ENAM
Problem (again)
Entah apa yang harus aku katakan
tentang apa yang kurasakan saat ini. Masalah kini datang lagi. Padahal baru
saja aku selesai menyelesaikan masalahku.
Tuhan tolong aku,
jangan kau berikan masalah yang begitu berat. Baru saja aku kehilangan mama,
tolong Tuhan jangan berikan aku masalah dulu. Aku takut aku akan putus asa.
Tuhan tolong kuatkan aku.
Aku ingin menceritakan
masalah ini kepada Demas. Tapi aku tak ingin Demas menjadi pusing karena
masalahku ini. aku tak ingin membuat orang lain terbebani dengan masalahku.
Cukup aku saja yang merasakan. Tapi aku sangat ingin berbagi cerita agar aku
bisa tenang.
Demas. Dan Satria .
Hanya merekalah yang bisa membuatku tenang saat ini. Sungguh. Tapi aku tak
ingin jika Demas ikut terbebani dengan masalahku. Karena Demas
sangat dekat dengan keluargaku.
Jujur,
saat ini aku sangat ingin bercerita kepada Satria. Satria sangat dewasa. Dan aku yakin Satria akan membuatku menjadi lebih
tenang. Tapi jika begitu, aku sangat egois. Aku hanya datang ketika aku sedang
membutuhkannya. Tapi aku menghilang ketika aku tak membutuhkannya lagi.
Jadi
aku harus bercerita kepada siapa? Masalahku ini sangat berat menurutku. Aku
belum bisa menerima masalah ini sendirian. Karena aku tak tau harus dengan cara apa aku menghadapinya.
Aaaarrrrgggghhhh!!!!!!
Rasanya
ingin sekali menarik rambutku sekeras mungkin. Tapi itu hanya akan menyakitiku
saja.
Tiba-tiba
handphoneku berbunyi. Dengan sigap aku
langsung mengangkatnya. Dan ternyata
ini Satria. Alhamdulillah
Satria datang di waktu yang tepat.
“Hey Rissa.”
“Hey Sat, ada apa?”
“Enggak, lagi pengen telepon kamu aja. Hati aku kaya yang
nyuruh aku nelepon kamu.”
“Wah kangen ya?”
“Sepertinya begitu Ris. Eh kok suara kamu kaya abis nangis?
Kamu kenapa?”
“Lagi flu, jadi gini deh suaranya.”
“Bohong kamu. Aku tau kamu abis nangis. Kenapa Ris ?
Cerita dong!”
“Besok bisa ketemu gak Sat di kantin? Aku mau cerita.”
“Oh bisa-bisa, jam istirahat ya! Ditunggu.”
“Iya ok. Eh Sat udah dulu ya, ngantuk hehehe.”
“Ok deh. Selamat tidur Carissa .”
Sudah
kuduga. Satria selalu tau apa yang terjadi padaku. Dari dulu. Sejak pertama
kita dekat. Aku merasa nyaman bersamanya. Aku sayang padanya. Tapi sayang
seperti kepada kakak. Bukan sayang seperti aku mencintai Demas.
Besok
aku akan menceritakan semuanya kepada Satria. Semoga saja aku bisa merasa lebih
tenang setelah aku menceritakan semuanya kepada Satria.
Andai
saja mama masih ada. Pasti mama akan membantuku menyelesaikan masalah ini.
Aku
merasa lebih tenang setelah aku mengingat mama. Dan
sekarang aku harus tidur. semoga saja aku bisa bermimpi indah. Dan mimpi itu bersama mama. Amin.
…
Lesu.
Malas berangkat sekolah. Tak ingin. Tak sanggup. Tak sanggup menerima apa yang
nanti akan terjadi di sekolah. Aku terlalu pesimis saat ini. Aku putus asa.
Sepertinya.
“Kalau muka kamu
suntuk, bumi akan merasakan aura kamu yang negative, jadi bumi juga gak mau
membantu kamu. Tapi kalau muka kamu seger, semangat, bumi akan merasakan aura
kamu yang positive, jadi bumi pasti akan bantu dan dukung kamu. Jadi kamu gak
boleh suntuk. Kamu harus janji sama mama, kalau kamu bakal terus semangat
jalanin hidup ini. Entah apa yang sedang kamu rasakan dan kamu alami. Kamu
harus selalu ingat pesan mama ini ya sayang. Love you.”
Tiba-tiba aku teringat pesan
mama yang satu ini. Aku memang sudah janji kepada mama bahwa aku tak akan
pernah putus asa. Tapi saat ini beda masalahnya.
Mah aku memang sudah
janji sama mama bahwa aku gak akan putus asa. Dan
gak akan lesu. Tapi sekarang keadaannya beda mah. Mama udah gak ada di
samping aku lagi. Gak ada lagi yang bisa bantu aku nyelesain masalah aku mah. Mama aku butuh mama. Aku
mau mama ada disini.
Untuk
mama. Aku takkan lesu lagi. aku takan putus asa lagi. Demi mama aku akan terus
bersemangat menjalani hidupku ini. Aku
janji mah. Aku gak akan pernah putus asa lagi. Promise.
Mobilku melaju menuju
sekolah. Aku tak ingin diantar supir hari ini. Aku ingin pergi sendiri. Aku
harus mandiri. Tak boleh tergantung pada orang lain. Jika suatu saat supirku
tak ada aku harus bisa sendiri.
Satu-satunya
hal yang membuatku semangat pergi ke sekolah saat ini adalah bertemu Satria.
Aku ingin segera menceritakan semuanya kepada Satria. Aku ingin aku merasa
tenang. Aku tak ingin hatiku merasa selalu seperti ini. Karena aku lelah putus
asa.
…
Bel
berbunyi member tanda bahwa aku harus segera pergi ke kantin dan menemui
Satria. Aku tersenyum. Langkah kakiku mengantarkan aku bertemu Satria. Pria
dewasa itu sedang duduk di bangku favoritenya.
Aku segera menghampirinya.
“Hey, duduk.”
“Makasih.”
“Iya cama-cama.” Katanya manja.
“Hahaha cama-cama.”
“Hehehe. Oh iya kamu mau cerita apa Ris?”
“Sebelumnya maaf ya aku sering ngerepotin kamu karena aku
sering cerita sama kamu.”
“Santai aja lagi Ris. Aku seneng kok kalau kamu mau cerita
sama aku.”
“Jadi gini Sat, papa mau nikah lagi. Padahal mama baru aja
pergi. Tapi kenapa papa cepet banget dapet penggantinya mama. Aku belum sanggup
punya mama tiri Sat, bahkan aku gak mau punya mama tiri. Lebih baik aku hanya
hidup berdua sama papa dari pada aku harus punya mama tiri. Aku siap jagain
papa. Aku siap Sat.
Tapi kenapa papa malah lebih milih
nyari mama baru buat aku. Kalau emang alesan papa karena biar aku ada temen,
aku juga udah ngerasa gak kesepian lagi. aku udah mulai terbiasa sama kepergian
mama. Toh aku juga punya banyak temen yang bisa nemenin aku disaat aku lagi
sedih.”
“Jangan nangis Rissa cantik. Nanti cantiknya luntur loh.
Mungkin papa kamu kesepian kali Ris. Atau mungkin papa kamu kaya gitu karena
papa kamu gak mau terus menyesali kepergian mama kamu. Aku yakin kayanya papa
kamu kaya gitu karena ada alesan yang jelas Ris. Kalau emang kamu belum sanggup
kamu bilang ke papa kamu dengan cara
yang baik-baik. Semoga aja papa kamu ngerti Ris.”
“Aku aja udah bisa ikhlasin kepergian mama. Masa papa belum?
Papa kan lebih dewasa dari aku. Harusnya papa bisa ikhlasin mama. Bukan malah
mau cari pengganti mama kaya gini. Aku udah coba bilang, tapi papa kaya gak
dengerin aku Sat.
Aku kecewa sama papa. Kenapa sih
laki-laki itu gampang banget ngelupain orang meskipun orang itu udah lama ada
di hidupnya?”
“Papa kamu bukan mau ngelupain mama kamu atau nyari
pengganti mama kamu. Karena aku yakin mama kamu gak bisa digantiin sama
siapapun di hati papa kamu. Ya mungkin benar kata kamu tadi, papa kamu mau
nyariin temen curhat buat kamu. Gak semua laki-laki gampang ngelupain orang
yang sangat dia sayang Ris. Jangankan orang yang udah bertahun-tahun ada di
hidupnya, orang yang baru dateng di kehidupannya aja kadang susah dilupain. Ya
contohnya aku. Aku gak bisa lupain kamu Ris.”
Pembicaraan
kami sontak berhenti. Hening. Sepertinya
Satria salah ucap. Aku kaget
mendengar apa yang Satria ucapkan. Apa itu benar? Apa selama ini memang
dugaanku benar bahwa Satria menyayangiku seperti aku mencintai Demas?
“Eh sorry maksud aku bukan gitu. Maksud aku , aku gak bisa
lupain kakak aku yang udah meninggal itu.”
“Tapi buktinya papa dengan mudahnya dapet pengganti mama.
Berarti kan dia udah dapet penggantinya Sat.”
“Sekarang gini deh, kamu tanya
sama papa kamu alesannya yang kuat kenapa papa kamu mau nikah lagi. Dan kamu coba ngertiin papa kamu sama
penjelasan-penjelasan kamu yang masuk akal. Kamu keluarin semua alesan kamu
kenapa kamu gak mau punya mama baru. Kalau emang papa kamu tetep mau punya istri baru, kamu coba sadarin
papa kamu lagi Ris, kalau mama kamu itu gak bisa digantiin sama siapapun buat
kamu.”
“Iya Sat, makasih ya kamu udah bikin aku jadi tenang lagi.
Makasih banyak ya Sat.”
Aku
memeluknya. Spontan. Aku tak mengerti mengapa aku berani memeluknya. Padahal
tak pernah ada laki-laki yang berani aku peluk kecuali papa. Demas saja sampai
saat ini belum pernah aku peluk. Tapi mengapa aku berani memeluk Satria?
Aku
seperti memiliki kontak batin dengan Satria. Aku merasa nyaman bersamanya. Apa
sebenarnya aku mencintai Satria? Bukan Demas ?
Tapi aku mencintai Demas. Dan hanya
ingin mencintai Demas.
Aku
sangat berharap menjadi adik kandung Satria. Agar aku bisa menceritakan semua
masalahku padanya. Karena setiap aku bercerita padanya, aku selalu merasa
nyaman. Dan tenang.
Satria
When I don't see you, I'm perfectly fine and I can move on. But the
second I see your face, I'm back to wishing you were mine again.
Aku memang telah berjanji pada
diriku untuk bisa move on dari Rissa.
Tapi jujur aku belum bisa melakukan itu. Apalagi saat ini Rissa sedang merasa
sedih dengan masalahnya. Aku tak bisa meninggalkannya sendirian. Aku tak tega
melihatnya bersedih. Karena aku hanya ingin melihat ia tersenyum bahagia.
Maafkan
aku jika aku belum bisa melakukan janjiku. Aku belum sanggup jauh dari Rissa.
Aku tak bisa tanpa Rissa. Rissa terlalu berarti untukku. Rissa is my
everything. And Rissa is my happiness. Aku tak bisa sehari saja tanpa
memikirkannya. Karena
Rissa telah melekat di pikiranku.
Aku tak bisa sehari saja tak merasa sayang padanya. Karena Rissa
telah melekat dan tersimpan rapi di hatiku.
Aku
hanya ingin melihat ia tersenyum. Tersenyum bahagia. Aku tak peduli jika Rissa
hanya ada disaat ia merasa sedih. Aku tak peduli apa yang akan aku rasakan jika
aku terus mencintai Rissa.
Aku
terlalu munafik. Aku terlalu munafik untuk membuang rasa cintaku kepada Rissa.
Karena buktinya aku tak peduli dengan perasaanku jika aku terus mencintai Rissa.
Aku terus mencintai Rissa walaupun aku tau Rissa bukan untukku.
Tapi
tenang saja, cintaku takan menyakiti Rissa. Cintaku takkan membuat kebahagian
Rissa lenyap. Justru cintaku akan tetap ku jaga agar tak melukai Rissa.
Sepertinya
aku tak bisa menjalankan janjiku untuk berhenti mencintai Rissa. Sepertinya aku
akan tetap mencintai Rissa, walaupun Rissa tak mencintaiku. Aku akan tetap
bertahan. Karena aku yakin cintaku untuknya. Meskipun pada akhirnya memang
Rissa bukan untukku.
Cintaku
akan tulus menyayanginya. Cintaku akan dengan sabar menantinya. Cintaku akan
sekuat hati menjaganya. Walaupun dari jarak yang jauh. Dan
walaupun Rissa tak mengetahuinya.
Rissa
memelukku tadi. Aku tak pernah menyangka ini akan terjadi. Aku bahagia. Karena
yang aku tau Rissa tidak pernah berani untuk memeluk laki-laki. Tapi ia
melakukannya padaku. Itu berarti Rissa nyaman denganku. Aku sangat senang.
Untung saja Rissa tak melihat wajahku saat itu. Wajahku yang merah merona.
Karena aku sangat bahagia.
Abrilla
Saat
itu, aku sedang berada di kantin. Dan
saat itu pula aku melihat Satria dan Rissa sedang berbincang. Entah apa yang
mereka bicarakan. Tapi sepertinya serius. Karena aku melihat Rissa menangis
saat itu. Aku ingin menghampirinya. Tapi aku takut membuat mereka berdua
terganggu. Jadi aku putuskan untuk memperhatikannya dari jauh.
Aku
memperhatikannya sejak tadi, untungnya tak ada yang melihatku sedang
memperhatikan mereka. Sesekali
Satria mengusap air mata yang
jatuh dari mata Rissa. Aku terus memperhatikannya. Penasaran dengan apa yang
mereka bicarakan.
Rissa
terus menangis, dan terus bercerita. Satria lagi-lagi mengusap air matanya. Sepertinya Rissa
sedang memiliki masalah yang membuatnya sangat terpukul. Sungguh aku penasaran
dengan apa yang mereka bicarakan. Sepertinya sangat serius.
Rissa
menundukan kepalanya, Satria membelai rambutnya. Tapi tak lama. Lalu kulihat
mereka sama-sama hening sejenak. Mungkin ada sesuatu yang terjadi diantara
keduanya. Aku tak tau persis karena aku tak tau apa masalahnya.
Tiba-tiba
hatiku menangis. Melihat mereka berdua. Bukan hanya karena mereka terlihat
sangat dekat, tapi saat aku melihat Rissa memeluk Satria. Yang aku tau Rissa
tak pernah memeluk laki-laki kecuali papanya. Demas saja kekasihnya yang sangat
ia cintai tak pernah ia peluk. Tapi mengapa ia berani memeluk Satria?
Aku tak
kuat menahan air mataku. Aku berlari menuju kamar mandi. Untung saja mereka tak
melihatku saat itu. Jujur aku sakit hati melihat mereka berdua sangat dekat. Karena
baru kusadari bahwa aku mencintai Satria. Sejak saat Satria meminta bantuanku.
Tapi
aku juga tak boleh egois. Aku tak boleh hanya mementingkan perasaanku sendiri.
Mungkin saja Satria memang tidak mencintaiku. Seperti aku mencintainya. Mungkin
saja memang Satria hanya mencintai Rissa.
Tapi
aku akan tetap mencintai Satria. Sampai pada akhirnya ia sadar bahwa aku
mencintainya. Aku ingin mencintai Satria, seperti Satria mencintai Rissa. Tak
peduli akan seberapa sakit hatiku jika tetap mencintainya. Dan tak peduli jika memang benar ia bukan untukku.
Cintaku
tulus untuknya. Cinta ini ada karena aku sangat mengaguminya. Dan tak peduli apa yang akan terjadi nantinya. Aku
mencintai orang yang tak mencintaiku.
Demas
dicintai Rissa. Demas mencintai Rissa. Rissa dicintai Satria. Dan aku mencintai Satria. Entah cinta segi berapa
yang kami alami saat ini. Demas bersahabat dengan Satria. Dan Rissa
bersahabat dengan aku.
Sebenarnya
kami semua bersahabat, tapi kami juga saling mencintai. Wajar jika mencintai
karena sahabat. Tapi kami mencintai lebih dari sebatas sahabat. Dan kami ingin saling memiliki, walaupun mungkin
diantara kami ada yang tidak akan memiliki seseorang yang ia inginkan.
Sahabat
menjadi cinta. Seperti itulah kira-kira kisah tentang aku, Rissa, Demas dan
Satria. Tapi aku berharap persahabatan ini tidak akan hancur hanya karena
cinta. Karena yang seharusnya persahabatan itu ada karena cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar