EMPAT
Semuanya berubah
Satria
Malam
ini mendung, bintang tak terlihat di langit. Angin mendesah. Sepertinya ia
memberikan isyarat bahwa hujan akan datang. Suara burung itu membuatku takut.
Perasaanku tidak enak. Tapi semoga saja tak terjadi apa-apa.
Aku
sendiri. Tv menyala sejak tadi. Aku memandang layar tv itu. Tapi sesungguhnya
aku tak menontonnya. Pikiranku melayang entah kemana. Mataku kosong. Entah apa
yang sedang aku pikirkan. Hanya saja aku merasakan ketidak enakan sedari tadi.
Aku
bingung. Apa yang terjadi sebenarnya? Ini membuatku sungguh takut. Saat-saat
seperti ini membuatku teringat akan kematian kakakku dulu. Aku takut akan ada
yang pergi meninggalkanku lagi.
Handphone ku berbunyi. Dan ternyata
rissa menelponku. Ada apa dia menelponku malam-malam begini? Aku mengangkatnya.
Setelahku angkat telepon itu, aku tak mendengar suara rissa yang biasa aku
dengar. Dan yang ku dengar hanya isak tangis. Aku makin takut saat ini.
“rissa ada apa? Kenapa kamu nangis?” tanyaku heran. Tetapi
rissa tetap menangis dan tak menjawab pertanyaanku. Dan itu membuatku sangat
takut.
“rissa? Ada apa rissa?” tanyaku lembut.
“kamu bisa ke rumah aku sekarang ga sat? aku butuh seseorang
buat nenangin aku.” Suaranya berbeda. Suara yang sedang menahan tangis.
“bisa rissa. Emang ada apa ya? Kenapa kamu nangis?”
“mama…” kata-katanya terhenti. Aku makin penasaran.
“iya kenapa sama mama kamu rissa?”
“mama meninggal sat” tangisnya mengencang.
“innalillahi, yaudah aku segera kesana riss, kamu yang sabar
ya rissa.”