EMPAT
Semuanya berubah
Satria
Malam
ini mendung, bintang tak terlihat di langit. Angin mendesah. Sepertinya ia
memberikan isyarat bahwa hujan akan datang. Suara burung itu membuatku takut.
Perasaanku tidak enak. Tapi semoga saja tak terjadi apa-apa.
Aku
sendiri. Tv menyala sejak tadi. Aku memandang layar tv itu. Tapi sesungguhnya
aku tak menontonnya. Pikiranku melayang entah kemana. Mataku kosong. Entah apa
yang sedang aku pikirkan. Hanya saja aku merasakan ketidak enakan sedari tadi.
Aku
bingung. Apa yang terjadi sebenarnya? Ini membuatku sungguh takut. Saat-saat
seperti ini membuatku teringat akan kematian kakakku dulu. Aku takut akan ada
yang pergi meninggalkanku lagi.
Handphone ku berbunyi. Dan ternyata
rissa menelponku. Ada apa dia menelponku malam-malam begini? Aku mengangkatnya.
Setelahku angkat telepon itu, aku tak mendengar suara rissa yang biasa aku
dengar. Dan yang ku dengar hanya isak tangis. Aku makin takut saat ini.
“rissa ada apa? Kenapa kamu nangis?” tanyaku heran. Tetapi
rissa tetap menangis dan tak menjawab pertanyaanku. Dan itu membuatku sangat
takut.
“rissa? Ada apa rissa?” tanyaku lembut.
“kamu bisa ke rumah aku sekarang ga sat? aku butuh seseorang
buat nenangin aku.” Suaranya berbeda. Suara yang sedang menahan tangis.
“bisa rissa. Emang ada apa ya? Kenapa kamu nangis?”
“mama…” kata-katanya terhenti. Aku makin penasaran.
“iya kenapa sama mama kamu rissa?”
“mama meninggal sat” tangisnya mengencang.
“innalillahi, yaudah aku segera kesana riss, kamu yang sabar
ya rissa.”
Aku
segera berangkat menuju rumah rissa. Dan ternyata perasaanku saat ini benar.
Akan ada seseorang yang pergi meninggalkan dunia ini.
Disepanjang
perjalanan aku terus memikirkan rissa. Bagaimana keadaanya? Dan apa yang
selanjutnya akan terjadi padanya. Aku tak tega. Tapi ada satu yang sangat
membuatku bertanya-tanya. Demas. Kemana demas? Sampai-sampai rissa memintaku
untuk menemaninya.
Aku
sampai di rumah megah itu. Di pagarnya sudah berkibar bendera kuning yang
melanmbangkan kesedihan. Rumah itu sudah ramai. Aku mulai melangkahkan kakiku.
Aku tak dapat menemukan sosok rissa disini. Terlalu ramai.
Lalu
aku sampai pada sebuah ruangan. Sesosok wanita yang tertidur dan di selimuti
oleh kain putih. Dan hanya itu pakaian yang akan dibawanya. Aku melihat seorang
wanita cantik yang sedang menangis. Dia cantik walaupun sedang menangis. Aku
menghampirinya. Aku memegang pundaknya.
“sabar ya rissa. Kamu harus mengikhlaskan mama mu pergi
menghadap Allah, kamu harus ikhlas, agar mama kamu juga tenang disana. Sabar ya
rissa.”
Dia tak
menjawabku. Namun, seketika itu ia memelukku erat. Sepertinya ia memang sangat
terpukul dengan keadaan ini.
“kenapa mama harus pergi secepat ini? aku masih butuh
perhatian mama. Dan aku butuh mama.” Ia menangis. Sangat kencang.
“kematian gak ada yang tau rissa, dan gak ada yang pernah
menduga. Kamu harus ikhlas rissa, aku yakin dibalik semua ini, Allah pasti
nyimpen hikmah.” Aku mencoba menenangkan rissa.
“memang, tapi kamu gak bisa rasain gimana rasanya jadi aku?”
dia melepas pelukannya.
“aku pernah merasakan kehilangan. Kakakku satu-satunya. Aku
sangat akrab dengannya. Tak ada yang bisa menggantikan sosok kakakku, sekalipun
itu ayah atau ibuku. Karena aku tak begitu dekat dengan orang tuaku. Mereka
tidak pernah mengerti aku. Dan hanya kakakku lah yang bisa melakukan itu. Jadi
aku sangat terpukul ketika kakakku menginggal.”
Rissa
terdiam. Entah apa yang ia pikirkan saat itu. Matanya sayu. Sembab. Sepertinya
ia lelah sejak tadi ia hanya menangis. Aku hanya mengusap pundaknya saja.
Mencoba menenangkannya. Aku belum berani menanyakan mengapa mamanya bisa
meninggal. Rissa masih saja menangis. Aku tak tega melihatnya. Lalu aku angkat
wajahnya dan ku usap air matanya.
" Don't cry because it's over. Smile because it
happened.” Kataku lembut. Aku menatap matanya.
“I love my mom no matter what we go through and no matter
how much we argue because I know, in the end, she'll always be there for me.”
Rissa mulai meneteskan air matanya lagi. Dan aku kembali mengusapnya.
“semua itu sudah terjadi cantik, ini semua takdir. Dan kamu
harus ikhlas. Kamu gak boleh terpuruk hanya karena masalah ini. ini sudah
jalannya. Aku yakin Tuhan pasti berikan hikmah dibalik semua ini. Tuhan pasti
beri yang terbaik rissa. Percaya deh. Kita gak pernah tau kapan kematian akan
datang. Dan kita juga gak pernah menduga akan hal itu. Aku tau kamu pasti
sedih. Sedih banget bahkan. Tapi ini sudah takdir. Aku pernah merasakan hal
yang sama seperti kamu. Kakakku udah aku anggap sebagai orang tua aku. Dan aku
pun sangat kehilangannya.” Rasanya mataku ingin mengeluarkan tetesan-tetesan
air mata ini. Tapi aku harus bisa menahannya. Untuk rissa.
“berapa lama kamu menyesali kejadian itu?”
“aku gak pernah menyesali. Karena aku yakin itu yang
terbaik. Tapi aku merasa sedih. Dan sedih itu sampai satu minggu. Aku malah
beraktivitas. Aku malas pergi ke sekolah. Aku mengurung diri di kamar. Tapi
setelah itu aku tau semua yang aku lakukan itu salah. Semua ini takdir. Dan aku
tak boleh seperti ini. Sejak saat itu aku tekatkan pada diriku untuk bangkit.
Aku harus tetap melanjutkan hidupku. Jalanku masih panjang. Dan aku move on dari kejadian itu.”
“tapi kalau aku mau diem diri di kamar dulu untuk beberapa
hari itu wajarkan sat?”
“wajar cantik. Tapi kamu harus inget jangan sampe kamu
ngelakuin hal-hal yang gak boleh.”
“iya-iya.”
“janji dulu sama aku.” Aku mengacungkan jari kelingkingku.
“iya janji satria.” Dia membalas dengan mengacungkan kelingkingnya.
Dia tersenyum. Amazing.
”rissa aku mau nanya sama kamu boleh?”
“boleh, nanya apa?”
“jangan nangis lagi ya tapi.”
“iya-iya. Ayo cepet nanya apa?”
“hhmm.. mama kamu meninggal karena apa?”
“mama punya penyakit jantung, dan udah cukup parah. Akhir-akhir
ini penyakitnya sering kambuh. Dan tadi aku pikir mama cuma tidur. Aku bikini
mama bubur. Waktu aku bangunin mama dan berniat nyuapin mama, ternyata mama
udah meninggal.”
“yang sabar ya rissa cantik. Aku yakin Tuhan pasti kasih
yang terbaik buat hamba-Nya.” Aku tersenyum.
“iya satria. Makasih ya kamu udah nenagin aku. Kamu udah
bikin aku bangkit lagi. Makasih banyak satria.” Dan ia pun membalas senyumku.
Aku
masih penasaran mengapa demas tidak datang. Atau mungkin sepertinya rissa sudah
mulai membutuhkanku disbandingkan dengan demas. Oh my God !! Tapi biar lebih pastinya aku akan
menanyakannya kepada rissa.
“rissa demas mana? Kok aku gak liat demas?”
“oh demas, demas lagi di luar kota, katanya sih anter
mamanya yang sakit, tapi dia juga udah nenangin aku kok tadi di tlp.” Dia
tersenyum. Seperti tak ada masalah dengan demas.
Dan
ternyata bukan karena dia lebih memilih aku. Tapi karena demas sedang ada
urusan. ‘yah gak jadi nge-fly deh.” Batinku
berbisik. Aku tak akan putus asa. Dan takkan menyerah. Aku akan terus berusaha
mendapatkan hati rissa. Dengan cara yang pantas tentunya.
Sepertinya
rissa belum ikhlas atas kejadian ini. Walaupun ia telah berjanji untuk tidak
menangis lagi, tetap saja ia meneteskan air matanya. Ya itu wajar. Pasti berat
sekali ditinggalkan oleh orang yang kita sayang.
Rissa
menyandarkan kepalanya di bahuku. Ya Allah ini surga. Aku tak menyangka akan seperti ini. Aku biarkan rissa tetap
pada posisinya. Sepertinya ia nyaman. Semoga saja. Air matanya tetap menetes.
Terasa dingin di bahuku. Bajuku basah terkena air mata Rissa. Aku sangat
senang.
….
Mentari
bersinar cerah. Untungnya tak panas. Habis
gelap terbitlah terang. Itu sudah hakikat alam. Karena aku yakin disetiap
kejadian pasti ada hikmahnya. Selalu. Karena aku pun yakin, Allah akan
memberikan yang terbaik untuk umatnya. Dan aku percaya itu.
Tak
terasa pula aku masih berada di rumah Rissa. Sejak tadi malam. Dan mataku
lelah. Aku mengantuk. Tapi aku harus tetap bertahan demi Rissa. Mataku
berkantung. Saking kantuknya aku. Ayo
satria kamu harus kuat!! Demi Rissa. Pujaan hatimu. Kata-kata itu
menyemangatkanku. Ya benar, aku harus semangat.
Pemakaman
mama Rissa akan berlangsung hari ini. Sang ibunda akan dimakamkan setelah sanak
saudara berdatangan. Ayah Rissa terlihat sibuk pagi ini. Aku yakin sebenarnya
ayah Rissa sedih. Sangat sedih bahkan. Ditinggalkan oleh ratu yang selalu
mengisi harinya. Yang selalu membuatnya tersenyum. Yang membuat canvas nya menjadi berwarna-warni karena
terisi oleh crayon sang ratu. Tapi
beliau terlihat sangat tegar. Mungkin tak ingin terlihat sedih oleh anak semata
wayangnya itu.
Banyak
tamu berdatangan disini. Hitam-hitam pakaian. Tanda mereka sedang berkabung. Sebenarnya
aku masih bertanya-tanya mengapa setiap orang yang datang melayat selalu
menggunakan pakaian hitam-hitam?
Rissa
masih saja terlihat murung. Muka yang ditekuk membuatnya terlihat sangat sedih.
Aku tak tega melihat ia seperti itu.
Carissa
Hancur.
Kacau. Tak tau seperti apa. Yang jelas aku sangat merasa hancur. Separuh
nafasku pergi. Aku merasa seperti ini sejak semalam. Ketika aku tau ternyata
mama meninggal. Pergi meninggalkanku. Papa. Dan kita semua. Tubuhku terasa
sangat ringan saat tau peristiwa itu. Pikiran dan hatiku terasa kacau. Sangat
kacau. Mengapa mama meninggalkanku begitu cepat? Aku masih sangat membutuhkan
mama. Aku masih sangat ingin bersama mama. Aku sempat merasa bahwa Allah tak
adil. Apa salahku? Tapi aku sadar bahwa ini semua adalah takdir yang tak
mungkin dapat terhindar dan tak mungkin bisa diulang.
Satria
setia menemaniku, sejak semalam. Sepertinya ia sangat mengantuk, tetapi ia tak
ingin menunjukannya padaku. Ia sangat baik. Untung ada satria, yang bisa
menenangkanku. Karena demas tak ada disini. Satria bisa membuatku tersenyum
kembali. Dan satrialah yang telah membuatku sadar akan semua ini. Dan ternyata
ia pernah mengalami hal yang serupa denganku.
Hari
ini jasat mama dimakamkan. Rasanya aku tak ingin ini terjadi. Aku ingin mama
selalu bersamaku. Tapi itu mustahil. Mama harus tetap dimakamkan. Aku tak boleh
egois. Kasian mama. Seharusnya aku bisa ikhlas sejak semalam. Tapi sungguh aku
belum sanggup. Karena aku masih ingin bersama mama.
Aku
ingin mama melihat saat aku menikah. Mama pernah bilang bahwa beliau ingin
sekali mendapatkan cucu dari aku dan Demas. Tapi sekarang semua itu tak mungkin
terjadi. mam telah pergi. Meninggalkanku. Selamanya!
Aku tak
sanggup untuk melihat jasat mama berlama-lama. Karena aku tidak akan bisa
ikhlas. Tapi aku masih ingin bersama mama. Aaaarrrrgggghhhh!!! Aku hancur. Aku
menangis sejadi-jadinya. Satria yang duduk di sampingku mencoba menenangkanku.
Tapi aku tangisku malah semakin kencang. Dan tak bisa kutahan.
Setelah
lama aku menangis, aku sangat lelah. Dan aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
Nyaman. Tapi tak senyaman saat dengan Demas. Aku ingin Demas disini.
Menenangkanku. Tapi ia pun sedang mengantar mamanya berobat. Aku tak ingin
Demas merasakan kejadian yang sama sepertiku. Jadi aku mempersilahkannya untuk
mengantar mamanya berobat.
Semua
saudaraku telah berkumpul. Dan berarti sekarang saatnya jasat mama dimakamkan.
Dan aku pun kembali menangis. Satria menuntunku untuk berjalan menuju tempat
mama akan dimakamkan. Sepanjang jalan aku hanya menangis. Papa juga terlihat
sangat bersedih. Dan beliau pun menangis. Hanya saja beliau menangis hanya
dengan air mata yang perlahan membasahi pipinya. Tak seperti aku.
Kami
sampai pada tempat itu. Tempat mama menikmati istirahat abadinya. Dan tempat
inilah yang akan sering aku kunjungi. Tentunya untuk menjenguk mama.
Rasanya
aku sangat tak sanggup saat melihat galian tanah sudah disediakan untuk mama.
Aku harus ikhlas. Aku tau itu. Tapi tetap saja hatiku belum bisa
mengikhlaskannya. Dengan perlahan jasat mama mulai dimasukan keliang lahat
tersebut. Papa sudah berada di bawah. Aku hanya melihatnya dan terus menangis.
Satria selalu ada di sampingku.
Papa
melantunkan adzan terakhir untuk mama. Tepat di telinganya. Hati ini terus
menangis. Dan saat tanah mulai menimbun jasat mama aku menangis lebih kencang.
Aku tak inginkan itu. Setelah tanah-tanah itu menutupi seluruh tubuh mama
dengan sempurna aku berlari dan aku mulai mengayuhkan tanganku. Dan berusaha
membuka tumpukan pasir itu kembali. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Papa
mencoba menahanku. Tapi aku terus melakukannya.
“ Mama gak boleh pergi. Mama harus tetep disini sama aku
mah. Mama jangan tinggalin Rissa mah. Mama denger Rissa kan mah. Mah Rissa
mohon jangan tinggalin Rissa. Rissa masih butuh mama banget mah. Mah Rissa
mohon. Kata mama, mama mau lihat aku nikah dan punya anak sama Demas ! Tapi
kenapa mama pergi mah? Mama, mama denger Rissa kan mah? Mah jawab Rissa dong
mah!” tanganku terus berusaha untuk membuka tumpakan tanah itu. Aku ingin
bersama mama. Hanya bersama mama.
“ Rissa istighfar nak, kan masih ada papa, sayang. Sabar
Rissa sayang. Papa juga sedih. Tapi kita harus ikhlas nak. Mama harus pergi,
sayang. Kamu udah dewasa kan nak, ini semua takdir, sayang. kita semua gak tau
kapan ajal itu datang. Dan kepada siapa. Sabar sayang sabar.” Papa memelukku
erat. Aku sangat sedih. Dan aku hentikan usahaku tadi.
Aku
menangis di atas makam mama. Aku peluk erat makam itu. Karina Isabella. Tercatat nama itu di batu nisan. Dan aku semakin
menangis. Satu per satu tamu itu meninggalkan makam. Dan sudah sepi, hanya
tersisa aku, papa, dan Satria.
Tiba-tiba
saja air dari langit berjatuhan. Dan membasahi bajuku. Aku tak ingin pergi.
Apapun yang terjadi. Meskipun hujan akan membuat penyakitku kambuh. Satria dan
papa sudah membujukku untuk pulang. Tapi aku ingin tetap disini. Bersama mama. Biarkan
disini.
Aku
mendapat pelukan hangat di hujan ini. Aku sangat terkejut. Pelukan itu sangat
hangat. Bahkan saat hujan terus membasahiku, pelukan itu tetap terasa hangat.
Dan aku mendapatkannya dari papa. Sosok pria perkasa dan pria yang sangat
berarti di hidupku. Baru pertama kali aku merasakan pelukan sehangat ini. Aku
menikmatinya. Dan aku menangis dan papapun ikut menangis.
Benar
kataku. Papa juga sama sepertiku. Sangat merasa kehilangan. Tapi hebatnya papa,
beliau sudah bisa mengikhlaskan mama. Padahal beliau yang sangat dekat dengan
mama. Dan setelah aku mengetahui bahwa papa telah mengikhlaskan mama, aku pun
mencoba untuk mengikhlaskan kepergian mama. Sama seperti papa. Aku harus
bersikap dewasa.
…..
Pagi ini memang cerah. Matahari pun
bersinar terang. Burung-burung bernyanyi riang. Tapi justru hatiku sebaliknya.
Pagi ini adalah pagi pertama tanpa mama. Mungkin akan terasa sangat berat. Tapi
aku harus berusaha. Aku harus bisa menghadapi semuanya. Karena aku bukan anak
kecil lagi. Aku bukan seorang anak kecil yang harus disediakan makan oleh mama
lagi. Aku sudah dewasa. Dan aku harus bisa menerima dan menghadapi semuanya.
Waktu
akan terus berjalan. Dunia akan terus berputar. Dan aku pun harus terus
melanjutkan hidupku. Jangan hanya karena masalah ini aku putus asa. Aku harus
bisa. Aku masih harus mengisi lembar demi lembar canvas kehidupanku yang masih bersih. Aku masih harus melakukan
semua pekerjaan yang seharusnya kulakukan.
Aku
belum siap masuk sekolah. Aku masih ingin di rumah. Menyendiri. Aku belum siap
untuk bertemu banyak orang. Dan aku belum siap untuk melihat temanku yang
mungkin berangkat sekolah diantar ibunya. Aku belum siap. Entah sampai kapan
aku seperti ini. Tapi yang jelas aku akan berusaha agar aku tak seperti ini.
Ditinggalkan
orang yang sangat aku sayang. Kehilangan sosok seorang ibu. Tak pernah
terbayang akan seburuk ini. Aku merasa tak ada seorang pun yang akan peduli aku
nantinya. Karena aku adalah seorang anak piatu.
Tuhan, berikan aku
kekuatan untuk menghadapi semua ini. Berikan aku ketegaran. Dan selalu tunjukan
jalan keluar untuk semua masalahku nantinya. Tempatkan mama di tempat
terbaik-Mu. Dan kirimkanlah seseorang yang akan sangat mengerti aku. Seperti
mama. Tapi sampai kapanpun sosok mama takkan pernah tergantikan.
Banyak
pikiran yang menggangguku saat ini. Itu semua membuatku sangat merasa hancur.
Aku taku semua firasat burukku ini akan benar terjadi. Aku tak ingin
firasat-firasat buruk ini terjadi. Salah satunya adalah aku takut papa mencari
ibu baru untukku. Aku tak mau itu. Lebih baik aku hanya bersama papa daripada
aku harus mempunyai ibu baru. Aku takut perjalanan hidupku nanti akan seperti
cerita di dongeng-dongeng. Menderita bersama ibu tirinya.
Sampai
kapanpun sosok mama takkan pernah bisa terganti di hatiku. Hanya ada satu Karina Isabella dalam hatiku. Dan seumur
hidupku aku hanya ingin mempunyai seorang ibu dan seorang ayah. Tak ada yang
lain. Takkan ku izinkan mereka masuk ke dalam kehidupanku. Aku tak rela. Dan
takkan rela.
Mario Surya Pratama. Karina
Isabella. Carissa Bella. Hanya itu yang ada di keluargaku. Takkan pernah
berubah.
Seharian
ini aku hanya bergalau. Hanya termenung. Dan hanya memikirkan firasat-firasat
buruk yang sebenarnya belum tentu akan terjadi. Hanya saja aku yang terlalu
ketakutan. Karena aku tak ingin ada yang berubah.
Demas
Aku tak sanggup mendengar
berita itu. Pasti sangat menyakitkan. Pasti sangat menyedihkan. Aku tak sanggup
jika aku yang mengalami hal serupa seperti itu. Aku takut kehilangan bundaku.
Karena hanya bunda yang aku punya saat ini. Ayah telah pergi meninggalkan aku
dan bunda sejak lama. Aku tak ingin kehilangan tuk yang kedua kalinya. Aku
selalu takut mencintai seseorang. Karena aku takut suatu saat aku akan
kehilangan mereka. Cukup hanya sekali saja aku merasa kehilangan.
Inginnya
saat ini aku berada di sisi Rissa untuk membuatnya tenang. Tapi aku tak bisa.
Bundaku lebih membutuhkanku. Dan untungnya Rissa sangat mengerti keadaanku.
Tapi tetap saja sebenarnya aku ingin berada di sampingnya. Memeluknya. Mengusap
air matanya. Dan membuatnya tenang. Aku ingin Rissa merasakan betapa aku sangat
menyayanginya.
Pikiranku
melayang sejak tadi. Aku jadi memikirkan bagaimana saat bunda harus pergi
meninggalkanku. Dan aku hanya sebatangkara. Aku belum sanggup untuk itu. Aku ingin
membuat bunda bahagia. Apalai saat ini keadaan bunda sedang tak baik. Dan itu
membuatku semakin takut. Aku takut bunda pergi menyusul ayah.
Dan
esok aku akan segera bertemu Rissa. Mencoba menenangkannya. Dan mencoba membuat
ia kembali bangkit. Karena bagaimanapun ia harus bisa move on dari masalah ini. Jika ia terus terpuruk, ia tidak akan
bisa mneruskan hidupnya yang telah lama ia rangkai.
Aku
akan mencoba menghubungi Rissa. Mungkin saja ia sedang membutuhkanku sekarang.
Jemariku bermain di atas angka-angka pada telepon genggamku. Mengetikkan
serangkai nomor telepon yang memang sudah tersimpan di memory otakku.
Nada
telepon itu masih berbunyi. Belum ada jawaban dari sang empunya nomor telepon
itu. Aku terus sabar menunggu. Sampai sang operator berkata “nomor yang anda
tuju tidak dapat dihubungi.” Tapi terus kucoba sampai akhirnya Rissa mengangkat
telepon itu.
Tak ada
suara yang kudengar. Hanya ada isak tangis. Aku menunggunya berkata. Tapi tetap
saja ia diam. Aku mencoba memulai berbicara. Tapi aku takut membuatnya semakin
menangis. Ku mantapkan hatiku untuk berkata.
“ Hai cantik, berhenti ya sayang nangisnya. Ada aku disini.
Aku mau nemenin kamu sayang.” Aku mencoba membuatnya tenang.
Dia
masih saja terdiam. Bahkan ia semakin menangis.
“ Rissa sayang. Jangan nangis aja ya, mama kamu pasti akan
sedih kalau melihat kamu selalu menangisinya. Ia ingin kamu bahagia Rissa. Aku
yakin mama kamu berada di tempat yang paling indah, yang sudah Tuhan sediakan
untuknya. Percaya deh Riss. Berhenti ya nangisnya.” Aku membujuknya untuk
berhenti menangis.
“ Hey udah dong cantik, nanti cantiknya luntur loohh kena
air mata.” Aku mencoba menggodanya. Dan akhirnya aku berhasil membuatnya
tertawa.
“ Hahaha bisa aja deh ganteng. Iya aku gak nangis lagi deh.”
Ia tertawa.
Mendengar
ia tertawa hatiku merasa sangat bahagia. Aku telah berhasil membuatnya tertawa.
“ Nah gitu dong ketawa, kan makin cantik jadinya”
“ Hehehe iya deh iya. Aku gak nangis lagi.”
“ Janji ya sama aku.”
“ Iya Demas aku janjin aku gak akan nangis lagi.”
“ Ok deh. Sebagai hadiahnya, besok aku akan ajak kamu ke
suatu tempat.”
“ Wah asik dong. Kemana-kemana?” Dari nada ia berbicara
sepertinya ia bahagia.
“ Adadehhh. Pokoknya wonderful
place.”
“ Iya deh. Ok aku tunggu ya besok.”
“ Ok sayangku. Bobo sayang udah malem looh.”
“ Belum ngantuk.”
“ Tapi kan ini udah malem sayang. Bobo ya. Kalau gak bobo
gak akan diajak nih besok.”
“ Iya deh aku bobo.”
“ Selamat malam bintang kecilku. Mimpi indah. Love you.”
“ Terima kasih pangeran bintangku.”
Aku
menutup teleponnya. Aku bahagia Rissa bisa tertawa kembali. Aku sangat senang.
Aku tak ingin melihat Rissa menangis seperti saat aku menyakiti hatinya. Saat
ini aku harus bisa membuatnya tersenyum bahagia.
Semoga
saja aku bisa terus membuatnya tersenyum. Seperti tadi. Karena aku tak ingin
membuatnya menangis. Air matanya terlalu berharga untuk dikeluarkan. Air mata
Rissa hanya boleh menetes saat ia menangis bahagia.
Aku
akan berusaha untuk itu. Semaksimal mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar