Kamis, 24 Mei 2012

novel A


ENAM
Problem (again)
Carissa
Entah apa yang harus aku katakan tentang apa yang kurasakan saat ini. Masalah kini datang lagi. Padahal baru saja aku selesai menyelesaikan masalahku.
Mengapa Tuhan tega memberiku masalah lagi? Masalah baru saja selesai, tapi mengapa muncul lagi masalah yang baru? Sungguh aku tak sanggup. Aku tak kuat. Semenjak mama pergi aku hanya sendiri, tak ada yang membantuku untuk menyelesaikan setiap masalahku.
Tuhan tolong aku, jangan kau berikan masalah yang begitu berat. Baru saja aku kehilangan mama, tolong Tuhan jangan berikan aku masalah dulu. Aku takut aku akan putus asa. Tuhan tolong kuatkan aku.
                Aku ingin menceritakan masalah ini kepada Demas. Tapi aku tak ingin Demas menjadi pusing karena masalahku ini. aku tak ingin membuat orang lain terbebani dengan masalahku. Cukup aku saja yang merasakan. Tapi aku sangat ingin berbagi cerita agar aku bisa tenang.
                Demas. Dan Satria. Hanya merekalah yang bisa membuatku tenang saat ini. Sungguh. Tapi aku tak ingin jika Demas ikut terbebani dengan masalahku. Karena Demas sangat dekat dengan keluargaku.
                Jujur, saat ini aku sangat ingin bercerita kepada Satria. Satria sangat dewasa. Dan aku yakin Satria akan membuatku menjadi lebih tenang. Tapi jika begitu, aku sangat egois. Aku hanya datang ketika aku sedang membutuhkannya. Tapi aku menghilang ketika aku tak membutuhkannya lagi.
                Jadi aku harus bercerita kepada siapa? Masalahku ini sangat berat menurutku. Aku belum bisa menerima masalah ini sendirian. Karena aku tak tau harus dengan cara apa aku menghadapinya.
Aaaarrrrgggghhhh!!!!!!
                Rasanya ingin sekali menarik rambutku sekeras mungkin. Tapi itu hanya akan menyakitiku saja.
                Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Dengan sigap aku langsung mengangkatnya. Dan ternyata ini Satria. Alhamdulillah Satria datang di waktu yang tepat.

“Hey Rissa.”
“Hey Sat, ada apa?”
“Enggak, lagi pengen telepon kamu aja. Hati aku kaya yang nyuruh aku nelepon kamu.”
“Wah kangen ya?”
“Sepertinya begitu Ris. Eh kok suara kamu kaya abis nangis? Kamu kenapa?”
“Lagi flu, jadi gini deh suaranya.”
“Bohong kamu. Aku tau kamu abis nangis. Kenapa Ris? Cerita dong!”
“Besok bisa ketemu gak Sat di kantin? Aku mau cerita.”
“Oh bisa-bisa, jam istirahat ya! Ditunggu.”
“Iya ok. Eh Sat udah dulu ya, ngantuk hehehe.”
“Ok deh. Selamat tidur Carissa.”
                Sudah kuduga. Satria selalu tau apa yang terjadi padaku. Dari dulu. Sejak pertama kita dekat. Aku merasa nyaman bersamanya. Aku sayang padanya. Tapi sayang seperti kepada kakak. Bukan sayang seperti aku mencintai Demas.
                Besok aku akan menceritakan semuanya kepada Satria. Semoga saja aku bisa merasa lebih tenang setelah aku menceritakan semuanya kepada Satria.
                Andai saja mama masih ada. Pasti mama akan membantuku menyelesaikan masalah ini.
Mama aku kangen. I love you mom no matter what we go through & no matter how much we argue, because I know, in the end, you'll always be there for me. I miss you so mom. I want you here with me mom. Tapi takdir telah memisahkan kita mom. But I believe, we’ll meet again in the heaven later.
                Aku merasa lebih tenang setelah aku mengingat mama. Dan sekarang aku harus tidur. semoga saja aku bisa bermimpi indah. Dan mimpi itu bersama mama. Amin.

                Lesu. Malas berangkat sekolah. Tak ingin. Tak sanggup. Tak sanggup menerima apa yang nanti akan terjadi di sekolah. Aku terlalu pesimis saat ini. Aku putus asa. Sepertinya.
“Kalau muka kamu suntuk, bumi akan merasakan aura kamu yang negative, jadi bumi juga gak mau membantu kamu. Tapi kalau muka kamu seger, semangat, bumi akan merasakan aura kamu yang positive, jadi bumi pasti akan bantu dan dukung kamu. Jadi kamu gak boleh suntuk. Kamu harus janji sama mama, kalau kamu bakal terus semangat jalanin hidup ini. Entah apa yang sedang kamu rasakan dan kamu alami. Kamu harus selalu ingat pesan mama ini ya sayang. Love you.”
                Tiba-tiba aku teringat pesan mama yang satu ini. Aku memang sudah janji kepada mama bahwa aku tak akan pernah putus asa. Tapi saat ini beda masalahnya.
Mah aku memang sudah janji sama mama bahwa aku gak akan putus asa. Dan gak akan lesu. Tapi sekarang keadaannya beda mah. Mama udah gak ada di samping aku lagi. Gak ada lagi yang bisa bantu aku nyelesain masalah aku mah. Mama aku butuh mama. Aku mau mama ada disini.
                Untuk mama. Aku takkan lesu lagi. aku takan putus asa lagi. Demi mama aku akan terus bersemangat menjalani hidupku ini. Aku janji mah. Aku gak akan pernah putus asa lagi. Promise.
                Mobilku melaju menuju sekolah. Aku tak ingin diantar supir hari ini. Aku ingin pergi sendiri. Aku harus mandiri. Tak boleh tergantung pada orang lain. Jika suatu saat supirku tak ada aku harus bisa sendiri.
                Satu-satunya hal yang membuatku semangat pergi ke sekolah saat ini adalah bertemu Satria. Aku ingin segera menceritakan semuanya kepada Satria. Aku ingin aku merasa tenang. Aku tak ingin hatiku merasa selalu seperti ini. Karena aku lelah putus asa.

                Bel berbunyi member tanda bahwa aku harus segera pergi ke kantin dan menemui Satria. Aku tersenyum. Langkah kakiku mengantarkan aku bertemu Satria. Pria dewasa itu sedang duduk di bangku favoritenya. Aku segera menghampirinya.
“Hey, duduk.”
“Makasih.”
“Iya cama-cama.” Katanya manja.
“Hahaha cama-cama.”
“Hehehe. Oh iya kamu mau cerita apa Ris?”
“Sebelumnya maaf ya aku sering ngerepotin kamu karena aku sering cerita sama kamu.”
“Santai aja lagi Ris. Aku seneng kok kalau kamu mau cerita sama aku.”
“Jadi gini Sat, papa mau nikah lagi. Padahal mama baru aja pergi. Tapi kenapa papa cepet banget dapet penggantinya mama. Aku belum sanggup punya mama tiri Sat, bahkan aku gak mau punya mama tiri. Lebih baik aku hanya hidup berdua sama papa dari pada aku harus punya mama tiri. Aku siap jagain papa. Aku siap Sat. Tapi kenapa papa malah lebih milih nyari mama baru buat aku. Kalau emang alesan papa karena biar aku ada temen, aku juga udah ngerasa gak kesepian lagi. aku udah mulai terbiasa sama kepergian mama. Toh aku juga punya banyak temen yang bisa nemenin aku disaat aku lagi sedih.”
“Jangan nangis Rissa cantik. Nanti cantiknya luntur loh. Mungkin papa kamu kesepian kali Ris. Atau mungkin papa kamu kaya gitu karena papa kamu gak mau terus menyesali kepergian mama kamu. Aku yakin kayanya papa kamu kaya gitu karena ada alesan yang jelas Ris. Kalau emang kamu belum sanggup kamu bilang ke papa kamu dengan cara yang baik-baik. Semoga aja papa kamu ngerti Ris.”
“Aku aja udah bisa ikhlasin kepergian mama. Masa papa belum? Papa kan lebih dewasa dari aku. Harusnya papa bisa ikhlasin mama. Bukan malah mau cari pengganti mama kaya gini. Aku udah coba bilang, tapi papa kaya gak dengerin aku Sat. Aku kecewa sama papa. Kenapa sih laki-laki itu gampang banget ngelupain orang meskipun orang itu udah lama ada di hidupnya?”
“Papa kamu bukan mau ngelupain mama kamu atau nyari pengganti mama kamu. Karena aku yakin mama kamu gak bisa digantiin sama siapapun di hati papa kamu. Ya mungkin benar kata kamu tadi, papa kamu mau nyariin temen curhat buat kamu. Gak semua laki-laki gampang ngelupain orang yang sangat dia sayang Ris. Jangankan orang yang udah bertahun-tahun ada di hidupnya, orang yang baru dateng di kehidupannya aja kadang susah dilupain. Ya contohnya aku. Aku gak bisa lupain kamu Ris.”
                Pembicaraan kami sontak berhenti. Hening. Sepertinya Satria salah ucap. Aku kaget mendengar apa yang Satria ucapkan. Apa itu benar? Apa selama ini memang dugaanku benar bahwa Satria menyayangiku seperti aku mencintai Demas?
“Eh sorry maksud aku bukan gitu. Maksud aku , aku gak bisa lupain kakak aku yang udah meninggal itu.”
“Tapi buktinya papa dengan mudahnya dapet pengganti mama. Berarti kan dia udah dapet penggantinya Sat.”
“Sekarang gini deh, kamu tanya sama papa kamu alesannya yang kuat kenapa papa kamu mau nikah lagi. Dan kamu coba ngertiin papa kamu sama penjelasan-penjelasan kamu yang masuk akal. Kamu keluarin semua alesan kamu kenapa kamu gak mau punya mama baru. Kalau emang papa kamu tetep mau punya istri baru, kamu coba sadarin papa kamu lagi Ris, kalau mama kamu itu gak bisa digantiin sama siapapun buat kamu.”
“Iya Sat, makasih ya kamu udah bikin aku jadi tenang lagi. Makasih banyak ya Sat.”
                Aku memeluknya. Spontan. Aku tak mengerti mengapa aku berani memeluknya. Padahal tak pernah ada laki-laki yang berani aku peluk kecuali papa. Demas saja sampai saat ini belum pernah aku peluk. Tapi mengapa aku berani memeluk Satria?
                Aku seperti memiliki kontak batin dengan Satria. Aku merasa nyaman bersamanya. Apa sebenarnya aku mencintai Satria? Bukan Demas? Tapi aku mencintai Demas. Dan hanya ingin mencintai Demas.
                Aku sangat berharap menjadi adik kandung Satria. Agar aku bisa menceritakan semua masalahku padanya. Karena setiap aku bercerita padanya, aku selalu merasa nyaman. Dan tenang.










Satria
When I don't see you, I'm perfectly fine and I can move on. But the second I see your face, I'm back to wishing you were mine again.

               
Aku memang telah berjanji pada diriku untuk bisa move on dari Rissa. Tapi jujur aku belum bisa melakukan itu. Apalagi saat ini Rissa sedang merasa sedih dengan masalahnya. Aku tak bisa meninggalkannya sendirian. Aku tak tega melihatnya bersedih. Karena aku hanya ingin melihat ia tersenyum bahagia.
                Maafkan aku jika aku belum bisa melakukan janjiku. Aku belum sanggup jauh dari Rissa. Aku tak bisa tanpa Rissa. Rissa terlalu berarti untukku. Rissa is my everything. And Rissa is my happiness. Aku tak bisa sehari saja tanpa memikirkannya. Karena Rissa telah melekat di pikiranku. Aku tak bisa sehari saja tak merasa sayang padanya. Karena Rissa telah melekat dan tersimpan rapi di hatiku.
                Dan maaf aku tak sengaja mengutarakan perasaanku bahwa aku tak bisa melupakan Rissa. Karena hatiku terbawa suasana. Aku terlalu mengagumi Rissa. Dan aku tak bisa melihat air mata Rissa jatuh dari kelopak matanya yang indah. Air mata Rissa adalah intan yang sangat indah yang mahal untuk dikeluarkan.
                Aku hanya ingin melihat ia tersenyum. Tersenyum bahagia. Aku tak peduli jika Rissa hanya ada disaat ia merasa sedih. Aku tak peduli apa yang akan aku rasakan jika aku terus mencintai Rissa.
                Aku terlalu munafik. Aku terlalu munafik untuk membuang rasa cintaku kepada Rissa. Karena buktinya aku tak peduli dengan perasaanku jika aku terus mencintai Rissa. Aku terus mencintai Rissa walaupun aku tau Rissa bukan untukku.
                Tapi tenang saja, cintaku takan menyakiti Rissa. Cintaku takkan membuat kebahagian Rissa lenyap. Justru cintaku akan tetap ku jaga agar tak melukai Rissa.
                Sepertinya aku tak bisa menjalankan janjiku untuk berhenti mencintai Rissa. Sepertinya aku akan tetap mencintai Rissa, walaupun Rissa tak mencintaiku. Aku akan tetap bertahan. Karena aku yakin cintaku untuknya. Meskipun pada akhirnya memang Rissa bukan untukku.
                Cintaku akan tulus menyayanginya. Cintaku akan dengan sabar menantinya. Cintaku akan sekuat hati menjaganya. Walaupun dari jarak yang jauh. Dan walaupun Rissa tak mengetahuinya.
                Rissa memelukku tadi. Aku tak pernah menyangka ini akan terjadi. Aku bahagia. Karena yang aku tau Rissa tidak pernah berani untuk memeluk laki-laki. Tapi ia melakukannya padaku. Itu berarti Rissa nyaman denganku. Aku sangat senang. Untung saja Rissa tak melihat wajahku saat itu. Wajahku yang merah merona. Karena aku sangat bahagia.

Abrilla
                Saat itu, aku sedang berada di kantin. Dan saat itu pula aku melihat Satria dan Rissa sedang berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya serius. Karena aku melihat Rissa menangis saat itu. Aku ingin menghampirinya. Tapi aku takut membuat mereka berdua terganggu. Jadi aku putuskan untuk memperhatikannya dari jauh.
                Aku memperhatikannya sejak tadi, untungnya tak ada yang melihatku sedang memperhatikan mereka. Sesekali Satria mengusap air mata yang jatuh dari mata Rissa. Aku terus memperhatikannya. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
                Rissa terus menangis, dan terus bercerita. Satria lagi-lagi mengusap air matanya. Sepertinya Rissa sedang memiliki masalah yang membuatnya sangat terpukul. Sungguh aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Sepertinya sangat serius.
                Rissa menundukan kepalanya, Satria membelai rambutnya. Tapi tak lama. Lalu kulihat mereka sama-sama hening sejenak. Mungkin ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya. Aku tak tau persis karena aku tak tau apa masalahnya.
                Tiba-tiba hatiku menangis. Melihat mereka berdua. Bukan hanya karena mereka terlihat sangat dekat, tapi saat aku melihat Rissa memeluk Satria. Yang aku tau Rissa tak pernah memeluk laki-laki kecuali papanya. Demas saja kekasihnya yang sangat ia cintai tak pernah ia peluk. Tapi mengapa ia berani memeluk Satria?
                Aku tak kuat menahan air mataku. Aku berlari menuju kamar mandi. Untung saja mereka tak melihatku saat itu. Jujur aku sakit hati melihat mereka berdua sangat dekat. Karena baru kusadari bahwa aku mencintai Satria. Sejak saat Satria meminta bantuanku.
                Bukankah Satria telah berjanji untuk tak mencintai Rissa lagi? Bukankah Satria sudah ingin move on dari Rissa? Lalu mengapa ia meminta bantuanku untuk melupakan Rissa, jika pada akhirnya ia masih mengharapkan Rissa?  Sungguh aku tak bisa menerima ini.
                Tapi aku juga tak boleh egois. Aku tak boleh hanya mementingkan perasaanku sendiri. Mungkin saja Satria memang tidak mencintaiku. Seperti aku mencintainya. Mungkin saja memang Satria hanya mencintai Rissa.
                Tapi aku akan tetap mencintai Satria. Sampai pada akhirnya ia sadar bahwa aku mencintainya. Aku ingin mencintai Satria, seperti Satria mencintai Rissa. Tak peduli akan seberapa sakit hatiku jika tetap mencintainya. Dan tak peduli jika memang benar ia bukan untukku.
                Cintaku tulus untuknya. Cinta ini ada karena aku sangat mengaguminya. Dan tak peduli apa yang akan terjadi nantinya. Aku mencintai orang yang tak mencintaiku.
                Demas dicintai Rissa. Demas mencintai Rissa. Rissa dicintai Satria. Dan aku mencintai Satria. Entah cinta segi berapa yang kami alami saat ini. Demas bersahabat dengan Satria. Dan Rissa bersahabat dengan aku.    
                Sebenarnya kami semua bersahabat, tapi kami juga saling mencintai. Wajar jika mencintai karena sahabat. Tapi kami mencintai lebih dari sebatas sahabat. Dan kami ingin saling memiliki, walaupun mungkin diantara kami ada yang tidak akan memiliki seseorang yang ia inginkan.
                Sahabat menjadi cinta. Seperti itulah kira-kira kisah tentang aku, Rissa, Demas dan Satria. Tapi aku berharap persahabatan ini tidak akan hancur hanya karena cinta. Karena yang seharusnya persahabatan itu ada karena cinta.
                Semoga Demas tak melihat kejadian tadi siang. Karena aku tak ingin Demas dan Rissa berpisah. Bukan karena aku mencintai Satria, tapi memang aku tak ingin mereka berdua berpisah. Mereka sudah seperti pasangan yang serasi.
                Dan semoga suatu saat aku bisa menjadi pasangan yang serasi dengan Satria. Semoga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar