dimana ya
keberadaan laki-laki itu? Ah sudahlah.
“ Yu berangkat!”
“ Kemana?” Rissa keheranan. Ia menggaruk kepalanya yang
sebenarnya tidak gatal.
“ Kan aku janji mau ngasih kamu surprise. Udah hayu ikut
aja.” Aku menarik tangannya. Memaksanya untuk segera naik ke motorku.
Aku
akan membawanya ke sebuah tempat yang sangat indah. Yang mungkin tak pernah ia
kujungi sebelumnya. Dan aku yakin ia
akan menyukainya. Karena aku tahu apa yang ia suka. Semoga saja.
Kemacetan
selalu saja mewarnai kota ini. Untungnya aku tak memakai mobil, karena itu akan
membuat lama untuk sampai di tempat yang aku tuju. Ah semakin banyak saja
polusi di bumi ini. Sebenarnya aku sadar sejak tadi ada tangan yang melingkar
di pinggangku sejak tadi. Dan aku
sangat menikmatinya.
‘Aku tak ingin
kehilanganmu Rissa. Kau segalanya untukku. Sumpah. Aku sangat mencintaimu.
Tanpa koma. Tujuan terbesar dalam hidupku adalah bisa selalu bersamamu
selamanya sampai ajal menjemput salah satu diantara kita.’
Kami
sampai pada tempat yang kami tuju. Tapi belum sampai pada tempat yang
sebenarnya. Ini masih setengah perjalanan. Untuk mencapai tempat intinya, tidak
bisa memakai motor. Maka aku putuskan untuk menyewa sepedah. Satu saja tak
perlu dua. Agar aku bisa bersama Rissa.
“ Emang masih jauh ya harus pake sepedah segala?”
“ Iya sayang. Udah gak usah banyak protes, hayu naik.”
“ Ya deh.” Rissa memajukan bibirnya. Tandanya ia kesal.
Kakiku
perlahan mengayuh sepedah itu. Dan
tetap sama, ada tangan yang melingkar di pinggangku. Tak akan ku biarkan itu
lepas. Tangan kiriku memegang tangan yang melingkar di pinggangku. Karena aku
tak ingin itu terlepas.
Rissa
tersenyum. Sepertinya ia tau maksudku. Dengan segera ia makin mempererat peluknya.
Ku usap tangannya yang halus. Nyaman. Aku suka ini. Kami tak berbicara sepatah
katapun. Yang kami lakukan hanyalah terseyum satu sama lain. Dan biarkan hati kami yang berbicara.
Kuhentikan
laju sepedah itu. Dan
Rissa pun mengerti. Ia turun dari
duduknya yang nyaman. Lalu tersenyum padaku. Begitupun aku. Ku parkirkan
sepedah itu pada tempat yang sudah disediakan. Sepi disini.
Aku
menarik tangan sang putri. Ia mengikuti alurnya. Kami mencari tempat yang pas
untuk kami berdua. Akhirnya kami menemukan tempat yang sangat indah. Sebuah
kursi yang dikelilingi oleh ribuan bunga-bunga yang indah.
“ Indah banget disini. Aku suka banget Mas.” Rissa terlihat
sangat senang. Alhamdulillah, memang itu
yang ku mau.
“ Kamu seneng?”
“ Seneng banget Mas. Makasih ya. Kamu selalu tahu yang aku
suka.”
“ Iya dong harus. Hehehe. Sama-sama sayang.”
Kami
tertawa kecil. Bernostalgia tentang kenangan semasa kami pacaran. Sangat indah.
Tapi aku pernah membuat hidup Rissa menjadi tak indah. Sudahlah lupakan. Aku
tak ingin selalu membuat diriku terjerat dalam rasa bersalah. Yang penting aku
sedang mencoba memperbaiki semuanya.
Tangan
kananku, dan tangan kiri Rissa menyatu. Saat kami sedang asik berbincang,
datang seorang photographer. Menawarkan kami untuk photo. Kami menyetujuinya.
Photographer itu mengambil gambar kami. Kami memasang gaya yang menurut kami
paling keren.
Kami
kira itu photographer keliling yang biasanya menawarkan photo untuk dijual.
Tapi ternyata tidak. Ia adalah photographer sungguhan yang memang sedang
mencari model yang tepat untuk photonya itu. Dan
ia menemukan kami. Ia bilang kami sangat cocok. Karena itulah ia memutuskan
kami yang menjadi modelnya.
Suasana
disini sangat indah. Bersih pula. Dan segar
tentunya, karena disini banyak pepohonan yang rindang. Aku menyukai tempat ini.
Begitupun Rissa. Tempat ini menjadi tempat favorite
kami setelah bukit itu.
“ Aku mau kamu ajak aku kesini lagi nanti.” Pintanya manja.
“ Dengan senang hati tuan putri yang cantik.” Aku tersenyum.
Wajahnya memerah malu.
Kami
melanjutkan perbincangan kami. Aku sangat menikmati peristiwa yang ku alami
saat ini.
Tanpa
kami sadari ternyata butiran air hujan telah datang. Dan membasahi daerah di
sekitar kami. Aku mengajak Rissa untuk berteduh. Karena aku takut Rissa sakit
setelah ini. Tapi Rissa menolaknya. Ia ingin bermain dengan air hujan yang
sangat ia sukai. Aku tak tega jika aku harus membuat ia sedih karena ia tak
bisa dapatkan apa yang ia inginkan.
Rissa
memohon padaku untuk tetap membiarkannya. Aku ikuti maunya, tapi aku tetap
melindunginya dengan caraku. Aku membiarkannya bermain dengan air hujan. Aku
mencoba bertanya padanya mengapa ia sangat menyukai hujan.
“ Aku suka hujan karena abis hujan itu selalu ada pelangi
yang indah. Dan aku lebih bisa mengenang semua orang yang aku sayang lewat
hujan. Dan jika aku menangis dalam hujan, tidak akan ada seseorangpun yang akan
tau tentang itu. Karena air mataku tebasuh oleh air hujan. “
Sejak
saat inilah aku tahu mengapa Rissa sangat menyukai hujan. Alasannya benar. Dan
masuk akal. Jawabannya membuatku bertambah kagum padanya. Ia berputar-putar.
Sepertinya ia sangat bahagia. Ia menarik tanganku dan mengajakku untuk bermain
bersamanya. Aku menjawab ajakannya dengan senyuman. Lalu kami bermain bersama.
Tak ada
yang bisa menggantikan kebahagiaan aku bersama Rissa saat ini. memang kami
terlihat seperti anak kecil saat ini. Tapi kami tak peduli yang penting kami
berdua bahagia.
Senang
rasanya bisa melihat Rissa sebahagia ini. Dan semoga selamanya aku bisa
membuatnya bahagia seperti ini. Amin.
Tubuh Rissa
sudah benar-benar basah oleh air hujan. Aku mengajaknya pulang. Dan aku
mengantarkannya pulang.
Satria
If you truly love someone, then the only thing you want for them is to
be happy… even its not with you.
Unknown
Mungkin
saat ini Rissa sedang mencoba move on
dari masalahnya tentang kepergian bundanya. Tapi saat ini aku akan move on dari cintaku untuk Rissa. Aku
akan mencoba tak mencintainya lagi. Karena aku tak ingin merebut kebahagiaan
Rissa yang mungkin bersama Demas. Bukan bersamaku. Aku memang mencintai Rissa.
Bahkan sangat mencintainya. Tapi aku sadar aku tak boleh egois. Jangan hanya
mementingkan perasaanku. Tapi aku harus menjaga perasaan Demas dan juga Rissa.
Aku ingin menjadi orang yang dewasa.
Sometimes you love something so much that it
hurts to leave it, but you must. Sometimes it hurts too much to hold on to that
thing you love. And sometimes you let go of what you love because it hurts, but
then just sometimes... you get it back and live happily ever after.
Cinta
akan datang pada waktunya. Ia akan datang pada waktu yang tepat. Tak mengenal
malam, siang, pagi, bahkan subuh sekalipun. Cinta akan datang saat ia
benar-benar harus datang. Dan aku
percaya cintaku akan datang dengan semestinya. Tak perlu aku mencari. Cinta tak
harus memiliki. Walaupun banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya. Tapi tidak untukku.
Cinta tidak harus memiliki. Itu benar
menurutku. Karena mungkin saja Tuhan memberikan aku cinta untuk mencintai Rissa.
Tapi belum tentu Tuhan memberikan Rissa cinta untuk mencintaiku. Aku tak
boleh egois untuk memaksakan Rissa mencintaiku. Itu sulit. Jadi akan ku biarkan
Rissa mencintai orang yang ia cintai. Aku akan bahagaia melihat Rissa bahagia.
Meskipun bukan bersamaku.
Mulai
detik ini aku ingin mencoba membuang rasa cintaku untuk Rissa. Tapi aku tetap
menyayanginya. Aku akan menyayanginya seperti layaknya adik dan kakak. Aku
tidak ingin lebih dari itu. Tuhan pasti menyimpan banyak rahasia yang bahkan
luar biasa. Jadi aku yakin Tuhan telah menyiapkan seorang wanita yang
benar-benar mencintaiku.
Betapa
beruntungnya Demas bisa memiliki hati seorang Rissa. Mungkin saja aku memang
tidak ditakdirkan untuk bersama Rissa. Atau bahkan mungkin jodohku ada
didekatku. Aku akan menjadi pengagum rahasia Rissa saja. Biarkan hanya aku yang
mengetahui bahwa aku sangat menyayanginya. Aku tak ingin ada seorang pun yang
tahu.
Move on memang sulit. Sangat sulit. Tapi
aku akan mencobanya. Aku adalah seorang yang sering diminta bantuan menasihati
orang yang sedang jatuh cinta ataupun patah hati. Tapi aku sendiri tak bisa
jika harus move on dengan cepat. Step
by step. Bit by bit. Karena semua bertahap. Tak ada yang instan layaknya
memasak mie. Semua di kehidupan ini ada tahapannya.
Seperti
kita saja. Dalam kandungan bunda kita. Dilahirkan menjadi bayi. Tumbuh menjadi
anak-anak. Mulai remaja. Belajar menjadi dewasa. Dan
akhirnya menjadi tua. Tak mungkin sejak dilahirkan kita sudah menjadi remaja. Dan itulah kehidupan. Tak ada yang instan.
When I don't see you, I'm perfectly fine and
I can move on. But the second I see your face, I'm back to wishing you can be
mine. Rissa sudah menjadi bagian dari hidupku. Bagaimana aku bisa dengan
mudah melupakannya. Tapi aku tak akan melupakannya. Aku hanya mencoba untuk tak
mencintainya. Terlalu munafik jika aku ingin melupakannya. Karena memang aku
tak bisa jika tak ada Rissa. Aku tak bisa melihat Rissa bersedih. Karena Rissa
segalanya bagiku. Aku tak bisa.
Aku
harus meminta bantuan pada siapa agar aku bisa tak mencintainya lagi. Aku
bingung. Aku masih ingin mencintainya. Tapi aku tak ma uterus begini. Aku tak
akan bisa dewasa jika aku terus seperti ini.
Tiba-tiba
saja aku teringat Abrilla. Mungkin saja ia bisa membantuku. Ia orang yang
sangat ceria. Semoga saja aku bisa merasa nyaman bersamanya. Aku mencoba
menghubungi Illa. Dan untungnya aku
masih menyimpan nomor handphonenya. Aku langsung mencoba menghubunginya. Ya
berharap ia bisa membalas sms ku yang memang kukirim tengah malam begini.
Sent to: abrilla
Aku
sangat berharap Illa bisa membalas pesanku. Dan
aku sangat berharap Illa bisa membantuku. Aku menunggunya untuk membalas
pesanku.
Sudah
hampir satu jam aku menunggunya. Tapi Illa
tak membalas pesanku. Mungkin ia sudah tidur. Mataku sudah mengantuk. Dan sepertinya aku harus tidur. Semoga ada keajaiban esok
hari.
Good nightJ
Abrilla
Huuuaaahhhh!!
“Pagi
yang cerah.” Gumamku sambil mengankat kedua tanganku keatas. Seperti kucing
yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Seperti
biasa, benda pertama yang aku cari ketika aku bangun tidur adalah handphone kesayanganku. Karena aku
selalu berharap ada keajaiban yang datang disaat aku terbangun dari
tidurku. Dan
ternyata benar. Ada satu pesan baru. Entah dari siapa itu. Langsung saja kubuka
karena aku sangat penasaran siapa pengirimnya.
From: satria
Hahaha
aku tak kuasa menahan tawaku. “masih ingatkah pada diriku?” hahaha tentu saja
aku ingat. Satria. Masa saja aku tak ingat. Kontaknya saja dalam handphoneku masih tersimpan.
Waalaikumsalam. Hahaha
aneh lu kontak lu aja masih gua simpen. Masa gua lupa. Ada apa ?
Sent to: satria
13/03/11 05:02
Hehehe. Siapa tau aja
kamu udah lupa gitu :D mau minta bantuan :D boleh?
From: satria
13/03/11 05:10
Tentu boleh lah. Nanti
istirahat ketemu aja ya di kantin. ;)
Sent to: satria
13/03/11 05:13
Kira-kira
Satria akan minta bantuan apa ya?! Semoga saja aku bisa membantunya. Dan semoga ia merasa terbantu.
Ayuhan
kakiku membawaku menuju sekolah. Sepedah yang sudah lama ku punya ini setia
menemaniku kemanapun aku pergi. Bukannya aku tidak mampu untuk membeli motor.
Hanya saja aku memang sudah benar-benar cinta terhadap sepedah ini. Sayang jika
tak dipakai. Hanya akan menjadi barang lama nantinya. Sepedah juga kan tidak
menimbulkan polusi. Jadi alam bisa lebih bersih begitupun oksigennya.
Manusianya pun akan jauh lebih sehat jika semua memakai sepedah. Hanya saja
kekurangannya adalah lelah dan lama. Tidak mungkin yang bekerja di perusahaan
berangkat menggunakan sepedah, karena bajunya akan basah duluan karena
keringat. Ya tapi mungkin saja sih.
“Pagi-pagi
sudah memikirkan yang seperti itu, seperti presiden saja.” Gumamku sembari nyengir bak kuda. Mungkin jika ada orang
yang melihatku tertawa tak jelas akan mengiraku orang gila. Tapi tak apa.
Perjalananku menuju sekolah tinggal sebentar lagi. headphone yang melekat di telingaku masih setia menemaniku.
Untungnya baju seragamku tak basah karena keringat. Jika basah apalagi bau itu
bisa gawat. Ah tapi cuek sajalah.
Pelajaran
pertama sudah berlalu. Dan sekarang
adalah pelajaran kedua. Chemistry. Pelajaran kesukaannya Rissa. Dia sangat
pintar dalam pelajaran ini. Rissa yang selalu mewakili sekolah jika ada lomba
pelajaran Kimia. Ya wajar saja. Rissa pintar dalam pelajaran apapun. Matematika
dia hebat. Inggris pun sama. Biologi hebat juga. IPS, PKN, Indonesia, dan semua
pelajaran. Apalagi fisika. Tapi dia sangat tidak bisa sama pelajaran OLAHRAGA. Dan malah aku yang sangat menguasai pelajaran itu.
Memang, nobody’s perfect. Tuhan Maha
Kuasa dan Maha Adil .
Untungnya
aku mempunyai sahabat seperti Rissa, aku bisa belajar dengannya. Gratis.
Bagaikan jika kita belajar tambahan di suatu lembaga. Tapi bedanya Rissa tak
minta dibayar. Banyak juga teman-temanku yang lain meminta untuk diajarkannya.
Apalagi jika ulangan hampir tiba. Rissa seperti kebanjiran job mengajar. Dan hasilnya pun memuaskan. Aku saja sudah lumayan
hebat berkat ajaran Rissa. Sebenarnya ia cocok menjadi guru. Tapi ia sangat
ingin sekali menjadi dokter dan psikolog.
Nasehat-nasehat
Rissa sering ada benarnya. Dan
nasehatnya bisa membuat orang-orang tenang. Maka dari itu tak sedikit orang
yang meminta saran bahkan nasehat kepada Rissa. Rissa itu calon istri dan ibu
idaman. Dia mahir memasak, menjaga bayi, pokoknya semua hal keibuan.
“Sepertinya Rissa
sudah cocok menjadi ibu. Bahkan mungkin sudah siap. Hahahaha.” Ucapku dalam
hati. Dan tanpa kusadi aku telah
tertawa terbahak-bahak membayangkan itu, dan ternyata aku sudah membuat satu
ruangan hening, dan semua mata tertuju padaku. Aduh malunya aku.
“Abrilla, mengapa tertawa sendiri? Apa yang sedang kau
pikirkan?” Sepertinya
Pak Adam
marah padaku. Matanya yang bulat membuatku semakin takut.
“Eh maaf Pak, gak lagi mikirin apa-apa kok Pak, hehehe maaf
Pak.” Mukaku memerah. Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal. Sunggu
malu. Sangat malu.
“Ah
gara-gara mikirin Rissa jadi malu gini.” Gerutuku dalam hati. Dan untungnya bel istirahat sudah berbunyi. Aku
langsung menuju ke kantin, karena sedang ada yang menungguku. Dan orang itu sudah datang, ia sedang duduk,
menantiku. Mungkin. Aku hampiri dirinya.
“Hey!”
“Eh hey! Sini duduk.” Ia mempersilahkan ku duduk di
depannya.
“Iya makasih. Mau minta bantuan apa Sat?”
“Tapi kamu jangan bilang orang-orang ya. Cukup kamu aja yang
tau.”
“Iya Sat tenang aja. Ayo
cepet!”
“Gimana sih caranya move on dari seseorang yang sebenernya
kita sayang banget?”
“Aduh itu sih susah Sat, harus dari hati kamunya langsung.
Kenapa gak Tanya
Rissa aja? Dia kan hebat kalau
ngasih solusi. Siapa tau dia bisa bantu kamu.”
“Bukannya gak mau minta ke Rissa, tapi….” Ucapan Satria
terhenti sampai disitu.
“Tapi apa Sat? Cerita dulu deh biar enak.”
“Jadi gini La, saya suka sama Rissa. Bahkan saya sayang
banget sama dia. Tapi saya sadar saya tercipta bukan untuk Rissa. Jadi saya mau
move on dari dia. Kamu bisa bantuin saya gak La?”
“Emang tadi gue nanya?”
“Ih Lu La.” Satria tertawa, ia mencubit ku.
“Hehehe bercanda kok. Oh jadi gitu. Tapi saya bingung apa
yang harus saya lakuin buat bantu kamu Sat.”
“Kamu cukup temenin saya aja kok La. Biar saya bisa sedikit
demi sedikit menjalankan apa yang saya rencanakan.”
“Itu sih gampang. Ok siap.” Aku mengedipkan sebelah mataku
tanda setuju.
“Makasih ya La.”
“Sama-sama Sat.”
Aku dan
Satria berbincang banyak di kantin. Bahkan kami tertawa bersama. Dan tak terasa bel masuk pun berbunyi. Itu tandanya
aku dan Satria harus segera masuk ke kelas kami masing-masing. Lalu aku
melambaikan tanganku dan Satria membalasnya.
Aku
senang bisa membantu Satria. Semoga saja Satria akan merasa terbantu. Dan kini aku baru tau bahwa banyak yang menyukai
Rissa. Termasuk
Satria . Ya pantas saja, karena
Rissa adalah bintang di sekolah ini. ia sangat pintar dan juga cantik. Dan jabatannya menjadi ketua MPK membuatnya terlihat
sangat mempesona.
Sesosok
wanita cantik yang pintar, berkarisma dan memiliki aura yang sangat luar biasa
membuatnya menjadi wanita idaman. Jangankan dikagumi pria aku saja yang
sesamanya ingin sekali menjadi Rissa. Tapi ia pasti memiliki kelemahan. Dan kelemahannya adalah sistem imunnya yang lemah
membuatnya sering terkena penyakit. Bahkan ia menderita penyakit yang parah.
Tak
akan ada habisnya jika aku membahas tentang Rissa.
….
Sudah
satu bulan aku membantu Satria untuk move
on, dan sepertinya Satria sudah hampir bisa menyelesaikan misinya.
Alhamdulillah jika Satria bisa terbantu oleh bantuanku. Aku senang bisa
membantunya. Dan aku pun merasa
mempunyai teman dengan adanya Satria yang sering bersamaku. Aku merasa hatiku
tak kesepian lagi semenjak aku putus dari mantan pacarku.
Tapi
apa mungkin Satria adalah orang yang Tuhan kirim untukku? Satria mencintai
Rissa, not me. Tapi
Tuhan Maha
pembolak-balik hati manusia. Bisa saja Satria malah mencintai aku. Amin.
Sejak
aku dekat dengan Satria, aku menjadi semangat berangkat sekolah. Dan aku menjadi layaknya wanita tulen. Karena
biasanya aku paling malas berdiri di depan kaca untuk memoleskan bedak dan yang lainnya di wajahku, tapi
saat ini aku menjadi rajin melakukan hal itu. Sepertinya aku selalu ingin
terlihat rapi di depan Satria.
“Hahaha mungkin aku jatuh cinta pada Satria.
Aku jatuh cinta karena kedewasaanya. Aku jatuh cinta karena setiap perbuatan
yang ia lakukan. Aku jatuh cinta karena aku telah merasa nyaman bersamanya. Aku
jatuh cinta karena aku mengagumi sosok Satria. Dan
aku jatuh cinta karena cinta telah memanggilku untuk jatuh cinta. Dan aku menikmati masa-masa ini.”
Akhir-akhir
ini aku sering memikirkan Satria. Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya? “Ya
benar, aku mencintainya.”
Mencintai
seseorang itu sebenarnya tantangan. Tantangan untuk menghadapi perpisahan. Dan perpisahan adalah cobaan seberapa besar usaha
kita untuk move on. Dan setelah move
on kita akan menemukan cinta yang baru. Dan
begitulah seterusnya.
Saat
ini aku sedang mendapat tantangan, jadi aku harus mempersiapkan diriku untuk
menghadapi perpisahan. Karena perpisahan itu sangat menyakitkan. Tapi itu sudah
hukum alam. Setiap pertemuan pasti ada
perpisahan. Karena di dunia ini tak ada yang abadi.
Semoga
saja aku bisa melewati tantangan ini. Dan
semoga perpisahanku nanti akan berbuah hikmah yang sangat dahsyat untukku
dikemudian hari. Semua akan indah pada
waktunya. Aku percaya itu. Rissa yang mengajarkanku akan hal itu. Dan Rissa
telah mengajarkanku banyak hal tentang arti kehidupan. Jadi semoga saja aku
bisa tegar menghadapi semua masalahku nanti.
Demas
mencintai Rissa. Rissa pun mencintai Demas. Satria mencintai Rissa. Dan aku mencintai Satria. Semoga saja suatu saat
nanti Satria akan mencintai Abrilla. Bukan Rissa
lagi. karena biarkan Rissa dan Demas hidup bahagia. Karena mereka sangat
serasi.
“Tuhan izinkan aku
untuk mencintai Satria. Tapi jika Satria bukan untukku, tolong buang rasa ini
Tuhan. Aku hanya ingin mencintai seseorang yang juga mencintaiku. Tapi jika
Satria memang untukku tolong pelihara rasa ini. Dan
lindungi aku dari godaan setan yang terkutuk. Amin.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar