Senin, 30 April 2012

novel A


EMPAT
Semuanya berubah
Satria
                Malam ini mendung, bintang tak terlihat di langit. Angin mendesah. Sepertinya ia memberikan isyarat bahwa hujan akan datang. Suara burung itu membuatku takut. Perasaanku tidak enak. Tapi semoga saja tak terjadi apa-apa.
                Aku sendiri. Tv menyala sejak tadi. Aku memandang layar tv itu. Tapi sesungguhnya aku tak menontonnya. Pikiranku melayang entah kemana. Mataku kosong. Entah apa yang sedang aku pikirkan. Hanya saja aku merasakan ketidak enakan sedari tadi.
                Aku bingung. Apa yang terjadi sebenarnya? Ini membuatku sungguh takut. Saat-saat seperti ini membuatku teringat akan kematian kakakku dulu. Aku takut akan ada yang pergi meninggalkanku lagi.
                Handphone ku berbunyi. Dan ternyata rissa menelponku. Ada apa dia menelponku malam-malam begini? Aku mengangkatnya. Setelahku angkat telepon itu, aku tak mendengar suara rissa yang biasa aku dengar. Dan yang ku dengar hanya isak tangis. Aku makin takut saat ini.
“rissa ada apa? Kenapa kamu nangis?” tanyaku heran. Tetapi rissa tetap menangis dan tak menjawab pertanyaanku. Dan itu membuatku sangat takut.
“rissa? Ada apa rissa?” tanyaku lembut.
“kamu bisa ke rumah aku sekarang ga sat? aku butuh seseorang buat nenangin aku.” Suaranya berbeda. Suara yang sedang menahan tangis.
“bisa rissa. Emang ada apa ya? Kenapa kamu nangis?”
“mama…” kata-katanya terhenti. Aku makin penasaran.
“iya kenapa sama mama kamu rissa?”
“mama meninggal sat” tangisnya mengencang.
“innalillahi, yaudah aku segera kesana riss, kamu yang sabar ya rissa.”

                Aku segera berangkat menuju rumah rissa. Dan ternyata perasaanku saat ini benar. Akan ada seseorang yang pergi meninggalkan dunia ini.
                Disepanjang perjalanan aku terus memikirkan rissa. Bagaimana keadaanya? Dan apa yang selanjutnya akan terjadi padanya. Aku tak tega. Tapi ada satu yang sangat membuatku bertanya-tanya. Demas. Kemana demas? Sampai-sampai rissa memintaku untuk menemaninya.
                Aku sampai di rumah megah itu. Di pagarnya sudah berkibar bendera kuning yang melanmbangkan kesedihan. Rumah itu sudah ramai. Aku mulai melangkahkan kakiku. Aku tak dapat menemukan sosok rissa disini. Terlalu ramai.
                Lalu aku sampai pada sebuah ruangan. Sesosok wanita yang tertidur dan di selimuti oleh kain putih. Dan hanya itu pakaian yang akan dibawanya. Aku melihat seorang wanita cantik yang sedang menangis. Dia cantik walaupun sedang menangis. Aku menghampirinya. Aku memegang pundaknya.
“sabar ya rissa. Kamu harus mengikhlaskan mama mu pergi menghadap Allah, kamu harus ikhlas, agar mama kamu juga tenang disana. Sabar ya rissa.”
                Dia tak menjawabku. Namun, seketika itu ia memelukku erat. Sepertinya ia memang sangat terpukul dengan keadaan ini.
“kenapa mama harus pergi secepat ini? aku masih butuh perhatian mama. Dan aku butuh mama.” Ia menangis. Sangat kencang.
“kematian gak ada yang tau rissa, dan gak ada yang pernah menduga. Kamu harus ikhlas rissa, aku yakin dibalik semua ini, Allah pasti nyimpen hikmah.” Aku mencoba menenangkan rissa.
“memang, tapi kamu gak bisa rasain gimana rasanya jadi aku?” dia melepas pelukannya.
“aku pernah merasakan kehilangan. Kakakku satu-satunya. Aku sangat akrab dengannya. Tak ada yang bisa menggantikan sosok kakakku, sekalipun itu ayah atau ibuku. Karena aku tak begitu dekat dengan orang tuaku. Mereka tidak pernah mengerti aku. Dan hanya kakakku lah yang bisa melakukan itu. Jadi aku sangat terpukul ketika kakakku menginggal.”
                Rissa terdiam. Entah apa yang ia pikirkan saat itu. Matanya sayu. Sembab. Sepertinya ia lelah sejak tadi ia hanya menangis. Aku hanya mengusap pundaknya saja. Mencoba menenangkannya. Aku belum berani menanyakan mengapa mamanya bisa meninggal. Rissa masih saja menangis. Aku tak tega melihatnya. Lalu aku angkat wajahnya dan ku usap air matanya.
" Don't cry because it's over. Smile because it happened.” Kataku lembut. Aku menatap matanya.
“I love my mom no matter what we go through and no matter how much we argue because I know, in the end, she'll always be there for me.” Rissa mulai meneteskan air matanya lagi. Dan aku kembali mengusapnya.
“semua itu sudah terjadi cantik, ini semua takdir. Dan kamu harus ikhlas. Kamu gak boleh terpuruk hanya karena masalah ini. ini sudah jalannya. Aku yakin Tuhan pasti berikan hikmah dibalik semua ini. Tuhan pasti beri yang terbaik rissa. Percaya deh. Kita gak pernah tau kapan kematian akan datang. Dan kita juga gak pernah menduga akan hal itu. Aku tau kamu pasti sedih. Sedih banget bahkan. Tapi ini sudah takdir. Aku pernah merasakan hal yang sama seperti kamu. Kakakku udah aku anggap sebagai orang tua aku. Dan aku pun sangat kehilangannya.” Rasanya mataku ingin mengeluarkan tetesan-tetesan air mata ini. Tapi aku harus bisa menahannya. Untuk rissa.
“berapa lama kamu menyesali kejadian itu?”
“aku gak pernah menyesali. Karena aku yakin itu yang terbaik. Tapi aku merasa sedih. Dan sedih itu sampai satu minggu. Aku malah beraktivitas. Aku malas pergi ke sekolah. Aku mengurung diri di kamar. Tapi setelah itu aku tau semua yang aku lakukan itu salah. Semua ini takdir. Dan aku tak boleh seperti ini. Sejak saat itu aku tekatkan pada diriku untuk bangkit. Aku harus tetap melanjutkan hidupku. Jalanku masih panjang. Dan aku move on dari kejadian itu.”
“tapi kalau aku mau diem diri di kamar dulu untuk beberapa hari itu wajarkan sat?”
“wajar cantik. Tapi kamu harus inget jangan sampe kamu ngelakuin hal-hal yang gak boleh.”
“iya-iya.”
“janji dulu sama aku.” Aku mengacungkan jari kelingkingku.
“iya janji satria.” Dia membalas dengan mengacungkan kelingkingnya. Dia tersenyum. Amazing.
”rissa aku mau nanya sama kamu boleh?”
“boleh, nanya apa?”
“jangan nangis lagi ya tapi.”
“iya-iya. Ayo cepet nanya apa?”
“hhmm.. mama kamu meninggal karena apa?”
“mama punya penyakit jantung, dan udah cukup parah. Akhir-akhir ini penyakitnya sering kambuh. Dan tadi aku pikir mama cuma tidur. Aku bikini mama bubur. Waktu aku bangunin mama dan berniat nyuapin mama, ternyata mama udah meninggal.”
“yang sabar ya rissa cantik. Aku yakin Tuhan pasti kasih yang terbaik buat hamba-Nya.” Aku tersenyum.
“iya satria. Makasih ya kamu udah nenagin aku. Kamu udah bikin aku bangkit lagi. Makasih banyak satria.” Dan ia pun membalas senyumku.
                Aku masih penasaran mengapa demas tidak datang. Atau mungkin sepertinya rissa sudah mulai membutuhkanku disbandingkan dengan demas. Oh my God !!  Tapi biar lebih pastinya aku akan menanyakannya kepada rissa.
“rissa demas mana? Kok aku gak liat demas?”
“oh demas, demas lagi di luar kota, katanya sih anter mamanya yang sakit, tapi dia juga udah nenangin aku kok tadi di tlp.” Dia tersenyum. Seperti tak ada masalah dengan demas.
                Dan ternyata bukan karena dia lebih memilih aku. Tapi karena demas sedang ada urusan. ‘yah gak jadi nge-fly deh.” Batinku berbisik. Aku tak akan putus asa. Dan takkan menyerah. Aku akan terus berusaha mendapatkan hati rissa. Dengan cara yang pantas tentunya.
                Sepertinya rissa belum ikhlas atas kejadian ini. Walaupun ia telah berjanji untuk tidak menangis lagi, tetap saja ia meneteskan air matanya. Ya itu wajar. Pasti berat sekali ditinggalkan oleh orang yang kita sayang.
                Rissa menyandarkan kepalanya di bahuku. Ya Allah ini surga. Aku tak menyangka akan seperti ini. Aku biarkan rissa tetap pada posisinya. Sepertinya ia nyaman. Semoga saja. Air matanya tetap menetes. Terasa dingin di bahuku. Bajuku basah terkena air mata Rissa. Aku sangat senang.
….

                Mentari bersinar cerah. Untungnya tak panas. Habis gelap terbitlah terang. Itu sudah hakikat alam. Karena aku yakin disetiap kejadian pasti ada hikmahnya. Selalu. Karena aku pun yakin, Allah akan memberikan yang terbaik untuk umatnya. Dan aku percaya itu.
                Tak terasa pula aku masih berada di rumah Rissa. Sejak tadi malam. Dan mataku lelah. Aku mengantuk. Tapi aku harus tetap bertahan demi Rissa. Mataku berkantung. Saking kantuknya aku. Ayo satria kamu harus kuat!! Demi Rissa. Pujaan hatimu. Kata-kata itu menyemangatkanku. Ya benar, aku harus semangat.
                Pemakaman mama Rissa akan berlangsung hari ini. Sang ibunda akan dimakamkan setelah sanak saudara berdatangan. Ayah Rissa terlihat sibuk pagi ini. Aku yakin sebenarnya ayah Rissa sedih. Sangat sedih bahkan. Ditinggalkan oleh ratu yang selalu mengisi harinya. Yang selalu membuatnya tersenyum. Yang membuat canvas nya menjadi berwarna-warni karena terisi oleh crayon sang ratu. Tapi beliau terlihat sangat tegar. Mungkin tak ingin terlihat sedih oleh anak semata wayangnya itu.
                Banyak tamu berdatangan disini. Hitam-hitam pakaian. Tanda mereka sedang berkabung. Sebenarnya aku masih bertanya-tanya mengapa setiap orang yang datang melayat selalu menggunakan pakaian hitam-hitam?
                Rissa masih saja terlihat murung. Muka yang ditekuk membuatnya terlihat sangat sedih. Aku tak tega melihat ia seperti itu.







Carissa
                Hancur. Kacau. Tak tau seperti apa. Yang jelas aku sangat merasa hancur. Separuh nafasku pergi. Aku merasa seperti ini sejak semalam. Ketika aku tau ternyata mama meninggal. Pergi meninggalkanku. Papa. Dan kita semua. Tubuhku terasa sangat ringan saat tau peristiwa itu. Pikiran dan hatiku terasa kacau. Sangat kacau. Mengapa mama meninggalkanku begitu cepat? Aku masih sangat membutuhkan mama. Aku masih sangat ingin bersama mama. Aku sempat merasa bahwa Allah tak adil. Apa salahku? Tapi aku sadar bahwa ini semua adalah takdir yang tak mungkin dapat terhindar dan tak mungkin bisa diulang.
                Satria setia menemaniku, sejak semalam. Sepertinya ia sangat mengantuk, tetapi ia tak ingin menunjukannya padaku. Ia sangat baik. Untung ada satria, yang bisa menenangkanku. Karena demas tak ada disini. Satria bisa membuatku tersenyum kembali. Dan satrialah yang telah membuatku sadar akan semua ini. Dan ternyata ia pernah mengalami hal yang serupa denganku.
                Hari ini jasat mama dimakamkan. Rasanya aku tak ingin ini terjadi. Aku ingin mama selalu bersamaku. Tapi itu mustahil. Mama harus tetap dimakamkan. Aku tak boleh egois. Kasian mama. Seharusnya aku bisa ikhlas sejak semalam. Tapi sungguh aku belum sanggup. Karena aku masih ingin bersama mama.
                Aku ingin mama melihat saat aku menikah. Mama pernah bilang bahwa beliau ingin sekali mendapatkan cucu dari aku dan Demas. Tapi sekarang semua itu tak mungkin terjadi. mam telah pergi. Meninggalkanku. Selamanya!
                Aku tak sanggup untuk melihat jasat mama berlama-lama. Karena aku tidak akan bisa ikhlas. Tapi aku masih ingin bersama mama. Aaaarrrrgggghhhh!!! Aku hancur. Aku menangis sejadi-jadinya. Satria yang duduk di sampingku mencoba menenangkanku. Tapi aku tangisku malah semakin kencang. Dan tak bisa kutahan.
                Setelah lama aku menangis, aku sangat lelah. Dan aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Nyaman. Tapi tak senyaman saat dengan Demas. Aku ingin Demas disini. Menenangkanku. Tapi ia pun sedang mengantar mamanya berobat. Aku tak ingin Demas merasakan kejadian yang sama sepertiku. Jadi aku mempersilahkannya untuk mengantar mamanya berobat.
                Semua saudaraku telah berkumpul. Dan berarti sekarang saatnya jasat mama dimakamkan. Dan aku pun kembali menangis. Satria menuntunku untuk berjalan menuju tempat mama akan dimakamkan. Sepanjang jalan aku hanya menangis. Papa juga terlihat sangat bersedih. Dan beliau pun menangis. Hanya saja beliau menangis hanya dengan air mata yang perlahan membasahi pipinya. Tak seperti aku.
                Kami sampai pada tempat itu. Tempat mama menikmati istirahat abadinya. Dan tempat inilah yang akan sering aku kunjungi. Tentunya untuk menjenguk mama.
                Rasanya aku sangat tak sanggup saat melihat galian tanah sudah disediakan untuk mama. Aku harus ikhlas. Aku tau itu. Tapi tetap saja hatiku belum bisa mengikhlaskannya. Dengan perlahan jasat mama mulai dimasukan keliang lahat tersebut. Papa sudah berada di bawah. Aku hanya melihatnya dan terus menangis. Satria selalu ada di sampingku.
                Papa melantunkan adzan terakhir untuk mama. Tepat di telinganya. Hati ini terus menangis. Dan saat tanah mulai menimbun jasat mama aku menangis lebih kencang. Aku tak inginkan itu. Setelah tanah-tanah itu menutupi seluruh tubuh mama dengan sempurna aku berlari dan aku mulai mengayuhkan tanganku. Dan berusaha membuka tumpukan pasir itu kembali. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Papa mencoba menahanku. Tapi aku terus melakukannya.
“ Mama gak boleh pergi. Mama harus tetep disini sama aku mah. Mama jangan tinggalin Rissa mah. Mama denger Rissa kan mah. Mah Rissa mohon jangan tinggalin Rissa. Rissa masih butuh mama banget mah. Mah Rissa mohon. Kata mama, mama mau lihat aku nikah dan punya anak sama Demas ! Tapi kenapa mama pergi mah? Mama, mama denger Rissa kan mah? Mah jawab Rissa dong mah!” tanganku terus berusaha untuk membuka tumpakan tanah itu. Aku ingin bersama mama. Hanya bersama mama.
“ Rissa istighfar nak, kan masih ada papa, sayang. Sabar Rissa sayang. Papa juga sedih. Tapi kita harus ikhlas nak. Mama harus pergi, sayang. Kamu udah dewasa kan nak, ini semua takdir, sayang. kita semua gak tau kapan ajal itu datang. Dan kepada siapa. Sabar sayang sabar.” Papa memelukku erat. Aku sangat sedih. Dan aku hentikan usahaku tadi.
                Aku menangis di atas makam mama. Aku peluk erat makam itu. Karina Isabella. Tercatat nama itu di batu nisan. Dan aku semakin menangis. Satu per satu tamu itu meninggalkan makam. Dan sudah sepi, hanya tersisa aku, papa, dan Satria.
                Tiba-tiba saja air dari langit berjatuhan. Dan membasahi bajuku. Aku tak ingin pergi. Apapun yang terjadi. Meskipun hujan akan membuat penyakitku kambuh. Satria dan papa sudah membujukku untuk pulang. Tapi aku ingin tetap disini. Bersama mama. Biarkan disini.
                Aku mendapat pelukan hangat di hujan ini. Aku sangat terkejut. Pelukan itu sangat hangat. Bahkan saat hujan terus membasahiku, pelukan itu tetap terasa hangat. Dan aku mendapatkannya dari papa. Sosok pria perkasa dan pria yang sangat berarti di hidupku. Baru pertama kali aku merasakan pelukan sehangat ini. Aku menikmatinya. Dan aku menangis dan papapun ikut menangis.
                Benar kataku. Papa juga sama sepertiku. Sangat merasa kehilangan. Tapi hebatnya papa, beliau sudah bisa mengikhlaskan mama. Padahal beliau yang sangat dekat dengan mama. Dan setelah aku mengetahui bahwa papa telah mengikhlaskan mama, aku pun mencoba untuk mengikhlaskan kepergian mama. Sama seperti papa. Aku harus bersikap dewasa.
…..


               
Pagi ini memang cerah. Matahari pun bersinar terang. Burung-burung bernyanyi riang. Tapi justru hatiku sebaliknya. Pagi ini adalah pagi pertama tanpa mama. Mungkin akan terasa sangat berat. Tapi aku harus berusaha. Aku harus bisa menghadapi semuanya. Karena aku bukan anak kecil lagi. Aku bukan seorang anak kecil yang harus disediakan makan oleh mama lagi. Aku sudah dewasa. Dan aku harus bisa menerima dan menghadapi semuanya.
                Waktu akan terus berjalan. Dunia akan terus berputar. Dan aku pun harus terus melanjutkan hidupku. Jangan hanya karena masalah ini aku putus asa. Aku harus bisa. Aku masih harus mengisi lembar demi lembar canvas kehidupanku yang masih bersih. Aku masih harus melakukan semua pekerjaan yang seharusnya kulakukan.
                Aku belum siap masuk sekolah. Aku masih ingin di rumah. Menyendiri. Aku belum siap untuk bertemu banyak orang. Dan aku belum siap untuk melihat temanku yang mungkin berangkat sekolah diantar ibunya. Aku belum siap. Entah sampai kapan aku seperti ini. Tapi yang jelas aku akan berusaha agar aku tak seperti ini.
                Ditinggalkan orang yang sangat aku sayang. Kehilangan sosok seorang ibu. Tak pernah terbayang akan seburuk ini. Aku merasa tak ada seorang pun yang akan peduli aku nantinya. Karena aku adalah seorang anak piatu.
Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menghadapi semua ini. Berikan aku ketegaran. Dan selalu tunjukan jalan keluar untuk semua masalahku nantinya. Tempatkan mama di tempat terbaik-Mu. Dan kirimkanlah seseorang yang akan sangat mengerti aku. Seperti mama. Tapi sampai kapanpun sosok mama takkan pernah tergantikan.
                Banyak pikiran yang menggangguku saat ini. Itu semua membuatku sangat merasa hancur. Aku taku semua firasat burukku ini akan benar terjadi. Aku tak ingin firasat-firasat buruk ini terjadi. Salah satunya adalah aku takut papa mencari ibu baru untukku. Aku tak mau itu. Lebih baik aku hanya bersama papa daripada aku harus mempunyai ibu baru. Aku takut perjalanan hidupku nanti akan seperti cerita di dongeng-dongeng. Menderita bersama ibu tirinya.
                Sampai kapanpun sosok mama takkan pernah bisa terganti di hatiku. Hanya ada satu Karina Isabella dalam hatiku. Dan seumur hidupku aku hanya ingin mempunyai seorang ibu dan seorang ayah. Tak ada yang lain. Takkan ku izinkan mereka masuk ke dalam kehidupanku. Aku tak rela. Dan takkan rela.
                Mario Surya Pratama. Karina Isabella. Carissa Bella. Hanya itu yang ada di keluargaku. Takkan pernah berubah.
                Seharian ini aku hanya bergalau. Hanya termenung. Dan hanya memikirkan firasat-firasat buruk yang sebenarnya belum tentu akan terjadi. Hanya saja aku yang terlalu ketakutan. Karena aku tak ingin ada yang berubah.


Demas
    Aku tak sanggup mendengar berita itu. Pasti sangat menyakitkan. Pasti sangat menyedihkan. Aku tak sanggup jika aku yang mengalami hal serupa seperti itu. Aku takut kehilangan bundaku. Karena hanya bunda yang aku punya saat ini. Ayah telah pergi meninggalkan aku dan bunda sejak lama. Aku tak ingin kehilangan tuk yang kedua kalinya. Aku selalu takut mencintai seseorang. Karena aku takut suatu saat aku akan kehilangan mereka. Cukup hanya sekali saja aku merasa kehilangan.
                Inginnya saat ini aku berada di sisi Rissa untuk membuatnya tenang. Tapi aku tak bisa. Bundaku lebih membutuhkanku. Dan untungnya Rissa sangat mengerti keadaanku. Tapi tetap saja sebenarnya aku ingin berada di sampingnya. Memeluknya. Mengusap air matanya. Dan membuatnya tenang. Aku ingin Rissa merasakan betapa aku sangat menyayanginya.
                Pikiranku melayang sejak tadi. Aku jadi memikirkan bagaimana saat bunda harus pergi meninggalkanku. Dan aku hanya sebatangkara. Aku belum sanggup untuk itu. Aku ingin membuat bunda bahagia. Apalai saat ini keadaan bunda sedang tak baik. Dan itu membuatku semakin takut. Aku takut bunda pergi menyusul ayah.
                Dan esok aku akan segera bertemu Rissa. Mencoba menenangkannya. Dan mencoba membuat ia kembali bangkit. Karena bagaimanapun ia harus bisa move on dari masalah ini. Jika ia terus terpuruk, ia tidak akan bisa mneruskan hidupnya yang telah lama ia rangkai.
                Aku akan mencoba menghubungi Rissa. Mungkin saja ia sedang membutuhkanku sekarang. Jemariku bermain di atas angka-angka pada telepon genggamku. Mengetikkan serangkai nomor telepon yang memang sudah tersimpan di memory otakku.
                Nada telepon itu masih berbunyi. Belum ada jawaban dari sang empunya nomor telepon itu. Aku terus sabar menunggu. Sampai sang operator berkata “nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.” Tapi terus kucoba sampai akhirnya Rissa mengangkat telepon itu.
                Tak ada suara yang kudengar. Hanya ada isak tangis. Aku menunggunya berkata. Tapi tetap saja ia diam. Aku mencoba memulai berbicara. Tapi aku takut membuatnya semakin menangis. Ku mantapkan hatiku untuk berkata.
“ Hai cantik, berhenti ya sayang nangisnya. Ada aku disini. Aku mau nemenin kamu sayang.” Aku mencoba membuatnya tenang.
                Dia masih saja terdiam. Bahkan ia semakin menangis.
“ Rissa sayang. Jangan nangis aja ya, mama kamu pasti akan sedih kalau melihat kamu selalu menangisinya. Ia ingin kamu bahagia Rissa. Aku yakin mama kamu berada di tempat yang paling indah, yang sudah Tuhan sediakan untuknya. Percaya deh Riss. Berhenti ya nangisnya.” Aku membujuknya untuk berhenti menangis.
“ Hey udah dong cantik, nanti cantiknya luntur loohh kena air mata.” Aku mencoba menggodanya. Dan akhirnya aku berhasil membuatnya tertawa.
“ Hahaha bisa aja deh ganteng. Iya aku gak nangis lagi deh.” Ia tertawa.
                Mendengar ia tertawa hatiku merasa sangat bahagia. Aku telah berhasil membuatnya tertawa.
“ Nah gitu dong ketawa, kan makin cantik jadinya”
“ Hehehe iya deh iya. Aku gak nangis lagi.”
“ Janji ya sama aku.”
“ Iya Demas aku janjin aku gak akan nangis lagi.”
“ Ok deh. Sebagai hadiahnya, besok aku akan ajak kamu ke suatu tempat.”
“ Wah asik dong. Kemana-kemana?” Dari nada ia berbicara sepertinya ia bahagia.
“ Adadehhh. Pokoknya wonderful place.”
“ Iya deh. Ok aku tunggu ya besok.”
“ Ok sayangku. Bobo sayang udah malem looh.”
“ Belum ngantuk.”
“ Tapi kan ini udah malem sayang. Bobo ya. Kalau gak bobo gak akan diajak nih besok.”
“ Iya deh aku bobo.”
“ Selamat malam bintang kecilku. Mimpi indah. Love you.”
“ Terima kasih pangeran bintangku.”
                Aku menutup teleponnya. Aku bahagia Rissa bisa tertawa kembali. Aku sangat senang. Aku tak ingin melihat Rissa menangis seperti saat aku menyakiti hatinya. Saat ini aku harus bisa membuatnya tersenyum bahagia.
                Semoga saja aku bisa terus membuatnya tersenyum. Seperti tadi. Karena aku tak ingin membuatnya menangis. Air matanya terlalu berharga untuk dikeluarkan. Air mata Rissa hanya boleh menetes saat ia menangis bahagia.
                Aku akan berusaha untuk itu. Semaksimal mungkin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar