Senin, 30 April 2012

novel A


EMPAT
Semuanya berubah
Satria
                Malam ini mendung, bintang tak terlihat di langit. Angin mendesah. Sepertinya ia memberikan isyarat bahwa hujan akan datang. Suara burung itu membuatku takut. Perasaanku tidak enak. Tapi semoga saja tak terjadi apa-apa.
                Aku sendiri. Tv menyala sejak tadi. Aku memandang layar tv itu. Tapi sesungguhnya aku tak menontonnya. Pikiranku melayang entah kemana. Mataku kosong. Entah apa yang sedang aku pikirkan. Hanya saja aku merasakan ketidak enakan sedari tadi.
                Aku bingung. Apa yang terjadi sebenarnya? Ini membuatku sungguh takut. Saat-saat seperti ini membuatku teringat akan kematian kakakku dulu. Aku takut akan ada yang pergi meninggalkanku lagi.
                Handphone ku berbunyi. Dan ternyata rissa menelponku. Ada apa dia menelponku malam-malam begini? Aku mengangkatnya. Setelahku angkat telepon itu, aku tak mendengar suara rissa yang biasa aku dengar. Dan yang ku dengar hanya isak tangis. Aku makin takut saat ini.
“rissa ada apa? Kenapa kamu nangis?” tanyaku heran. Tetapi rissa tetap menangis dan tak menjawab pertanyaanku. Dan itu membuatku sangat takut.
“rissa? Ada apa rissa?” tanyaku lembut.
“kamu bisa ke rumah aku sekarang ga sat? aku butuh seseorang buat nenangin aku.” Suaranya berbeda. Suara yang sedang menahan tangis.
“bisa rissa. Emang ada apa ya? Kenapa kamu nangis?”
“mama…” kata-katanya terhenti. Aku makin penasaran.
“iya kenapa sama mama kamu rissa?”
“mama meninggal sat” tangisnya mengencang.
“innalillahi, yaudah aku segera kesana riss, kamu yang sabar ya rissa.”

novel A


TIGA
Remember when
Carissa

" Never say I love you, if you don't really care...never talk about feelings, if they aren't really there...never touch a life, if you mean to break a heart...never say you're going to, if you don't plan to start...never look me in they eye, when all you do is lie...never say hello, if you really mean good-bye."
Unknown

                Cinta. Berbagai macam rasa. Bermiliar arti. Tak pandang bulu. Menghampiri siapapun yang ia kehendaki. Mungkin salah satunya aku. Cinta itu menghampiriku sejak 3 tahun yang lalu. Cinta sesungguhnya maksudku. True love. Aku adalah wanita yang bisa dibilang susah jatuh cinta. Tapi entah mengapa saat aku pertama mengenal demas, ada sesuatu yang berbeda. Kurasakan. Sejak pertama.
                Demas berbeda. Sangat berbeda. Karena perbedaan itulah aku percaya, aku dan demas akan bersatu. Selamanya. Semoga. Dia hadir dengan pesona berbeda. Membuatku merasa ada yang berbeda. Nyaman. Terntram. Tenang. Itu yang kurasakan saat bersamanya. Bersama dia yang aku sayang. Pastinya. Tak pernah berpikir untuk mencintainya. Tapi nyatanya kini, aku sangat mencintainya.
                Aku tak pernah bisa membohongi perasaanku. Sejak kali pertama aku merasa ada yang berbeda, aku sudah menyangka, ini cinta. Aku mencintainya. First sight. Mungkin itu lebih tepatnya. 1 tahun aku mengenalnya dengan dekat. Sebelum kami memutuskan untuk mengikat janji. Sebetulnya aku tak ingin ada hubungan diantara aku dan demas. Bukan karena aku tidak benar-benar mencintainya. Tapi karena aku takut kehilangan dia. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap hubungan pasti ada akhir. Itu sudah hukum alam. Itu yang aku takut. Tapi demas menjanjikan itu tidak akan terjadi. Untukku. Tapi nyatanya itu terjadi. Dan sekarang aku mengalaminya.

novel A


DUA
Perubahan-perubahan Itu
Carrisa
”Pa cepetan ya pa bawa mobilnya, aku kesiangan pa. Kayanya upacaranya udah mulai deh.”
“Baik non.”
              Tak lama aku sampai di sekolah. Sebenarnya aku malas. Tapi aku harus sekolah.
 “Nyampe juga akhirnya, untung belum mulai. Makasih ya pa.”
                Aku berjalan menyelusuri koridor sekolah yang sudah sepi.
”Rissa, hey Carissa !!”
                 Sebenarnya aku malas menengok ke belakang, itu pasti abrilla, dan pasti akan membahas hal itu. Dengan berat hati aku menjawab.
“Ada apa ?”
“Kenapa lo gak bales sms gue ?”
“Ga ada pulsa.”
“Ah lo. Yaudah jawab sekarang aja.”
“Males bahas itu ah gak penting.”
“Gue mau tau rissa cantik. Lo harus certain ke gue pokoknya.”
                Aku pergi meninggalkannya. Aku tak ingin membahas itu. Itu bisa menguras air mataku. Aku lelah  menangis sejak kejadian itu. Aku ingin move on dari masalah itu. Dan aku tak ingin mengungkit masalah itu lagi. Toh sampai saatnya nanti abrilla juga akan tau apa yang sebenarnya terjadi.
                Panas. Lelah. Matahari bersinar pagi ini. Sepertinya matahari sedang mengeluarkan kekuatan terbesarnya pagi ini. Sampai-sampai bumi sepanas ini. Perut perih, pusing, itu yang aku rasakan saat ini. Semakin lama pandanganku remang. Semakin pusing, dan entah setelah itu apa yang terjadi.
“Kamu udah sadar rissa ?”
“Udah kok. Aku pasti pingsan lagi deh ya?”
“Iya, kamu belum makan ya ? nih aku bawa roti, makan dulu deh.”
“Makasih ya Sat.”
                Satria ternyata telah membawaku ke UKS. Kenapa harus satria? Kenapa gak demas?
“Makasih ya satria udah bawa aku ke UKS J
“Sama-sama rissa. Aku seneng nolong kamu J

novel A


SATU
There Is Wisdom Behind It All
Carissa

" Good-byes make you think, they make you realize what you've had, what you've lost, and what you've taken for granted."
Unknown

Hujan tak berhenti sejak tadi. mungkin bumi sedang merasakan apa yang kurasakan. sedih. kecewa. dan semua perasaan yang membuatku tak enak hati.
tak bisa kah kau mengerti apa yang kurasa, sayang ?
sent to: my everything :*
 17/08/10 22:45

mau lo apa sih ? banyak ngeluh !! apa yang lo rasa ? gua gak peduli.
from: my everything :*
 17/08/10 23:24

aku cuma mau kamu bisa ngertiin, kenapa sih kamu ?
sent to: my everything :*
 17/08/10 23:25

alay lo !! cewe ribet banget !! najis gua
from: my everything :*
 17/08/10 00:03


perih. sakit. teriris. mungkin memang sebaiknya aku tak usah bicara padanya, sampai saatnya dia mengerti. kita akan sadar ketika orang yang kita sayang telah pergi. mungkin itu yang harus kulakukan, aku harus pergi menjauh darinya. tapi hati ini akan selalu terbuka untuknya sampai kapanpun :')