Kamis, 24 Mei 2012

novel A



LIMA
Move on
Carissa
                " Don't cry because it's over. Smile because it happened.”
Dr. Seuss

‘Bangkit!! Aku harus bangkit!!’
Tiga laki-laki yang selalu menyemangatiku saat ini. Aku sangat beruntung bisa mengenal mereka. Tanpa mereka mungkin aku tak akan sekuat ini. Tanpa mereka mungkin aku akan putus asa. Dan karena mereka aku mau untuk bangkit dan meneruskan hidupku. Tiga laki-laki itu yang membuat semangatku bangkit.
Mereka benar, jika aku terus terpuruk, aku takkan bisa meneruskan hidupku yang telah lama aku rangkai. Dan mungkin canvas hidupku hanya akan terisi sampai disini jika mereka tak menyemangatiku.
Dan ada satu lagi yang membuatku bertahan sampai saat ini. CINTA. Ya karena cinta aku bertahan. Karena cinta papa dan cinta Demas yang membuatku bertahan. Cinta memang dahsyat. Sedahsyat apapun itu. Cinta bisa merubah semuanya.
Tapi aku tak tau apa pengertian cinta. Tapi aku pernah merasakannya. Bahkan sekarang pun aku merasakannya. Banyak orang yang mengartikan cinta. Tapi untukku cinta itu bukan untuk didefinisikan. Tapi untuk dirasakan.
Bahkan bagiku, kita tidak akan benar-benar merasa hidup jika kita belum merasakan cinta. Karena kita lahir karena cinta dan untuk cinta. Aku tidak akan ada di dunia ini bila orang tuaku tak saling cinta. Tapi hanya ada satu cinta sejati yang akan kita temui nantinya. Dan semoga saja cinta sejatiku itu adalah Demas.
Tapi tunggu dulu. Saat ini aku sedang merasakan yang berbeda. Sepertinya aku cinta dua hati. Ah tapi aku tak boleh begitu. Aku harus setia kepada Demas. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa membohongi perasaanku.
Aku merasa nyaman jika berada bersama Demas. Tapi aku pun merasa nyaman saat berada bersama Satria. Apa mungkin aku mencintai Satria? Tapi aku tak boleh seperti itu. Tapi aku MENYAYANGINYA!!!
Semoga saja sayang itu tidak akan menjadi cinta. Karena cintaku hanya untuk Demas. Bukan untuk Satria. Demas tak boleh tau tentang ini. Aku takut menyakiti hatinya. Aku tak ingin membuatnya terluka. Dan aku tak ingin dia pergi dariku. Jadi biarkan hanya aku yang mengetahui ini.

…..
Olahraga mungkin akan membuat otakku kembali fresh. Aku lari mengelilingi komplek perumahanku. Pagi ini ramai. Pantas saja karena hari ini hari minggu. Banyak sekali orang disini. Dari bayi sampai nenek-nenek ada disini. Mereka olahraga sepertiku. Tapi ada yang memberi makan hewan di taman.
Aku melihat sesosok wajah yang sudah sering ku lihat. Bahkan aku sayang. Tapi aku masih ragu itu benar dia atau bukan. Aku memperhatikan wajahnya. Dan sepertinya ia tersadar sedari tadi aku memandangnya.
“ Rissa!!” Orang itu memanggilku. Ternyata ia memang benar mengenaliku. Dan dugaanku benar. Itu sahabatku.
“ Hey Abrilla!! Kemana aja kamu? Meuni sombong ini yang dari Surabaya.”
“ Hahaha. Baru pulang atuh aku mah.”
Lama pisan atuh. Pokoknya mah oleh-oleh mah harus ada!”
“ Tenang-tenang ada kok. Khusus buat sahabatku tersayang.”
“ Hehehe.”
Oiya Ris, turut berduka cita ya. Maaf aku gak bisa dateng waktu itu.”
“ Iya makasih ya La. Iya gak apa-apa kok.”
“ Tapi kamu gak apa-apa kan Ris? Kamu baik-baik aja kan? Dan gak bunuh diri kan?”
“ Enak aja lu!! Emangnya gue bodo apa. Tenang ada tiga laki-laki yang nyemangatin gue.”
“ Wah bagus deh. Siapa itu?”
“ Papa, Demas, samaaaaa.” Kataku menggoda.
“ Siapa satu laginya?”
“ Satriaaa!!”
                Entah mengapa sejak aku mengatakan kata Satria, Abrilla menjadi diam. Wajahnya berubah tak seperti saat pertama kita bertemu. Ia menundukan wajahnya. Dan tetap terdiam. Sebenarnya ada apa. Mengapa Abrilla seperti itu.
“ Hey kok malah diem?!”
“ Eh engga kok gak apa-apa. Ris aku duluan ya, harus jemput Nessa di sekolahnya.”
“ Oh iya deh. Hati-hati ya.” Aku melambaikan tanganku. Abrilla membalasnya.
                Aku masih bingung dengan tingkah Abrilla tadi. Mengapa tiba-tiba saja ia seperti itu. Dan seperti menyembunyikan sesuatu. Ah tapi aku harus positive thinking mungkin saja Illa sedang ada masalah. Tapi biasanya ia cerita padaku. Semoga saja tak ada apa-apa.
                Aku lelah. Dan perutku sudah menyuruhku untuk segera mengisinya.
Baiklah aku pulang. Keburuntungan sedang berpihak padaku sepertinya. Karena saat aku sampai di rumah, meja makan telah penuh oleh berbagai menu masakan. Sudah lama aku tak makan  di rumah setelah kepergian mama. Tapi siapa yang telah menyiapkan semua ini?
Perutku sudah tak sabar untuk diisi, maka langsung saja aku duduk di salah satu dari empat kursi tersebut. Aku makan dengan lahapnya. ‘enak sekali makanan ini’ batinku kagum. Tapi tetap tak ada yang bisa mengalahkan dahsyatnya masakan mama.
Piringku sudah bersih kembali. Seperti semula. Aku makan begitu lahapnya. Rejeki nomplok. Sepertinya. Kenyang. Senang rasanya saat lapar sudah ada makanan yang tersedia. Tapi ada satu yang telah aku lupakan. Siapa yang memasak semua masakan lezat itu?
Setauku papa tak bisa memasak makanan selezat itu. Papa hanya bisa memasak yang mudah saja. Ah sudah lah yang penting berutku kenyang. Perut kenyang, hati pun bahagia. Lah apa kali ye?
“ Huuaaahhh.” Aku mengantuk. Baru saja selesai makan, tak mungkin aku langsung merebahkan tubuhku. Karena mama selalu melarangku jika aku tertidur setelah aku makan. Karena itu akan menyebabkan diabetes katanya. Dan aku percaya apa yang orang tua beri tahu itu ada manfaatnya. Jadi aku akan tetap mengingat nasihat itu sampai kapanpun.
Agar kantukku hilang, aku memilih untuk bermain piano. Sepertinya jari-jariku ini butuh latihan. Kuletakan jemariku di atas tones pianoku. Ku tarik nafasku dalam. Dan perlahan aku keluarkan. Satu persatu jemariku bermain dengan lincahnya. Kesana kemari. Membuat irama yang indah. Ku nikmati alunan demi alunan irama itu. Indah.
Aku selalu bahagia jika jemariku sedang memainkan nada yang indah. Karena aku selalu bisa mengingat mama. Karena mama yang mengajariku bermain piano. Dan bagaimana caranya agar jemariku lincah di atas tones piano.
Mama selalu mengajariku segala hal. Dari hal yang paling sederhana sampai hal yang sangat istimewa. Aku mengagumi mama. Sangat mengaguminya. Mama bisa segala hal. Dan yang paling aku kagumi adalah mama bisa mengatasi masalahnya dengan sabar. Kesabaran dan senyumnya yang membuatku sangat kagum padanya.
                Aku masih ingat sewaktu aku SD, aku bertengkar dengan sahabatku. Pertengakaran itu terjadi karena kesalah pahaman sahabatku terhadapku. Ia mengira aku yang mengambil uang sakunya. Tapi itu sama sekali tidak benar. Aku tidak pernah melakukan hal buruk seperti itu. Aku takut.
                Aku menceritakan semuanya kepada mama. Dan mamalah yang membuat aku bisa bersabar dan tabah dalam menghadapi masalah tersebut. Dan begitupun seterusnya. Aku selalu menceritakan apa yang sedang terjadi padaku, dan mamalah yang membantuku menemukan jalan keluarnya.
                Air mataku berlinang. Pikiranku melayang. Aku teringat mama. Dan aku sangat merindukan mama. Aku rinda pelukan hangatnya. Aku rindu canda tawanya. Aku rinda senyumnya. Dan aku rindu petuah-petuah yang selalu mama berikan untukku.
                Tanpa kusadari, jemariku sedang memainkan sebuah lagu yang sangat mama sukai. Bunda. Lagu itu yang sangat mama sukai. Mama sering memintaku untuk menyanyikan lagu itu. Dan aku selalu menangis saat aku sedang menyanyikan lagu itu untuk mama.
                Air mataku terus berlinang. Dan aku biarkan itu terjadi. Karena aku memang sangat merindukan mama. Air mata ini yang menjadi saksi bahwa aku sangat merindukan mama.
                ‘Ingat Rissa kamu harus move on. Ingat Rissa!!’ Aku teringat itu. Dengan segera ku singkirkan air mataku yang berada di pipi merahku. Aku harus bangkit. Aku tak boleh cengeng.
                Sepertinya saat ini sudah bisa untuk aku terlelap di perbaringan. Segera aku berlari menuju kamarku. Ku rebahkan tubuhku. Dan aku terpejam.
                Ku panjatkan do’a disetiap tidurku. Dan itu yang selalu mama ajarkan padaku. Katanya agar aku terlindung dari segala bahaya. Dan agar aku mimpi indah. Dan aku percaya.
                Anganku mulai melayang. Sepertinya sedang mencari bibit untuk aku bermimpi. Mimpi apakah aku pada tidur kali ini? Semoga saja itu mimpi indah.
….

                Aku terbangun dari tidurku yang lelap. Aku sedang mengingat mimpi aku tadi. Dan ternyata aku bermimpi tentang indahnya surga. Meskipun itu hanya mimpi tapi aku sangat mengaguminya. Surga adalah tempat yang sangat ingin dicapai oleh para muslimin. Karena keindahan surga beribu kali lipat dari keindahan taman di dunia.
                Semoga aku dan keluarga akan ditempatkan pada surga. Amin.
                Pikiranku sedang mengingat sesuatu. Tapi apa itu? Aku lupa. Lupa apa yang sebenarnya harus aku lakukan. Dan apa yang aku tunggu. Pikiranku berputar.
                Aku ingat!! Ternyata hari ini Demas sudah janji kepadaku akan memberiku surprise. Kemana dia? Sudah siang tapi ia belum datang juga. Sambil menunggu aku putuskan untuk mandi dan bersiap-siap. Jika seandainya Demas datang aku sudah siap.
                Hand phoneku berbunyi. Untungnya aku sudah mandi. One message from My everything :*. Tak sabar ku buka. Apa itu?
Selamat siang cantikku. Udah siap untuk menyambut surprisenya ? Aku udah nunggu nih di ruang tamu. Turun ya. Yang cantik loh jangan lupa. Hahaha.
From: my everything :*
12/03/11 13:02
Demas
“I want to be the one you look for in a crowd. I want to be the one you call when you're sad and I wanna be the one who you love.”
Unknown

Sepasang burung ingin selalu bersama. Dan tak ingin terpisah. Mereka akan selalu bersama bagaimanpun caranya. Dan sekeras apapun rintangan yang mereka hadapi mereka akan selalu bisa melewati.
                Begitupun aku. Aku selalu ingin bersama pasanganku. Yang tentunya wanita yang sangat aku cintai. Aku akan selalu bersamanya. Seberapa berat pun cobaan yang aku hadapi. Aku akan terus berusah agar bisa selalu bersamanya.
                Cintaku sedang terkena badai. Tapi aku yakin, badai pasti berlalu. Dan saat ini aku sedang mencoba untuk kembali membangun setelah badai itu datang. Aku sedang membangun kembali kepercayaan Rissa terhadapku. Agar ia bisa kembali menerimaku sebagai kekasihnya.
                Tentunya aku tak ingin badai itu terulang kembali. Jadi sebisa mungkin aku membangun  bangunan yang kokoh, agar jika suatu saat nanti badai akan datang kembali, dia tidak akan bisa menghancurkan bangunan kokohku itu.
                Begitulah ibaratnya cintaku untuk Rissa. Aku sedang mencoba memberikan kebahagiaan untuknya, agar kepercayaan itu hadir kembali untukku. Dan tentunya aku tidak akan menyia-nyiakan the second chance. Karena aku tau kesempatan kedua itu hanya muncul kepada orang yang beruntung. Kepada orang yang ingin merubah hidupnya. From bad to good. Dan tidak akan ada kesempatan ketiga.
                Aku menunggu sang putri tercinta. Di ruang tamunya yang bersih, indah. Seperti pemiliknya. Menurutku Rissa adalah istri impian. Karena ia memiliki banyak keistimewaan. Sangat beruntung lelaki yang akan menjadi pasangannya kelak.
                Di ruang tamunya, ku temukan banyak photo Rissa sewaktu kecil. Dari ia bayi sampai dewasa pun ada. Mungkin karena Rissa anak tunggal. Jadi semuanya serba Rissa.
                Rissa cantik. Sewaktu ia bayi saja sudah terlihat bahwa ia anak yang cantik. Tapi ada satu photo yang aku tak mengerti. Bahkan aneh menurutku. Photo keluarga Rissa. Ayahnya menggendong bayi perempuan. Dan ibunya menggendong bayi laki-laki.
                Setahuku Rissa anak tunggal. Lalu siapa bayi laki-laki itu? Aku berniat untuk menanyakan pada Rissa, siapa bayi laki-laki itu?.
                Rissa datang dengan wajah yang berseri. Cantik. Seperti biasanya. Memang ia selalu terlihat cantik. Bagaimanapun ekspresi wajahnya. Ku teguhkan hatiku untuk menanyakan hal yang aku tak mengerti.
“ Ris, boleh nanya gak?”
“ Boleh, apa?”
“ Kamu anak tunggal kan?”
“ Emang kenapa Mas?”
“ Bayi laki-laki yang papa kamu gendong itu siapa?”
“ Oh itu. Kata mama sih itu kembaran aku. Dulu mama anaknya kembar. Aku dan bayi laki-laki itu. Tapi keluarga aku juga gak tahu dia sekarang ada dimana. Soalnya dia diambil pembantuku waktu itu.”
“ Oh jadi kamu punya kembaran. Waahh pasti mama kamu sedih banget saat itu.”
“ Iya pastinya mama sedih. Udah ah jangan bahas itu.”
                Aku baru tahu Rissa punya kembaran. Sepertinya kembaran Rissa tampan. Dimana ya keberadaan laki-laki itu? Ah sudahlah.
“ Yu berangkat!”
“ Kemana?” Rissa keheranan. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“ Kan aku janji mau ngasih kamu surprise. Udah hayu ikut aja.” Aku menarik tangannya. Memaksanya untuk segera naik ke motorku.
                Aku akan membawanya ke sebuah tempat yang sangat indah. Yang mungkin tak pernah ia kujungi sebelumnya. Dan aku yakin ia akan menyukainya. Karena aku tahu apa yang ia suka. Semoga saja.
                Kemacetan selalu saja mewarnai kota ini. Untungnya aku tak memakai mobil, karena itu akan membuat lama untuk sampai di tempat yang aku tuju. Ah semakin banyak saja polusi di bumi ini. Sebenarnya aku sadar sejak tadi ada tangan yang melingkar di pinggangku sejak tadi. Dan aku sangat menikmatinya.
Aku tak ingin kehilanganmu Rissa. Kau segalanya untukku. Sumpah. Aku sangat mencintaimu. Tanpa koma. Tujuan terbesar dalam hidupku adalah bisa selalu bersamamu selamanya sampai ajal menjemput salah satu diantara kita.’
                Kami sampai pada tempat yang kami tuju. Tapi belum sampai pada tempat yang sebenarnya. Ini masih setengah perjalanan. Untuk mencapai tempat intinya, tidak bisa memakai motor. Maka aku putuskan untuk menyewa sepedah. Satu saja tak perlu dua. Agar aku bisa bersama Rissa.
“ Emang masih jauh ya harus pake sepedah segala?”
“ Iya sayang. Udah gak usah banyak protes, hayu naik.”
“ Ya deh.” Rissa memajukan bibirnya. Tandanya ia kesal.
                Kakiku perlahan mengayuh sepedah itu. Dan tetap sama, ada tangan yang melingkar di pinggangku. Tak akan ku biarkan itu lepas. Tangan kiriku memegang tangan yang melingkar di pinggangku. Karena aku tak ingin itu terlepas.
                Rissa tersenyum. Sepertinya ia tau maksudku. Dengan segera ia makin mempererat peluknya. Ku usap tangannya yang halus. Nyaman. Aku suka ini. Kami tak berbicara sepatah katapun. Yang kami lakukan hanyalah terseyum satu sama lain. Dan biarkan hati kami yang berbicara.
                Kuhentikan laju sepedah itu. Dan Rissa pun mengerti. Ia turun dari duduknya yang nyaman. Lalu tersenyum padaku. Begitupun aku. Ku parkirkan sepedah itu pada tempat yang sudah disediakan. Sepi disini.
                Aku menarik tangan sang putri. Ia mengikuti alurnya. Kami mencari tempat yang pas untuk kami berdua. Akhirnya kami menemukan tempat yang sangat indah. Sebuah kursi yang dikelilingi oleh ribuan bunga-bunga yang indah.
“ Indah banget disini. Aku suka banget Mas.” Rissa terlihat sangat senang. Alhamdulillah, memang itu  yang ku mau.
“ Kamu seneng?”
“ Seneng banget Mas. Makasih ya. Kamu selalu tahu yang aku suka.”
“ Iya dong harus. Hehehe. Sama-sama sayang.”
                Kami tertawa kecil. Bernostalgia tentang kenangan semasa kami pacaran. Sangat indah. Tapi aku pernah membuat hidup Rissa menjadi tak indah. Sudahlah lupakan. Aku tak ingin selalu membuat diriku terjerat dalam rasa bersalah. Yang penting aku sedang mencoba memperbaiki semuanya.
                Tangan kananku, dan tangan kiri Rissa menyatu. Saat kami sedang asik berbincang, datang seorang photographer. Menawarkan kami untuk photo. Kami menyetujuinya. Photographer itu mengambil gambar kami. Kami memasang gaya yang menurut kami paling keren.
                Kami kira itu photographer keliling yang biasanya menawarkan photo untuk dijual. Tapi ternyata tidak. Ia adalah photographer sungguhan yang memang sedang mencari model yang tepat untuk photonya itu. Dan ia menemukan kami. Ia bilang kami sangat cocok. Karena itulah ia memutuskan kami yang menjadi modelnya.
                Suasana disini sangat indah. Bersih pula. Dan segar tentunya, karena disini banyak pepohonan yang rindang. Aku menyukai tempat ini. Begitupun Rissa. Tempat ini menjadi tempat favorite kami setelah bukit itu.
“ Aku mau kamu ajak aku kesini lagi nanti.” Pintanya manja.
“ Dengan senang hati tuan putri yang cantik.” Aku tersenyum. Wajahnya memerah malu.
                Kami melanjutkan perbincangan kami. Aku sangat menikmati peristiwa yang ku alami saat ini.
                Tanpa kami sadari ternyata butiran air hujan telah datang. Dan membasahi daerah di sekitar kami. Aku mengajak Rissa untuk berteduh. Karena aku takut Rissa sakit setelah ini. Tapi Rissa menolaknya. Ia ingin bermain dengan air hujan yang sangat ia sukai. Aku tak tega jika aku harus membuat ia sedih karena ia tak bisa dapatkan apa yang ia inginkan.
                Rissa memohon padaku untuk tetap membiarkannya. Aku ikuti maunya, tapi aku tetap melindunginya dengan caraku. Aku membiarkannya bermain dengan air hujan. Aku mencoba bertanya padanya mengapa ia sangat menyukai hujan.
“ Aku suka hujan karena abis hujan itu selalu ada pelangi yang indah. Dan aku lebih bisa mengenang semua orang yang aku sayang lewat hujan. Dan jika aku menangis dalam hujan, tidak akan ada seseorangpun yang akan tau tentang itu. Karena air mataku tebasuh oleh air hujan. “
                Sejak saat inilah aku tahu mengapa Rissa sangat menyukai hujan. Alasannya benar. Dan masuk akal. Jawabannya membuatku bertambah kagum padanya. Ia berputar-putar. Sepertinya ia sangat bahagia. Ia menarik tanganku dan mengajakku untuk bermain bersamanya. Aku menjawab ajakannya dengan senyuman. Lalu kami bermain bersama.
                Tak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan aku bersama Rissa saat ini. memang kami terlihat seperti anak kecil saat ini. Tapi kami tak peduli yang penting kami berdua bahagia.
                Senang rasanya bisa melihat Rissa sebahagia ini. Dan semoga selamanya aku bisa membuatnya bahagia seperti ini. Amin.
                Tubuh Rissa sudah benar-benar basah oleh air hujan. Aku mengajaknya pulang. Dan aku mengantarkannya pulang.













Satria
If you truly love someone, then the only thing you want for them is to be happy… even its not with you.
Unknown

                Mungkin saat ini Rissa sedang mencoba move on dari masalahnya tentang kepergian bundanya. Tapi saat ini aku akan move on dari cintaku untuk Rissa. Aku akan mencoba tak mencintainya lagi. Karena aku tak ingin merebut kebahagiaan Rissa yang mungkin bersama Demas. Bukan bersamaku. Aku memang mencintai Rissa. Bahkan sangat mencintainya. Tapi aku sadar aku tak boleh egois. Jangan hanya mementingkan perasaanku. Tapi aku harus menjaga perasaan Demas dan juga Rissa. Aku ingin menjadi orang yang dewasa.
                Sometimes you love something so much that it hurts to leave it, but you must. Sometimes it hurts too much to hold on to that thing you love. And sometimes you let go of what you love because it hurts, but then just sometimes... you get it back and live happily ever after.
                Cinta akan datang pada waktunya. Ia akan datang pada waktu yang tepat. Tak mengenal malam, siang, pagi, bahkan subuh sekalipun. Cinta akan datang saat ia benar-benar harus datang. Dan aku percaya cintaku akan datang dengan semestinya. Tak perlu aku mencari. Cinta tak harus memiliki. Walaupun banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya. Tapi tidak untukku.
                Cinta tidak harus memiliki. Itu benar menurutku. Karena mungkin saja Tuhan memberikan aku cinta untuk mencintai Rissa. Tapi belum tentu Tuhan memberikan Rissa cinta untuk mencintaiku. Aku tak boleh egois untuk memaksakan Rissa mencintaiku. Itu sulit. Jadi akan ku biarkan Rissa mencintai orang yang ia cintai. Aku akan bahagaia melihat Rissa bahagia. Meskipun bukan bersamaku.
                Mulai detik ini aku ingin mencoba membuang rasa cintaku untuk Rissa. Tapi aku tetap menyayanginya. Aku akan menyayanginya seperti layaknya adik dan kakak. Aku tidak ingin lebih dari itu. Tuhan pasti menyimpan banyak rahasia yang bahkan luar biasa. Jadi aku yakin Tuhan telah menyiapkan seorang wanita yang benar-benar mencintaiku.
                Betapa beruntungnya Demas bisa memiliki hati seorang Rissa. Mungkin saja aku memang tidak ditakdirkan untuk bersama Rissa. Atau bahkan mungkin jodohku ada didekatku. Aku akan menjadi pengagum rahasia Rissa saja. Biarkan hanya aku yang mengetahui bahwa aku sangat menyayanginya. Aku tak ingin ada seorang pun yang tahu.
                Move on memang sulit. Sangat sulit. Tapi aku akan mencobanya. Aku adalah seorang yang sering diminta bantuan menasihati orang yang sedang jatuh cinta ataupun patah hati. Tapi aku sendiri tak bisa jika harus move on dengan cepat. Step by step. Bit by bit. Karena semua bertahap. Tak ada yang instan layaknya memasak mie. Semua di kehidupan ini ada tahapannya.
                Seperti kita saja. Dalam kandungan bunda kita. Dilahirkan menjadi bayi. Tumbuh menjadi anak-anak. Mulai remaja. Belajar menjadi dewasa. Dan akhirnya menjadi tua. Tak mungkin sejak dilahirkan kita sudah menjadi remaja. Dan itulah kehidupan. Tak ada yang instan.
                When I don't see you, I'm perfectly fine and I can move on. But the second I see your face, I'm back to wishing you can be mine. Rissa sudah menjadi bagian dari hidupku. Bagaimana aku bisa dengan mudah melupakannya. Tapi aku tak akan melupakannya. Aku hanya mencoba untuk tak mencintainya. Terlalu munafik jika aku ingin melupakannya. Karena memang aku tak bisa jika tak ada Rissa. Aku tak bisa melihat Rissa bersedih. Karena Rissa segalanya bagiku. Aku tak bisa.
                Aku harus meminta bantuan pada siapa agar aku bisa tak mencintainya lagi. Aku bingung. Aku masih ingin mencintainya. Tapi aku tak ma uterus begini. Aku tak akan bisa dewasa jika aku terus seperti ini.
                Tiba-tiba saja aku teringat Abrilla. Mungkin saja ia bisa membantuku. Ia orang yang sangat ceria. Semoga saja aku bisa merasa nyaman bersamanya. Aku mencoba menghubungi Illa. Dan untungnya aku masih menyimpan nomor handphonenya.  Aku langsung mencoba menghubunginya. Ya berharap ia bisa membalas sms ku yang memang kukirim tengah malam begini.
Assalamualaikum Abrilla J maaf menggangu. Masih ingatkan pada diriku? :D
Sent to: abrilla
12/03/11 00:10
                Aku sangat berharap Illa bisa membalas pesanku. Dan aku sangat berharap Illa bisa membantuku. Aku menunggunya untuk membalas pesanku.
                Sudah hampir satu jam aku menunggunya. Tapi Illa tak membalas pesanku. Mungkin ia sudah tidur. Mataku sudah mengantuk. Dan sepertinya aku harus tidur. Semoga ada keajaiban esok hari.
Good nightJ








Abrilla
Huuuaaahhhh!!
                “Pagi yang cerah.” Gumamku sambil mengankat kedua tanganku keatas. Seperti kucing yang baru saja terbangun dari tidurnya.
                Seperti biasa, benda pertama yang aku cari ketika aku bangun tidur adalah handphone kesayanganku. Karena aku selalu berharap ada keajaiban yang datang disaat aku terbangun dari tidurku.  Dan ternyata benar. Ada satu pesan baru. Entah dari siapa itu. Langsung saja kubuka karena aku sangat penasaran siapa pengirimnya.
Assalamualaikum Abrilla J maaf menggangu. Masih ingatkan pada diriku? :D
From: satria
12/03/11 00:10
                Hahaha aku tak kuasa menahan tawaku. “masih ingatkah pada diriku?” hahaha tentu saja aku ingat. Satria. Masa saja aku tak ingat. Kontaknya saja dalam handphoneku masih tersimpan.
Waalaikumsalam. Hahaha aneh lu kontak lu aja masih gua simpen. Masa gua lupa. Ada apa ?
Sent to: satria
13/03/11 05:02
Hehehe. Siapa tau aja kamu udah lupa gitu :D mau minta bantuan :D boleh?
From: satria
13/03/11 05:10
Tentu boleh lah. Nanti istirahat ketemu aja ya di kantin. ;)
Sent to: satria
13/03/11 05:13
                Kira-kira Satria akan minta bantuan apa ya?! Semoga saja aku bisa membantunya. Dan semoga ia merasa terbantu.
                Ayuhan kakiku membawaku menuju sekolah. Sepedah yang sudah lama ku punya ini setia menemaniku kemanapun aku pergi. Bukannya aku tidak mampu untuk membeli motor. Hanya saja aku memang sudah benar-benar cinta terhadap sepedah ini. Sayang jika tak dipakai. Hanya akan menjadi barang lama nantinya. Sepedah juga kan tidak menimbulkan polusi. Jadi alam bisa lebih bersih begitupun oksigennya. Manusianya pun akan jauh lebih sehat jika semua memakai sepedah. Hanya saja kekurangannya adalah lelah dan lama. Tidak mungkin yang bekerja di perusahaan berangkat menggunakan sepedah, karena bajunya akan basah duluan karena keringat. Ya tapi mungkin saja sih.
                “Pagi-pagi sudah memikirkan yang seperti itu, seperti presiden saja.” Gumamku sembari nyengir bak kuda. Mungkin jika ada orang yang melihatku tertawa tak jelas akan mengiraku orang gila. Tapi tak apa. Perjalananku menuju sekolah tinggal sebentar lagi. headphone yang melekat di telingaku masih setia menemaniku. Untungnya baju seragamku tak basah karena keringat. Jika basah apalagi bau itu bisa gawat. Ah tapi cuek sajalah.
                Pelajaran pertama sudah berlalu. Dan sekarang adalah pelajaran kedua. Chemistry. Pelajaran kesukaannya Rissa. Dia sangat pintar dalam pelajaran ini. Rissa yang selalu mewakili sekolah jika ada lomba pelajaran Kimia. Ya wajar saja. Rissa pintar dalam pelajaran apapun. Matematika dia hebat. Inggris pun sama. Biologi hebat juga. IPS, PKN, Indonesia, dan semua pelajaran. Apalagi fisika. Tapi dia sangat tidak bisa sama pelajaran OLAHRAGA. Dan malah aku yang sangat menguasai pelajaran itu. Memang, nobody’s perfect. Tuhan Maha Kuasa dan Maha Adil.
                Untungnya aku mempunyai sahabat seperti Rissa, aku bisa belajar dengannya. Gratis. Bagaikan jika kita belajar tambahan di suatu lembaga. Tapi bedanya Rissa tak minta dibayar. Banyak juga teman-temanku yang lain meminta untuk diajarkannya. Apalagi jika ulangan hampir tiba. Rissa seperti kebanjiran job mengajar. Dan hasilnya pun memuaskan. Aku saja sudah lumayan hebat berkat ajaran Rissa. Sebenarnya ia cocok menjadi guru. Tapi ia sangat ingin sekali menjadi dokter dan psikolog.
                Nasehat-nasehat Rissa sering ada benarnya. Dan nasehatnya bisa membuat orang-orang tenang. Maka dari itu tak sedikit orang yang meminta saran bahkan nasehat kepada Rissa. Rissa itu calon istri dan ibu idaman. Dia mahir memasak, menjaga bayi, pokoknya semua hal keibuan.
                “Sepertinya Rissa sudah cocok menjadi ibu. Bahkan mungkin sudah siap. Hahahaha.” Ucapku dalam hati. Dan tanpa kusadi aku telah tertawa terbahak-bahak membayangkan itu, dan ternyata aku sudah membuat satu ruangan hening, dan semua mata tertuju padaku. Aduh malunya aku.
“Abrilla, mengapa tertawa sendiri? Apa yang sedang kau pikirkan?” Sepertinya Pak Adam marah padaku. Matanya yang bulat membuatku semakin takut.
“Eh maaf Pak, gak lagi mikirin apa-apa kok Pak, hehehe maaf Pak.” Mukaku memerah. Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal. Sunggu malu. Sangat malu.
                “Ah gara-gara mikirin Rissa jadi malu gini.” Gerutuku dalam hati. Dan untungnya bel istirahat sudah berbunyi. Aku langsung menuju ke kantin, karena sedang ada yang menungguku. Dan orang itu sudah datang, ia sedang duduk, menantiku. Mungkin. Aku hampiri dirinya.
“Hey!”
“Eh hey! Sini duduk.” Ia mempersilahkan ku duduk di depannya.
“Iya makasih. Mau minta bantuan apa Sat?”
“Tapi kamu jangan bilang orang-orang ya. Cukup kamu aja yang tau.”
“Iya Sat tenang aja. Ayo cepet!”
“Gimana sih caranya move on dari seseorang yang sebenernya kita sayang banget?”
“Aduh itu sih susah Sat, harus dari hati kamunya langsung. Kenapa gak Tanya Rissa aja? Dia kan hebat kalau ngasih solusi. Siapa tau dia bisa bantu kamu.”
“Bukannya gak mau minta ke Rissa, tapi….” Ucapan Satria terhenti sampai disitu.
“Tapi apa Sat? Cerita dulu deh biar enak.”
“Jadi gini La, saya suka sama Rissa. Bahkan saya sayang banget sama dia. Tapi saya sadar saya tercipta bukan untuk Rissa. Jadi saya mau move on dari dia. Kamu bisa bantuin saya gak La?”
“Emang tadi gue nanya?”
“Ih Lu La.” Satria tertawa, ia mencubit ku.
“Hehehe bercanda kok. Oh jadi gitu. Tapi saya bingung apa yang harus saya lakuin buat bantu kamu Sat.”
“Kamu cukup temenin saya aja kok La. Biar saya bisa sedikit demi sedikit menjalankan apa yang saya rencanakan.”
“Itu sih gampang. Ok siap.” Aku mengedipkan sebelah mataku tanda setuju.
“Makasih ya La.”
“Sama-sama Sat.”
                Aku dan Satria berbincang banyak di kantin. Bahkan kami tertawa bersama. Dan tak terasa bel masuk pun berbunyi. Itu tandanya aku dan Satria harus segera masuk ke kelas kami masing-masing. Lalu aku melambaikan tanganku dan Satria membalasnya.
                Aku senang bisa membantu Satria. Semoga saja Satria akan merasa terbantu. Dan kini aku baru tau bahwa banyak yang menyukai Rissa. Termasuk Satria. Ya pantas saja, karena Rissa adalah bintang di sekolah ini. ia sangat pintar dan juga cantik. Dan jabatannya menjadi ketua MPK membuatnya terlihat sangat mempesona.
                Sesosok wanita cantik yang pintar, berkarisma dan memiliki aura yang sangat luar biasa membuatnya menjadi wanita idaman. Jangankan dikagumi pria aku saja yang sesamanya ingin sekali menjadi Rissa. Tapi ia pasti memiliki kelemahan. Dan kelemahannya adalah sistem imunnya yang lemah membuatnya sering terkena penyakit. Bahkan ia menderita penyakit yang parah.
                Dan satu hal yang sangat aku tau darinya, ia sangat mencintai Demas. Dan ia hanya ingin hidup bersama demas. Sepasang kekasih yang sangat serasi. Sang pangeran yang tampan dan sang putri yang sangat cantik.
                Tak akan ada habisnya jika aku membahas tentang Rissa.
….


                Sudah satu bulan aku membantu Satria untuk move on, dan sepertinya Satria sudah hampir bisa menyelesaikan misinya. Alhamdulillah jika Satria bisa terbantu oleh bantuanku. Aku senang bisa membantunya. Dan aku pun merasa mempunyai teman dengan adanya Satria yang sering bersamaku. Aku merasa hatiku tak kesepian lagi semenjak aku putus dari mantan pacarku.
                Tapi apa mungkin Satria adalah orang yang Tuhan kirim untukku? Satria mencintai Rissa, not me. Tapi Tuhan Maha pembolak-balik hati manusia. Bisa saja Satria malah mencintai aku. Amin.
                Sejak aku dekat dengan Satria, aku menjadi semangat berangkat sekolah. Dan aku menjadi layaknya wanita tulen. Karena biasanya aku paling malas berdiri di depan kaca untuk memoleskan bedak dan yang lainnya di wajahku, tapi saat ini aku menjadi rajin melakukan hal itu. Sepertinya aku selalu ingin terlihat rapi di depan Satria.
                “Hahaha mungkin aku jatuh cinta pada Satria. Aku jatuh cinta karena kedewasaanya. Aku jatuh cinta karena setiap perbuatan yang ia lakukan. Aku jatuh cinta karena aku telah merasa nyaman bersamanya. Aku jatuh cinta karena aku mengagumi sosok Satria. Dan aku jatuh cinta karena cinta telah memanggilku untuk jatuh cinta. Dan aku menikmati masa-masa ini.”
                Akhir-akhir ini aku sering memikirkan Satria. Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya? “Ya benar, aku mencintainya.”
                Mencintai seseorang itu sebenarnya tantangan. Tantangan untuk menghadapi perpisahan. Dan perpisahan adalah cobaan seberapa besar usaha kita untuk move on. Dan setelah move on kita akan menemukan cinta yang baru. Dan begitulah seterusnya.
                Saat ini aku sedang mendapat tantangan, jadi aku harus mempersiapkan diriku untuk menghadapi perpisahan. Karena perpisahan itu sangat menyakitkan. Tapi itu sudah hukum alam. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Karena di dunia ini tak ada yang abadi.
                Semoga saja aku bisa melewati tantangan ini. Dan semoga perpisahanku nanti akan berbuah hikmah yang sangat dahsyat untukku dikemudian hari. Semua akan indah pada waktunya. Aku percaya itu. Rissa yang mengajarkanku akan hal itu. Dan Rissa telah mengajarkanku banyak hal tentang arti kehidupan. Jadi semoga saja aku bisa tegar menghadapi semua masalahku nanti.
                Semoga Satria akan cepat menemukan orang yang mencintainya dengan tulus, karena Satria adalah orang yang sangat baik hati. Dia dewasa. Dia pantas untuk mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintainya.
                Demas mencintai Rissa. Rissa pun mencintai Demas. Satria mencintai Rissa. Dan aku mencintai Satria. Semoga saja suatu saat nanti Satria akan mencintai Abrilla. Bukan Rissa lagi. karena biarkan Rissa dan Demas hidup bahagia. Karena mereka sangat serasi.
“Tuhan izinkan aku untuk mencintai Satria. Tapi jika Satria bukan untukku, tolong buang rasa ini Tuhan. Aku hanya ingin mencintai seseorang yang juga mencintaiku. Tapi jika Satria memang untukku tolong pelihara rasa ini. Dan lindungi aku dari godaan setan yang terkutuk. Amin.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar