Senin, 30 April 2012

novel A


DUA
Perubahan-perubahan Itu
Carrisa
”Pa cepetan ya pa bawa mobilnya, aku kesiangan pa. Kayanya upacaranya udah mulai deh.”
“Baik non.”
              Tak lama aku sampai di sekolah. Sebenarnya aku malas. Tapi aku harus sekolah.
 “Nyampe juga akhirnya, untung belum mulai. Makasih ya pa.”
                Aku berjalan menyelusuri koridor sekolah yang sudah sepi.
”Rissa, hey Carissa !!”
                 Sebenarnya aku malas menengok ke belakang, itu pasti abrilla, dan pasti akan membahas hal itu. Dengan berat hati aku menjawab.
“Ada apa ?”
“Kenapa lo gak bales sms gue ?”
“Ga ada pulsa.”
“Ah lo. Yaudah jawab sekarang aja.”
“Males bahas itu ah gak penting.”
“Gue mau tau rissa cantik. Lo harus certain ke gue pokoknya.”
                Aku pergi meninggalkannya. Aku tak ingin membahas itu. Itu bisa menguras air mataku. Aku lelah  menangis sejak kejadian itu. Aku ingin move on dari masalah itu. Dan aku tak ingin mengungkit masalah itu lagi. Toh sampai saatnya nanti abrilla juga akan tau apa yang sebenarnya terjadi.
                Panas. Lelah. Matahari bersinar pagi ini. Sepertinya matahari sedang mengeluarkan kekuatan terbesarnya pagi ini. Sampai-sampai bumi sepanas ini. Perut perih, pusing, itu yang aku rasakan saat ini. Semakin lama pandanganku remang. Semakin pusing, dan entah setelah itu apa yang terjadi.
“Kamu udah sadar rissa ?”
“Udah kok. Aku pasti pingsan lagi deh ya?”
“Iya, kamu belum makan ya ? nih aku bawa roti, makan dulu deh.”
“Makasih ya Sat.”
                Satria ternyata telah membawaku ke UKS. Kenapa harus satria? Kenapa gak demas?
“Makasih ya satria udah bawa aku ke UKS J
“Sama-sama rissa. Aku seneng nolong kamu J

“Demas sekolah gak sih sat? kamu temen sekelasnya kan?”
“Sekolah ris. Iya emang kenapa?”
“Engga kok, nanya aja”
                Satria tersenyum. Ganteng. Manis. Ternyata satria manis kalau dilihat dari dekat. Satria baik, sopan, pinter, ramah, aku suka kepribadiannya. Tapi aku tetap cuma suka demas.
                Untungnya pelajaran hari ini tak begitu berat. Aku sedang tak konsen belajar .  Gimana bisa konsen belajar, jika selalu terpikir masalah itu.
                Pak Udin tak menjemputku hari ini. Jadi aku harus pulang memakai angkutan umum. Biasanya ada demas yang selalu antar aku pulang. Jujur aku selalu memikirkan demas, bagaimana aku bisa move on kalau selalu kepikiran demas. Apapun yang aku lakukan pasti selalu ada demas di pikiran aku. Apalagi di hati aku.
‘Demas Aquila aku kangen kamu sayang. Aku kangen sama semua yang pernah kita lakuin. Aku kangen kamu demas. Aku mau ketemu kamu sekarang. Tuhan, izinkan aku bertemu demas. Meski itu hanya sebentar. Aku kangen demas Tuhan. Tuhan aku tak bisa melupakan demas. Aku terlalu sayang demas. Tuhan, jika kau masih mengizinkanku bersamanya tolong peliharalah rasa ini. Tapi jika kau tak izinkan rasa ini berlanjut, tolong hilangkan. Aku tak ingin terus seperti ini.’
                Sejak tadi aku tak menemukan bus yang menuju rumahku. Aku menunggu di halte. Ternyata ada satria di sini. Sepertinya dia sedang menunggu bus yang sama denganku.
“Nunggu bus nomer berapa ris?”
“Nomer 308 sat. kamu?”
“Sama ”
                Aku hanya tersenyum. Satria membalas senyumku. Terik matahari masih menyengat siang ini. Aku tak sadar tenyata sejak tadi demas memanggilku.
“rissa!!”
“eh apa demas? Maaf gak kedengeran.”
                Aku menghampirinya.
“pulang bareng yu !”
“hhmm…”
“engga harus pacaran aja kan kalau mau anter kamu pulang.”
                Aku tersenyum. Motor ninjanya masih seperti dulu ternyata setelah satu minggu aku tak menaikinya.
“Satria! Duluan ya!”
“Iya ris, hati-hati ya.”
                Sepanjang perjalanan aku dan demas hanya terdiam. Tak tau apa yang seharusnya dibicarakan. Sudah tak seperti dulu saat kami pacaran. Canggung. Aku senang masih bisa pulang bersama demas. Memang ini yang aku inginkan. Terimakasih Tuhan telah mengabulkan do’aku. Ternyata demas tak mengantarkanku pulang. Kami berhenti di café biasa kami makan semasa pacaran. Ini café kesukaan kami.
“turun rissa cantik. Masih betah ya dibonceng aku.”
“iya deh kayanya.”
                Kami tersenyum. Demas merangkulku. Aku senang. Tapi bergetar. Aku kaget demas seperti ini. Apa memang benar demas sudah berubah. Tapi aku butuh banyak bukti. Kami duduk di tempat biasa kami. Ternyata demas masih ingat menu kesukaanku di café ini.
“mba nasi goreng seafood satu ya sama jus jambunya satu.”
                Aku kaget. Biasanya dia memesan makananya sendiri. Tanpa memesankanku. Tapi sekarang dia hanya memesan makanan untukku.
“mba mau makan apa?”
“oh aku pesen nasi goreng special satu, tapi jangan pake ati dan jangan pake acar ya mba sama jus jambunya juga satu.”
                Aku memesan makanan kesukaan demas. Dari dulu memang seperti itu tak pernah berubah.
“masih inget ternyata makanan kesukaan aku.”
“iya dong masa lupa.”
“biasanya inget gitu?”
                Demas terdiam. Mungkin dia sadar dengan apa yang telah dia perbuat.  Aku memulai bahasan baru.
“gimana hari ini? Seru?”
“seru. Tapi gak begitu seru.”
“loh kenapa?”
“istirahat gak bareng kamu.”
                Aku hanya tersenyum. Apa demas tak sadar tadi pagi aku pingsan. Apa memang dia masih belum peduli.
“kenapa kamu pingsan tadi pagi? Gak sarapan lagi ya?”
“ternyata kamu tau ya. Hehehe.”
“tau dong. Ah kebiasaan deh.”
“biasanya kamu gak pernah peduli kaya gitu deh sama aku. Biasanya kalau aku sakit kamu cuma bilang ‘udah gak apa-apa’.”
“itu dulu rissa. Aku minta maaf atas perlakuan aku sama kamu. Aku sadar rissa. Aku mau perbaikin diri aku buat kamu. Aku mau berubah rissa. Aku mau kamu kembali sama aku. Aku kangen kamu rissa. Aku sayang kamu.”
                Demas menggenggam tanganku. Aku tak tau harus menjawab aku. Tanpa kusadari ternyata air mataku berlinang. Demas menghapusnya.
“jangan nangis sayang. Maaf aku udah bikin kamu nangis. Maaf selama ini aku ga pernah peduli kamu. Maaf aku banyak ngecewain kamu. Dan aku sangat minta maaf atas ucapanku yang kasar sama kamu. Aku minta maaf rissa.”
“udah aku maafin demas sebelum kamu minta maaf. Udah ah jangan nangis. Tuh makanannya udah dateng. Yu makan.”
                Sebenarnya aku sangat senang akan perlakuan demas terhadapku saat ini. Semoga selalu begini.
“makannya lahap banget. Suka apa laper?”
“hehehe dua-duanya.”
“apa karena makannya sama aku?”
“hhmm.. kayanya iya deh.”
                Kami tertawa. Bahagia. Senang. Tak ingin menyudahinya. Aku ingin selalu seperti ini. Bersama demas tentunya.
‘Demas, aku senang hari ini. Terimakasih demas, telah membuatkanku kejutan seindah ini. Aku bahagia demas. Bahagia karena kamu sudah sadar, dan kamu sudah berubah. Terimakasih Tuhan, Kau sudah menyadarkan demas. Jangan biarkan ini berlalu Tuhan. Aku ingin selamanya seperti  ini.’
“aku sayang kamu demas.”
“aku juga sayang kamu rissa. Sayang banget.”
It’s love that makes the world go round.
It’s never too late to mend.

                Dua bulan berlalu. Demas sudah sering menunjukan pembuktiannya. Sepertinya memang benar, dia masih menginginkanku. Dan dia sudah berubah. It’s never too late to mend. Pribahasa itu benar. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata terlambat untuk demas. Selalu ada waktu untuk ia berubah jika ia memang benar-benar berniat mengubah dirinya.
                Tapi ada kejadian aneh juga dua bulan belakangan. Aku merasakan ada yang berbeda. Satria. Ya satria, dia berbeda padaku akhir-akhir ini. Dia sama seperti demas. Sering menunjukan perhatiannya padaku. Terkadang aku merasa ada persaingan antara demas dan satria. Tapi jawabanku sudah jelas, aku hanya memilih demas. Tapi untuk saat ini. Tak tau nanti. Yang jelas hari ini aku masih menyayangi demas. Bukan satria.
                Dua bulan belakangan ini juga bahkan sampai sekarang, aku selalu menanti hari-hari untuk pergi ke sekolah. Karena aku menanti kejutan apa lagi yang akan demas beri untukku. Kejutan-kejutan itu selalu membuatku senang. Demas berubah. Seperti yang aku harapkan. ‘terimakasih Tuhan.’
                Hari ini sejuk. Seperti hatiku. Dunia mengetahui perasaanku. Seakan dia adalah sahabatku kali ini. Abrilla. Ternyata aku telah melupakannya. Hahaha. Bukan lupa itu maksudku. Tapi lupa karena aku sering tak menceritakan semua yang terjadi padanya. Biarkan hanya hati ini yang tau apa perasaanku saat ini.
Cantik :D
From: 089712936319
29/10/10 06:35
                Number hp tak kukenal. Malas membalasnya. Pasti orang salah kirim.
Hey cantik :D bales dong, carrisa bella :D
From: 089712936319
29/10/10 06:38
                Dia tau namaku. Apa mungkin dia memang mengenaliku. Jadi penasaran.
Yaudah klo gamau bales liat ke jendela aja deh. :D
From: 089712936319
29/10/10 06:40
                 Aku penasaran. Aku melihat kea rah jendela. Ups !! oh my God !! ternyataaaa….
“selamat pagi cantikku sayang, belum mandi ya? Ihh bau. Udah cepet mandi trus turun temui aku.”
                Aku terkejut. Sangat terkejut bahkan. Aku tak pernah mengira demas memperlakukanku seperti ini. Aku langsung  berlari menuju kamar mandi. Tak sabar apa yang akan demas lakukan selanjutnya.
Oh Tuhan demas benar-benar telah berubah. Terimakasih Tuhan.’
                Aku memakai pakaian terbagusku. Dan berharap hari ini pun hari terbagus yang pernah aku alami. Aku turun dan menghampiri demas. Gantengnya demas. Tak berubah, dan tetap seperti itu. Aku makin mengaguminya.
“aduh cantiknya”
”apa sih jadi malu”
“idih-idih mukanya merah idih, makin cantik deh.”
“ih demas udah deh.”
“iyaiya maaf cantik.”
                Tuhan betapa bahagianya hati ini. Sanjungan seperti itu baru pertama kali demas berikan padaku. Memang selama ini dia sering memanggilku cantik. Tapi tak seperti ini. Aku makin heran, demas naik  ke motornya, bukankah dia menyuruhku turun tadi, tapi mengapa dia malah menaiki motornya?
“cepet naik cantik, malah bengong”
“eh iyaiya maaf”
“aduh ini ngelamun aja, mikirin apa sih? Pasti mikirin aku?”
“pede banget deh.”
“biarin. Wlee”
“mau kemana sih ini ?”
“udah ikut aja, kamu pasti suka deh.”
“oya? Kalau aku gasuka gimana?”
“terserah orang cantik aja deh.”
                Dalam perjalanan aku tersenyum. Betapa indahnya hari ini. tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Demas akan membawaku entah kemana. Tapi aku percaya dia akan membawaku ke tempat yang pasti sangat special.
                Ternyata sejak tadi demas memperhatikanku melalui kaca motor itu. Saat aku sadar aku malu. Sangat malu. Apa ya yang dia pikirkan saat melihatku. Tak apalah.
                Ternyata dia membawaku ke sebuah bukit yang di sekelilingnya adalah danau. Indah sekali. Aku sangat menyukainya. Demas ternyata tau tempat yang indah.
“bagus demas. Aku suka. Makasih ya “
“iya ? kamu seneng? Alhamdulillah, sama-sama cantikku.”
“kamu tau tempat ini dari mana?”
“bunda. Bunda pernah ajak aku kesini. Kata bunda ini tempat waktu bunda sama ayah masih pacaran. Mereka selalu kesini. Dan ini tempat kesukaan mereka. Makanya aku ajak kamu kesini, berharap kita bisa kaya orang tua aku, bersama selamanya. Sampai tuhan memanggil ayahku mengahadapnya.”
“so sweet. Aku juga berharap seperti itu. Semoga tuhan mengizinkan kita bersama selamanya. Maaf ya bukan maksud aku bikin kamu inget ayah kamu lagi.”
“amin. Ga apa-apa kok, aku udah ikhlas. Tapi kan kita ga pacaran ris. Aku mau kita pacaran lagi.”
“kamu hebat. Cinta kan ga harus memiliki sayang. Aku takut kalau kita pacaran kejadian kemaren bakal terjadi lagi.”
“kamu manggil aku sayang? Aduh senengnya. Iyaiya deh. Tapi aku janji kalau kita pacaran kejadian itu gakan terjadi lagi.”
“aku bahagia dengan kita yang sekarang. Kita gini aja dulu ya. Aku masih menikmati masa ini. suatu saat kalau aku udah siap aku pasti terima kamu lagi.”
“iya deh. Kalau malem disini banyak kunang-kunang. Dan disini bintangnya bisa keliatan banyak banget dan indah banget. Kamu suka bintangkan?”
“iya aku suka bintang. Mau ga kamu ajak aku kesini lagi lain kali, tapi malem-malem.”
“mau. Mau banget. Ok cantik nanti aku ajak kamu kesini lagi.”
                Kami menghabiskan waktu berdua disini. Awan-awan terlihat indah dari sini. Terkadang aku melihat bintang membentuk love. Awan tau kalau aku memang cinta kepada orang yang bersamaku sejak tadi. Kami melakukan banyak hal disini. Tertawa. Bernostalgia. Bernyanyi. Dan tak terasa waktu telah sore. Matahari telah siap tenggelam ke tempat asalnya. Demas mengajakku pulang. Dan aku meng-iyakannya.
                Tanpa ku sadari tanganku telah melingkar di badannya. Aku memeluknya. Erat. Dan tak ingin ku lepas. Andaikan saja aku bisa seperti ini selamanya. Dan tentu bersama demas. Orang yang benar-benar aku sayang. Demas memperlambat lajunya. Sepertinya ia pun tak ingin kesempatan kali ini berlalu begitu cepat.
“aku sayang kamu demas.”
“aku juga sayang kamu rissa.”
“makasih ya buat hari ini. aku seneng banget sayang.”
“iya sayang, sama-sama.”
                Meski status kami saat ini tak menjalin hubungan, tapi aku senang masih bisa bersama demas. Dan bahagia bersamanya seperti saat ini. Jika kami menjalin hubungan seperti dulu, aku takut kejadian seperti waktu itu terjadi lagi. Aku tak ingin ini berakhir.
“makasih ya demas udah ngajak aku ke tempat paling indah, dan nganter aku pulang ke rumah.”
“sama-sama sayang, tapi justru harusnya aku yang makasih kamu masih mau pergi sama aku.”
“hahaha udah atuh sama-sama. Mau mampir dulu ga? Kayanya mama kangen deh sama kamu.”
“hahaha. Oya? Lain kali deh, salam aja ya buat mamaku. Hahaha”
“mamaku? Hahaha iyaiya. Hati-hati ya, jangan ngebut.”
“iya sayang. Love you.”
“love you too.”
                Motor ninja biru itu melesat menjauh dari rumahku. Aku pun masuk. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju mama yang sedang menyelesaikan rajutannya.
“mama kaya nenek-nenek deh bikin rajutan.”
“iya dong, mama kan nanti bakal jadi nenek dari anak-anak kamu sama demas.”
“ih apa sih mama. Oiya mah ada salam tuh dari demas.”
“hehehe. Waalaikum salam. Kemana aja demas kok gasuka kesini lagi?”
“tadi kan aku baru abis sama demas mama.”
“oiyaiya mama lupa. Hehehe.”
“udah ah aku mau mandi dulu mah.”
                Mama lucu. Mama ingin mendapatkan cucu dari aku dan demas. Amin mah, semoga itu benar akan terjadi.
                Setelah selesai mandi, aku merebahkan tubuhku di atas kasur kesayanganku. Aku lelah, aku ingin istirahat.
‘Tuhan jaga aku saat aku terlelap. Dan tolong jaga demas. Jaga dia selalu di setiap aktivitasnya. Aku sayang demas, Tuhan.’
                Suara gemuruh membangunkanku. Tak ada sopan santunnya sama sekali. Sudah malam seperti  ini tapi tetap mengganggu ketenangan orang. Aku mencoba kembali untuk tertidur. Tapi, semakin lama semakin keras. Keras. Sangat keras. Suara itu benar-benar  membuatku kesal. Siapa sih? Bikin emosi deh. Suara itu membuatku beranjak dari tempat tidurku. Aku melihat ke arah jendela. Dan ternyata….
“satria!! Apa-apaan sih kamu?”
“hehehe :D sorry riss, sengaja biar kamu bangun terus nengok deh ke jendela.”
“tapi kan gausah gitu caranya. Kan bisa masuk ke rumah, nanti juga aku dibangunin.”
“yaudah. Turun dong ris.:D”
“iyaiya tunggu ya.”
                Apalagi yang akan satria lakukan. Aku lelah. Seharian aku bersama demas. Dan sekarang apa yang akan satria lakukan. Aku tak ingin satria selalu begitu. Aku tak ingin satria sakit hati karena aku masih mencintai demas. Dan sampai kapanpuna aku akan selalu sayang demas. Tapi mungkin saja hatiku berpindah. Only the time that can answer.
                Sebenarnya aku malas menghampiri satria. Tapi aku harus menghargai usaha satria kali ini. baiklah, aku hampiri dia.
“ada apa sat?”
“hehehe, mau ikut aku gak?”
“kemana?”
“udah ikut aja hayu.”
“yaudah, tapi pulangnya jangan terlalu malem ya.”
“siipp” satria mengacungkan dua jempolnya.
                Ya aku hanya berharap dia tak akan melakukan hal aneh seperti ini lagi. Jujur aku hanya ingin demas yang melakukan hal seperti ini. Bukan satria. Bagaimana aku harus mengatakannya kepada satria? Disatu sisi aku tak ingin dia sakit hati. Tapi disisi lain aku kasihan padanya. God, please show me the way.
                Satria membawaku kesebuah tempat. Indah. Tapi aku berharap aku berada disini bersama demas. Bukan satria. Satria maafkan aku. Aku tak mencintaimu saat ini. Tapi entah esok. Atau lusa.
“bagus bukan?”
“iya bagus sat. Ternyata kamu punya tempat yang indah juga.”
“iya dong.”
                Aku melihat banyak kembang api disini. Indah memang. Ternyata satria yang menyiapkan semuanya. Dia romantis. Aku suka. Tapi aku suka jika demas yang melakukan ini. Tuhaaannn, mengapa selalu ada demas dipikiranku?. Semua demas. Demas. Dan selalu demas.
“kamu suka ris?”
“suka kok, makasih ya sat.”
“iya ris sama-sama.”
                Malam semakin larut, aku meminta satria untuk mengantarku pulang. Dan dia menurutinya. Entah mengapa aku tak merasa bahagia. Seperti tadi siang. Saat bersama demas.
“makasih ya sat. aku seneng.”
“sama-sama rissa. Aku pulang ya.”
“iya hati-hati ya sat.”
                Satria pergi. Meninggalkan aku yang sedang berdiri di halaman rumahku. Aku menatap langit. Indah. Penuh bintang. Berkelap-kelip. Seperti tau apa yang sedang kurasakan. Mungkin. Aku rindu demas. Jujur.
                Ada yang hilang saat jemari kita tak saling menggenggam erat. Selalu saja aku disergap resah yang menggelitik ketermanguan. Aku merindumu. Jujur dari hatiku yang sangat dalam. Dan tak bisa kupungkiri hal ini. aku memang merindumu. Sejak lama. Sejak kita jarang berkomunikasi. Biarkan aku menatapmu. Melihat indah matamu. Melihat indah senyummu. Aku merindumu.
                Aku kembali melanjutkan tidur yang sempat terganggu oleh kedatangan satria.
Tuhan hadirkan demas di dalam tidurku. Izinkan itu tuhan aku mohon. Aku merindunya. Sangat merindunya.


……
Matahari bersinar terang pagi ini. Bahkan sangat terang. Sinarnya masuk ke dalam kamarku. Seakan-akan ingin membangunkanku dari tidur  yang lelap. Burung-burung pun bernyanyi, mungkin ingin membantu matahari membangunkanku.
                Aku pun terbangun. Entah mengapa aku malas ke sekolah hari ini. Padahal biasanya aku selalu menunggu waktu untuk sekolah. Mungkin karena ini hari senin. Hari yang paling menyeramkan  untukku. Aku tak suka monday. Entah mengapa. Yang jelas bukan karena pelajaran. Mungkin karena ada upacara. Mungkin. For me this is a MONsterDay. Lupakan.
                Matahari makin bersinar. Menyorot. Silau. Seperti memaksaku untuk beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. ‘ok-ok aku mandi.’  Batinku berbisik. Aku tersenyum. Lalu berjalan menuju kamar mandi.
                Tak biasanya perutku lapar seperti ini. Mungkin karena tubuhku lelah. Karena aku selalu pingsan disaat upacara. Perut ini tak bisa diam. Akhirnya aku memilih untuk segera makan. Saat aku berada di ruang makan, meja makan telah penuh oleh berbagai masakan. Mama tak biasanya menyiapkan makanan sebanyak ini. Karena aku selalu tak mau makan. Aku heran, siapa yang mengerjakan ini semua. Apa mama punya pembantu baru? Ah tidak. Aku duduk di salah satu dari empat kursi makan tersebut. Saat aku membalikan piring, ternyata ada surat di dalamnya. Kejutan apa lagi ini. Semoga dari demas. Dan bukan satria.
Selamat makan cantikku sayang. Aku yang masak lho, tentunya dibantuin mama tercinta. Semoga kamu suka ya. Kalau kamu suka kamu teriak ‘aku suka’ kalau kamu gak suka kamu teriak ‘aku gasuka’. Selamat makan cantik.
                                                                                                                                        Love
   Demas Aquila
                Aku suka. Sangat suka. Ya ampun aku tak pernah menyangka ini akan terjadi.
“AKU SUKA!!” aku berteriak.
                Sesaat setelah itu, demas dan mama keluar dari dapur. Mereka tersenyum. Aku membalas senyumnya. Senyum kebahagian terlihat diantara keduanya. Begitupun dengan aku.
“makasih mama sayang.” Aku mencoba memancing demas agar berkata sesuatu.
“oh jadi cuma sama mama doang? Sama aku ngga?”
“hahaha terhusus terimakasih sama Demas Aquila sayang”
“hehehe nah. Sama-sama rissa sayang.”
“hayu makan bareng-bareng disini.”
                Kami makan ber-tiga. Kurang lengkap rasanya tanpa papa disini. Papa sibuk dengan pekerjaannya. Tapi itu semua untuk keluarga. Dan aku bisa memahaminya.
                Kami berbagi cerita. Kesenangan yang ada di ruang makan ini. Tak terasa waktu terus berjalan. Aku dan demas harus pergi ke sekolah. Kami berpamitan pada mama. Mama terlihat senang pagi itu. Syukurlah. Mama senang aku pun sama. Kebahagiaan mama adalah sesuatu untukku.
                Aku dan demas beranjak dari rumah menuju sekolah. Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam. Begitupun pangeranku. Dalam diammu, aku hanya ingin merasakan keindahan matamu. Detik ini. Itu saja!. Kutemukan kata-kata itu saat aku membaca buku berjudul cinta itu kamu. Karya moammar emka. Penulis yang sangat kukagumi. Kata-katanya mewakili perasaan-perasaanku. Dan membuatku ingin membaca dan membacanya lagi. Dan lagi.
                Kami berjalan di koridor sekolah menuju lapangan tempat biasa kami upacara. Aku yakin kali ini aku tak akan pingsan seperti biasa. Perutku sudah kuisi dengan makanan yang sangat istimewa. Semoga.
                Aku dan demas sudah siap di lapangan sejak tadi. Kami bersenda gurau sambil menunggu murid-murid yang lain berkumpul. Aku senang. Aku ingin selalu seperti ini. Selamanya. Bersama demas. Pangeranku. Bintangku.
“demas…”
“iya Carissa?”
“hmm… you’re the first. The last. And my everything.” Aku menatap matanya. Aku tersenyum.
“you too.. you’re the first. The last. And everything.” Demas kembali menatapku. Dan membalas senyumku.
                Detak jantungku semakin terasa. Memacu. Sangat cepat. Indah. Sangat indah. Matanya indah seperti Kristal. Seperti mutiara. Bagiku. Aku selalu mengaguminya. Senyumnya merekah. Seperti bunga. Indah. Tuhan, sungguh sempurna ciptanmu ini. Bagiku. Dia sempurna. Sesempurna cintaku padanya. Mungkin ini yang dinamakan true love. Mungkin. Sungguh aku sangat mencintainya. Jujur.

…..















Demas
                Hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu rissa. Aku tak bisa memberikan apapun lagi. Karena cintamu tak bisa kubeli, dan tak bisa kugantikan oleh apapun. Cintaku hanya bisa kau rasakan rissa. Dan hatimulah yang merasakan. Aliran-aliran cinta yang mengalir dari hatiku ke hatimu. Dan akan selalu begitu.
                Aku ingin menunjukan padamu, bahwa aku menginginkanmu kembali padaku. Seperti dulu. Aku akan membuktikan padamu, aku mencintaimu. Tulus. Dari hatiku untukmu. Dan hanya kamu. Satu. Secantik apapun wanita itu, sesempurna apapun wanita itu, tak akan pernah menggantikanmu di hatiku. Selamanya.
                Aku akan selalu membuktikan padamu. Bagaimana pun caranya. Aku akan terus menunjukan padamu pembuktian-pembuktianku. Dan hari ini pun, aku akan menunjukannya padamu rissa.
                Disaat perjalanan menuju rumah rissa, aku merasakan bahagia. Entah mengapa. Dan aku senang atas hal itu. Aku baru merasa sebahagia ini. Dan itu pasti karena rissa. Dia bisa membuat hidupku lebih berwarna. Dan lebih berarti. Mungkin dia adalah cinta sejatiku. Amin. Semoga saja benar.
“ Assalamualaikum” tanganku mengetuk pintu.
“waalaikum salam” jawab seseorang dari dalam. Dan tak lama seseorang itu pun membukakan pintu.
“bi, aku ada sesuatu, tapi bibi jangan rissa ya, aku punya kejutan.”
“oh iya den, emang apa ya?” tanyanya heran. Lalu aku membisikan sesuatu kepadanya.
“sip ya bi”
“ok den, sip” kedua jempolnya terangkat.
                Aku mulai menyiapkan sesuatu. Dan untungnya aku mahir dalam memainkan jemariku diatas tone piano. Aku berdoa, agar apa yang aku lakukan berhasil, dan membuat rissa senang. Semoga.
                Jariku mulai bergerak. Satu persatu. Nada-nada yang indah mulai terdengar. Aku melantunkan instrument dari pianis terkenal. Dan lagu itu pun lagu kesukaan rissa. Aku mempelajarinya satu bulan. Hanya untuk rissa.
                Sang putri pun terbangun. Mungkin heran. Mungkin ia mendengar lagu kesukaannya. Ia beranjak dari kasurnya. Lalu keluar kamarnya. Dan melihat aku yang sedang memainkan pianonya. Dan melantunkan instrument kesukaannya. Dia tersenyum padaku. Cantik. Menawan. Amazing. Aku suka saat dia tersenyum. Indah. Senyumnya membuatku seperti serpihan kapas yang berterbangan. Indah sekali.
                Sang putri menghampiriku. Ia duduk disebelahku. Memandangiku yang sedang memainkan pianonya. Dan tersenyum. Setelah aku selesai, dia  meletakan tangannya di tone piano itu. Dan ia bernyanyi. Ia menyanyikan lagu dari simple plan – the reason is you.
I'm not a perfect person
There's many things I wish I didn't do
But I continue learning
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know

I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
and the reason is you

I'm sorry that I hurt you
It's something I must live with everyday
And all the pain I put you through
I wish that I could take it all away
And be the one who catches all your tears
Thats why i need you to hear

I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
and the reason is You

I'm not a perfect person
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know

I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
and the reason is you

I've found a reason to show
A side of me you didn't know
A reason for all that I do
And the reason is you
                Aku memandangnya tajam. Penuh pesona. Ia sempurna. Batinku berkata ia adalah cinta sejatiku. Dan aku hanya mencintainya. Satu. Untuk selamanya. Suaranya yang merdu membuatku menangis. Aku tersadar akan apa yang telah aku lakukan padanya. Dan apa balasan yang ia beri padaku. Aku menyesalinya. Sangat menyesalinya.
                Setelah selesai, dia menatapku. Dan begitupun aku. Ia mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipiku.
“I love that moment when you wipe my tears away and pull me close.”
                Ia tersenyum. Dan aku membalasnya.
“I always admire the beauty of your smile. because when you smile, I feel happy. the flowers are blooming. the birds sang merrily. and the world also smile because of you. I've always admired you. forever.” Aku menatapnya tajam.
“I did so. I admire your smile. smile of happiness. and I've always admired you. forever.”
                Kami bagaikan sepasang kekasih yang sedang berada dalam film percintaan. Tapi aku bahagia karena ini. semoga ini berlanjut lama. Bahkan selamanya.
                Hari ini akan aku habiskan waktuku bersama rissa. Dan hanya rissa. Aku akan membawanya ke bukit malam ini. Bukit cinta. Aku akan menunjukan sesuatu padanya. Istimewa. Semoga saja ia suka.
…..
                Malam ini begitu indah. Karena aku bersama orang yang aku cintai. Rissa. Aku akan membawanya ke bukit cinta. Semoga saja ia bahagia malam ini. Tepat seperti yang aku rencanakan, malam ini penuh bintang. Malam ini indah sekali. Dan semoga aku sukses memberikan yang terbaik kepada rissa. Amin.
“rissa, kita ke bukit cinta yu. Aku udah janji kan mau ajak kamu kesana malem-malem.”
“mau-mau. Mau banget. Tunggu ya aku ganti baju dulu.” Rissa berlari menuju kamarnya.
                Aku akan menunggumu rissa, sampai kapanpun. Tak lama setelah itu rissa selesai. Ia terlihat sangat cantik memakai dress biru muda. Rambutnya yang tergerai indah, ditambah dengan bandana biru muda membuatnya terlihat sangat menawan. Aku mengagumimu rissa. Bagaimanapun kamu. Kamu selalu menawan dihatiku. Seperti apapun kamu.
“putri bintang nya cantik banget ya hari ini. makin cinta deh jadinya. Hehehe”
“aiih, bisa aja deh pangeran kodok.” Rissa tertawa kecil. Ia meledekku sebenarnya.
“yah aku mah bagus ngasihnya putri bintang, eh malah dikasih pangeran kodok.” Aku cemberut manja, memancingnya agar memanjakanku.
“iya-iya deh sayang maaf. Hayu berangkat, aku udah gak sabar.” Rissa menarik tanganku.
                Angin malam ini sejuk. Tapi lumayan membuat kami berdua kedinginan. Rissa memelukku. Erat. Seperti tak ingin dilepaskan. Dan tak inginkan aku pergi. Semoga dugaanku benar. Aku membiarkannya. Kami berjalan dalam keheningan. Menikmati suasana yang sedang terjadi. Bahagia. Yang kurasakan.
                Sesampainya kami di bukit cinta. Aku menutup mata rissa. Aku ingin memberikan kejutan untuknya. Semoga saja dia suka. Amin.
“kok pake acara tutup mata segala sih?” gerutu rissa manja.
“udah deh nurut aja. Ada hadiah istimewa buat kamu.”
“iya iya nurut” rissa cemberut. Tapi tetap cantik.
“sekarang boleh liat”
“waaaaawwww” rissa terkejut. Dan dia tersenyum. Itu yang ku mau.
“gimana? Suka?”
“suka banget demas. Kamu romantis.”
“iya dong. Aku siapin ini khusus buat kamu.”
“wah makasih ya sayang.”
                Susunan lilin yang berbentuk love sengaja ku siapkan untuk rissa. Aku ingin membuatnya bahagia. Dan ternyata ia senang. Sangat senang bahkan. Alhamdulillah.
                Kami berbaring di dalam susunan lilin itu. Sambil melihat ke langit. Mellihat bintang lebih tepatnya. Rissa sangat mengagumi bintang. Entah mengapa aku tak tau. Banyak bintang dilangit. Dan sangat indah. Ditambah dengan kehadiran kunang-kunang yang membuat malam ini begitu istimewa. Aku bahagia malam ini.
“indah banget dem malem ini. aku seneng demas. Aku bahagia. Makasih ya sayang.”
“iya rissa sayang sama-sama. Bintangnya keliatan indah kan dari sini?”
“iya indah banget. Aku suka banget. Kunang-kunang nambah bikin malem ini istimewa dem. Seistimewa kamu di hati aku dem.”
“kenapa sih ris kamu suka banget sama bintang? Terlebih seistimewa kamu di hati aku riss.”
”karena menurut aku kita harus jadi bintang. Diantara kegelapan harus menjadi penerang. Dan harus bisa menerangi diri kita sendiri. Langit gelap, tapi bintangkan terang, dan bintang memancarkan cahaya sendiri, tanpa bantuan matahari.”
“iya bener ya. Kamu hebat rissa. Aku bangga sama kamu. Kamu cantik, pinter, cerdas, rajin ibadah lagi. Aku kagum banget sama kamu rissa.”
“inget gak boleh memuji orang berlebihan, atau mau aku lempar pake debu. Hahaha.”
“tapi aku gak bohong dan aku ga berlebihan kok. Kamu emang sempurna.”
“udah ah. Akunya malu.” Wajah rissa memerah. Penuh pesona.
                Kami menikmati malam ini di bukit cinta. Indaaaahhhh sekali. Aku bahagia bersama rissa. Rissa seperti bintang. Menjadi penerang di hidupku yang pernah hancur. Rissa telah membangun kembali puing-puing hidupku yang hancur. Aku mencintainya.
                Tak terasa malam semakin larut. Aku mengajak rissa pulang. Tapi sepertinya rissa masih ingin disini. Tapi udara semakin dingin. Aku tak ingin rissa sakit. Dengan berat hati kami pulang. Meninggalkan bukit cinta. Bukit yang menyimpan banyak kenangan. Tentang aku. Dan rissa.
                Sepanjang perjalanan rissa memelukku erat. Mungkin ia kedinginan. Udara memang cukup dingin. Rissa tak bisa terkana udara dingin. Karena ia bisa sakit setelahnya. Aku menjadi berpikir, rissa yang cantik, ceria, pintar bisa mengidap penyakit sebegitu parahnya. Aku tak tega melihatnya. Aku tak tega melihat rissa kesakitan. Aku hanya ingin selalu melihat tersenyum bahagia. Aku ingin wajahnya yang penuh pesona selalu berseri. Karena senyuman rissa itu sangat dahsyat. Bagiku.
                Kami sampai disebuah rumah yang sangat besar. Indah. Seperti pemiliknya. Rissa turun dari motorku. Ia mengigil. Sepertinya ia kembali sakit. Aku tak tega melihatnya.
“kamu sakit ya rissa? Maaf ya gara-gara aku ajak jalan kamu sakit.”
“engga kok demas aku gak sakit, cuma kedinginan aja. Jangan nyalahin diri kamu kaya gitu dong. Ini bukan salah kamu. Aku juga seneng banget malah kamu ajak aku ke bukit cinta.”
“yaudah kamu istirahat ya sayang. Aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa telepon aja aku. Aku siap tolong kamu kok” aku tersenyum.
“iya demas. Hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut.”
                Aku pergi. Meninggalkan rissa. Hatiku masih saja menyimpan perasaan tak enak. Aku merasa bersalah. Karena aku rissa sakit. Aku sangat menyesal. Aku gundah. Gelisah. Dan galau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar