Kamis, 31 Mei 2012

novel A


TUJUH
Yang Tak Terduga
Satria
                Hari ini aku dimintai tolong oleh Rissa. Ia memintaku untuk datang ke rumahnya, dan ia memintaku untuk membantuku membujuk papanya. Padahal aku tak mengenal papanya. Aku hanya tau papanya dari cerita Rissa saja. Aku takut papa Rissa akan menyangka aku ingin ikut campur dengan masalah keluarganya.
                Tapi Rissa memaksaku untuk membantunya. Akhirnya aku memberanikan diriku untuk datang kerumahnya. Karena aku ingin membantu Rissa mendapatkan kebahagiaannya lagi.
                Aku dan Rissa sedang menunggu om Mario di ruang tamu. Aku berharap aku tak akan salah bicara. Dan akhirnya om Mario datang. Kami duduk bertiga di ruang tamu. Sebenarnya aku takut. Aku takut akan salah bicara. Aku takut aku malah membuat masalah lebih rumit. Tapi demi Rissa aku akan berani.
                Aku mencoba berbincang sejenak. Basa basi terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba pembicaraan kami terhenti, ketika om Mario melihat tanda yang ada di keningku.
“Satria, itu keningnya kenapa?”
“Oh ini tanda dari lahir om. Ada apa om?”
“Om jadi ingat sesuatu.”
“Apa om?”
“Tanda yang ada di kening kamu sama seperti tanda yang ada di punggung mamanya Rissa.”
“Yang bener om? Hanya kebetulan mungkin om.”
“Tapi om gak yakin kalau itu cuma kebetulan.”
“Maksud om?”
“Nama panjang kamu siapa?”
Satria Surya Pratama om.”

                Sejak saat itu om Mario tersentak. Sepertinya ia kaget. Dan sepertinya ia tau sesuatu. Tapi entah apa itu. Aku penasaran.
“Satria, kamu anak om, dan kamu kakaknya Rissa.”
                Aku dan Rissa saat itu benar-benar kaget. Dan tak menduga. Jadi selama ini aku bukan terlahir dari ibuku yang saat ini? Jadi kak Rio bukan kakakku yang sebenarnya? Apa ini benar? Atau om Mario salah? Lalu selama ini aku mencintai Rissa karena memang ia adikku? Lalu saat ini aku menjalani cinta terlarang?
“Papa yang bener pah? Papa gak bohong kan pah?” Rissa mencoba mengklarifikasi semua ini.
Benar Rissa, papa gak bohong. Satria adalah kembaran kamu. Yang ada di photo itu.” Om Mario menunjuk kepada photo keluarga yang terpajang di ruangan ini.
“Jadi aku ini kakaknya Rissa om?”
Iya Satria, kamu anak om. Lalu selama ini kamu tinggak dengan siapa?”
“Aku tinggal bersama Bapak Adrian dan Ibu Martha om.”
“Besok om akan ke rumah kamu bersama Rissa. Akan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tua kamu yang sekarang. Om ingin kamu tinggal disini bersama om dan juga Rissa.”
“Iya om. Tapi bagaimana aku bisa berpisah dengan keluarga ini?”
“Setelah satu bulan kamu dan Rissa dilahirkan, kamu tiba-tiba menghilang, dan diduga dibawa kabur oleh pembantu kami yang dulu. Om dan tante berusaha mencari kamu, sudah dengan berbagai cara. Tapi kamu tetap tidak diketemukan. Dan pada akhirnya kami menemukan kamu sekarang. Tapi sayangnya disaat tante sudah pergi.”
“Tapi gak apa-apa om, Satria seneng akhirnya Satria bertemu dengan keluarga Satria yang sesungguhnya.”
“Yaudah berarti sekarang aku panggilnya kakak, terus kak Satria panggil papa jangan om lagi.” Rissa tersenyum, dan aku membalasnya dengan anggukan.
“Iya adikku sayang.” Aku dan Rissa saling berpelukan. Aku senang sekali.
“Hahaha ternyata dunia ini sempit ya.” Papa tertawa. Dan kami semua tertawa.
“Aku pulang dulu ya, udah malem. Gak enak. Oh iya pah, jangan lama-lama ya dateng ke rumahnya, pengen cepet-cepet serumah sama adik yang paling cantik itu. Hehehe”
“Huu dasar.” Rissa menjulurkan lidahnya.
“Besok aku jemput de, kita berangkat sekolah bareng.”
“Siap kak.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
                Sepanjang perjalananku ke rumah, aku tersenyum sendiri. Ternyata Rissa adalah adikku. Bahkan kembaranku. Aku tak habis pikir atas kejadian ini.
                Tapi aku bersyukur aku tetap bisa bersama Rissa, bahkan sebagai adikku. Dan cintaku kepadanya akan tetap tumbuh di hati ini, tetapi sekarang berganti menjadi cinta sebagai adikku yang sesungguhnya. Aku akan menjaga Rissa. Sekarang aku akan menjadi lebih mudah membuatnya selalu tersenyum. Dan aku akan lebih sering memeluk tubuhnya. Karena aku dan Rissa itu muhrim.
Tuhan terimakasih engkau telah memberikan aku cinta untuk mencintai Rissa, karena ternyata Rissa adalah adikku. Aku bersyukur sekali akan hal itu. Terimakasih Tuhan Engkau telah membawaku kepada keluargaku yang sesungguhnya. Aku sangat bahagia. Tuhan berilah selalu kebahagiaan untuk kedua orang tuaku yang telah merawatku sejak kecil hingga kini aku bertemu dengan keluarga yang sebenarnya. Terimakasih banyak Tuhan. Aku selalu percaya bahwa Kau telah menyiapkan yang indah untukku.
                Rasanya seperti di dalam mimpi. Rissa yang selama ini aku kagumi dan yang selama ini aku cintai, ternyata adikku. Rasanya aku belum percaya ini terjadi. Aku masih merasa ini mimpi. Tapi aku sangat bahagia atas kejadian ini. Aku sangat bersyukur. Aku bisa selalu bersama Rissa tanpa membuang kebahagiaannya bersama Demas.
                Dan Demas akan menjadi adikku nanti, disaat Demas dan Rissa sudah menikah. Dan berarti sudah saatnya aku menunggu cinta yang tulus untukku. Bahkan mungkin aku akan mencarinya. Atau mungkin cinta itu memang dekat denganku.
                Apa reaksi orang-orang jika mengetahui aku dan Rissa satu keluarga. Bahkan kami kembar. Aku tak sabar menunggu reaksi mereka. Semoga saja mereka ikut senang dengan hal ini.
Aku mencintaimu sejak dulu.
Aku mencintaimu karena memang sudah waktunya.
Aku mencintaimu tulus karena aku memang benar menyayangimu.
Aku mencintaimu karena aku mengagumi sosok dirimu.
Tapi ternyata cinta ini terlarang.
Karena ternyata kau dan aku bersaudara.
Tapi aku akan tetap mencintaimu.
Tapi sebagai adikku. Bukan seperti kemarin.
Aku tak menyesal semua ini terjadi.
Justru aku sangat bersyukur.
Aku bisa memilikimu tanpa batasan waktu.
Dan aku bisa menjagamu sampai aku tiada.
Karena itu kewajibanku sebagai kakakmu.
Menjaga dan melindungimu.
Berterima kasihlah kepada Tuhan.
Yang telah mengizinkan semua ini terjadi.
                                               

                Hari ini Rissa dan papa akan datang ke rumahku untuk membawaku pulang ke rumah keluargaku yang sebenarnya. Sebenarnya aku tak tega melihat ayah dan ibu ku yang telah mengasuhku selama ini akan kutinggalkan. Tapi aku takkan meninggalkan apalagi melupakannya. Aku hanya bertempat tinggal di rumahku yang baru.
Tuhan tolong jaga ayah dan ibuku ini. Karena bagaimanapun mereka yang telah merawatku hingga aku seperti ini. Tuhan berilah selalu mereka kebahagiaan. Dan berikanlah selalu mereka kesehatan. Amin.
                Aku tak sabar menunggu Rissa datang. Sejak tadi aku tak pernah berpaling dari jendela itu. Aku ingin melihat kedangan Rissa dan papa. Aku sangat bahagia. Aku pikir selama ini ayah dan ibuku adalah orang tuaku yang sebenarnya. Tapi ternyata bukan. Tapi tetap saja mereka orang tuaku.
                Rissa menjadi adikku. Padahal aku sangat mencintainya. Pantas saja selama ini aku merasa nyaman bersama Rissa, karena memang aku dan Rissa kembar. Jika ku pikir-pikir ini semua lucu. Aku tak pernah mendugga semua ini. Tapi aku sangat senang karenanya.
                Jadi aku tak perlu lagi berusaha untuk mendapatkan Rissa. Rissa akan selalu bersamaku. Dalam satu atap. Bersama papa kami tercinta. Mario Surya Pratama.
                Akhirnya Rissa dan papa datang, bel rumahku berbunyi. Aku segera berlari membukakan pintu untuk mereka. Aku, Rissa, dan papa duduk bersama di ruang tamu. Lalu tak lama orang tuaku datang. 
                Perbincangan antara orang tua asuhku, dan orang tua asliku dimulai. Perbincangan yang serius. Dan sesekali ibuku meneteskan air matanya. Mungkin ia berpikir bahwa aku yang telah dirawatnya bertahun-tahun harus pergi meninggalkannya dan pergi bersama orang tua aslinya.
                Tapi aku telah berjanji akan mengunjunginya satu minggu sekali, bahkan setiap haripun aku bisa selalu mengunjunginya karena rumah kami saling berdekatan.
                Setelah berbincang begitu lama, akhirnya aku kembali kepada orang tuaku yang sebenarnya. Dan aku sangat bersyukur atas anugerah yang telah Tuhan berikan untukku.

Dan ternyata dunia ini sempit. Dan tak seluas yang aku bayangkan. Hahahaha.







Carissa
                Bumi berputar dengan semestinya. Dan pada porosnya. Begitupun planet-planet yang lainnya. Sudah ada jalurnya masing-masing. Dan karena jalur yang teratur itulah planet-planet bisa berputar dengan semestinya, tanpa harus menabrak planet yang lain. Tapi mereka akan saling bertabrakan pada suatu hari nanti. Yaitu kiamat.
                Begitupun dengan manusia dan takdir. Setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Aku dan Demas memiliki takdir yang berbeda. Dan karena takdir itulah kita bisa melakukan semuanya. Dan takdir itu akan selesai sampai akhirnya Tuhan rindu pada kita dan memanggil kita untuk kembali kepadanya.
                Ada takdir yang bisa kita rubah, dan ada juga yang sudah hakiki. Dan tidak bisa dirubah dengan apapun. Takdir yang bisa dirubah contohnya nasib. Nasib kita bisa diperbaiki dengan kerja keras, usaha dan doa tentunya. Tapi kematian adalah contoh takdir yang tidak bisa dirubah. Dan kita harus siap menghadapinya.
                Bahkan siap atau tidak kematian itu akan datang. Jodoh, sama dengan kematian. Takdir yang tidak bisa dirubah. Setiap manusia sudah mempunya jodohnya masing-masing, tinggal menunggu kapan saatnya ia akan datang. Dan tidak ada yang bisa mengetahui itu.
                Aku pun sama tidak pernah mengetahui siapa jodohku nanti. Tapi aku selalu berharap bahwa Demas lah yang menjadi jodohku.
                Aku sempat berpikir bahwa Satria lah yang akan menjadi jodohku nanti, karena aku selalu nyaman jika berada di dekatnya. Aku selalu bisa melewati masalahku berkat bantuannya, dan aku bisa menjadi lebih dewasa karena nasehat-nasehatnya.
                Tapi perkiraanku itu salah, karena ternyata Satria adalah kakakku. Satria adalah saudara kembarku yang telah lama hilang. Dan tidak tau dimana keberadaanya.
                Terkadang aku tertawa sendiri jika mengingat hal ini. Ternyata yang selama ini keluargaku cari ada di dekatku, bahkan aku pernah menyangka bahwa ia jodohku. Jika saja aku tau dari dulu, aku akan lebih senang karena ternyata sosok dewasa yang selalu membuatku tenang adalah saudara kembarku.
                Hidup ini penuh kejutan yang sebelumnya tak pernah kita duga. Entah itu kejutan yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Dan aku akan selalu mensyukuri setiap kejutan yang Tuhan beri untukku.
                Sekarang aku bisa dengan leluasa memeluk Satria, dan menceritakan semuanya kepada Satria. Pantas saja selama ini aku merasa nyaman, karena memang ternyata ia adalah saudaraku.
                Aku jadi lebih bahagia setelah kejadian ini, karena aku akan terfokus untuk bersama Demas, dan aku tidak akan lagi merasa terganggu dengan pikiranku yang suka menyangka bahwa aku menyayangi Satria.
                Saat ini keluargaku menambah satu anggota Satria Surya Pratama.
                Mario Surya Pratama, Karina Isabella, Carissa Bella, dan Satria Surya Saputra. Keluarga yang lengkap, dan telah menjadi utuh saat ini, meskipun mama sudah dipanggil oleh yang Maha Kuasa ke tempat yang lebih indah.
                Aku yakin mama juga merasa senang karena anaknya telah kembali dan berkumpul bersama keluarga kami.
Mama, mama senengkan mah berada disana? Mama udah ada di tempat yang paling indah kan mah? Mah Satria sekarang udah ada di keluarga kita mah. Aku seneng banget mah, aku jadi ada temen lagi setelah kepergian mama, mama juga senengkan mah? Mah aku selalu berdoa supaya mama selalu berada di tempat yang indah mah. Miss you.
                Kutatap langit yang penuh bintang. Dan mataku hanya tertuju kepada satu bintang yang menyendiri. Itu bintangku, dan bintang itu adalah mama saat ini. Aku sangat merindukan mama, aku ingin memeluk tubuh mama yang selalu wangi dengan aroma tubuh yang khas.
                Aku ingin mencium pipi mama yang sangat halus. Aku ingin menatap wajah mama yang selalu bersinar. Aku ingin berada di peluknya. Semalaman saja. Sampai aku merasa benar-benar nyaman. Aku merindukan mama.
                Tapi aku sudah ikhlas. Hanya saja aku merindunya saat ini. Dan sangat ingin memeluknya. Hanya itu saja.
Maafkan aku Tuhan. Bukan aku tidak bisa ikhlas akan takdir ini. Aku sudah ikhlas, karena aku tau ini yang terbaik. Hanya saja aku merindunya, dan ingin memeluknya. Biarkan aku berimajinasi bersama mama saat ini Tuhan. Dan jangan biarkan mama berada dalam tempat yang tidak menyenangkan Tuhan. Aku mencintai mama karena Engkau.
                Aku taku jika Tuhan menganggap bahwa kau belum bisa mengikhlaskan mama, karena itu akan membuat mama tersiksa nantinya, dan aku tak ingin mama menderita. Karena aku sangat menyayanginya.
“tok-tok-tok” Entah jemari siapa yang telah mengetuk pintu kamarku.
“Masuk aja gak dikunci.” Setelah ucapanku terhenti. Aku mendengar suara pintu yang terbuka. Dan suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekatiku.
“Dor!!!! Hayo lagi apa ade sayang?” Satria mengagetkanku. Dan berhasil membuat imajinasiku buyar dan membuatku loncat.
“Ih apa sih dari dulu sukanya ngagetin!! Bikin gak mood deh.” Jawabku manja. Mulut yang miringkan yang menandakan bahwa aku tak suka diperlakukan seperti itu.
“Maaf deh maaf kalau udah jadi badmood. Aku cuma mau hibur aja kok. Udah itu doang. Abisnya kamu kaya yang lagi galau.” Satria mencoba menggodaku dengan mencubit pipiku.
“Sorry yeee siapa lagi yang galau! Gak ada kata galau di kamus aku mah. Wlee.” Ku julurkan lidahku sambil berlari menuju kasur.
“Oyah? Masa siiihhhh?” Satria mengejarkanku dan mencoba menangkapku. Akhirnya ia berhasil menangkapku dan mencoba memelukku dari belakang.
“Ihhhh mau peluk-peluk ya. Bilang aja sih kesini mau peluk gitu.”
“Tapi suka kan?” Lagi-lagi Satria menggodaku. Dan kali ini aku kalah. Aku berhasil terhasut oleh rayuannya.
“Iya-iya. Aku kan sudak dipeluk. Tapi cuma sama yang muhrim, sama yang gak muhrim mah NO WAY !!”
“Hahaha dasar ade ku yang imuuuttt. Cerita dong de lagi apa? Mau ikutan berimajinasi sama kamu.”
“Mau tau aja apa mau tau banget?”
“Mau tau banget-banget deeehhh.”
“Yaudah, dengerin yah, aku lagi kangen sama mama, akunya pengen meluk mama. Aku mau kaya dulu lagi sama mama.”
“Yaa walaupun aku gak sedeket kamu ke mama, aku juga tetep sayang mama dan rindu sama mama. Aku yakin mama udaha da di tempat terindah yang Allah sediakan buat mama. Kita berdoa aja ya. Doa anak yang sholeh itu akan membantu mama de.”
“Makasih ya kakakku sayang. Makasih juga buat pelukannya, walaupun gak seenak pelukan mama. Hahaha.”
“Ah dasar manusia tak tau berterima kasih. Hahaha.”
                Tawa dan canda kami saat ini sangat membuat aku merasa lebih nyaman dari sebelumnya setelah kepergian mama. Lagi-lagi aku harus bersyukur karena Tuhan telah memberiku sesuatu yang membuatku merasa lebih tenang.
                Aku sangat percaya bahwa Tuhan pasti memiliki rencana yang indah untuk kita. Tinggal kita yang harus sabar menunggunya. Dan jangan pernah negative thinking kepada Tuhan. Tuhan selalu punya rencana besar untuk hambanya.
                Pelukan hangat Satria bisa membuatku menjadi lebih tenang. Meskipun yang aku harapkan adalah pelukan mama. Tak apalah yang penting aku bisa memiliki seseorang yang akan selalu memperlakukanku layaknya mama memperlakukanku dulu.
Syukuri setiap detik yang Tuhan beri untukmu. Syukuri setiap anugerah yang Tuhan beri untukmu. Dan syukuri bahwa betapa banyak orang yang mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar